Sejarah Hermeneutika

November 22, 2008 at 5:31 am (Kajian Sejarah Hermeneutika, Kuliah Bersama Abul Hadi WM)

‎Pendahuluan
Kata-kata hermeneutika atau hermeneutics dalam bahasa Inggris dipindahkan dari kata-kata ‎Yunani hermeneutice. Orang pertama yang memperkenalkan istilah ini ialah Homeros, pengarang epos ‎terkenal Iliad yang hidup sekitar abad ke-6 SM. Selang satu abad kemudian kata-kata itu digunakan ‎oleh Plato dalam karangan-karangan filsafatnya. Setelah itu perkataan yang sama muncul dalam ‎karangan-karangan Aristoteles dan para filosof madzab Stoa. Karena uraian mereka tentang ‎pentingnya hermeneutika dalam perbincangan filsafat cukup luas dan rinci, mereka lantas dipandang ‎sebagai peletak dasar hermeneutika dalam tradisi kecendikiawanan Barat. Pada abad ke-20, tokoh ‎yang dengan tegas merujukkan pengertian hermeneutika seperti dimaksud Homeros dan Plato ialah ‎Martin Heidegger.‎
Kata-kata hermeneutice itu sendiri berasal dari kata hermeneuin atau hermeneunia, yang ‎dibentuk dari kata Hermes, nama utusan yang dikirim oleh Zeus atau Yupiter ke bumi untuk ‎menyampaikan pesan ketuhanan kepada manusia. Dalam menyampaikan pesannya dia harus mampu ‎menerjemahkan pesan langit dalam bahasa manusia. Dengan demikian, menurut Heidegger, Hermes ‎berperan sebagai penghubung antara alam ketuhanan dan alam kemanusiaan. Peran yang disampaikan ‎ialah ‘kabar tentang adanya takdir’ (die Botschaft des Geschichtes) yang tidak terelakkan oleh manusia ‎yang hidup di muka bumi. ‎
Beradasarkan arti etmilologisnya itu, maka kemudian tafsir dalam bentuknya yang sarat ‎hikmah dan kearifan diberi arti sebagai kemampuan memahami berita tentang ketentuan Tuhan ‎‎(Palmer 2001). Menafsirkan ialah mendengar kata-kata tentang kebenaran dan setelah itu memperoleh ‎tugas mulia menjadi penghubung alam batin dengan alam lahir. Plato, dalam bukunya Ion, ‎menyamakan Hermes sang penyampai pesan ilahiah itu dengan seorang penyair atau pengarang, yang ‎melahirkan karyanya setelah menerima semacam ilham ketuhanan melalui meditasi dan kontemplasi.‎
Penjelasan tentang bagaimana hermeneutika diberi arti dalam kaitannya dengan tugas yang ‎diemban oleh Hermes itu dapat dilihat dalam buku Walter F. Otto The Homeric Gods: The Spiritual ‎Significance of Greek Religionn (1979). Otto menggambarkan bahwa Hermes adalah utusan dewa ‎yang tugas utamanya memberi petunjuk kepada manusia tentang bagaimana cara memahami pesan-‎pesan rahasia dari alam ketuhanan. Ia dapat disejajarkan dengan tokoh Pushan dalam kitab Veda yang ‎ditugaskan oleh Brahma atau Prajapati untuk membimbing manusia mencari harta karun yang disebut ‎kearifan agar dapat menyelamatkan hidupnya dari kesia-siaan. Dalam memainkan perannya itu ‎Pushan hanya menunjukkan tempat di mana harta karun terletak. Ia tidak menunjukkan jalan yang ‎harus dilalui agar sampai ke tempat harta karun itu berada. ‎
Dikaitkan dengan kisah Hermes dan Pushan itu, Otto mengatakan bahwa hermeneutika ‎dirancang agar teks dapat disingkap khazanahnya yang tersembunyi. Penafsiran dengan demikian ‎hanya berperan membimbing pembaca mengenal tempat harta karun alias tempat di mana makna itu ‎tersimpan alias disembunyikan.‎
Dari Plato ke Augustinus
Sekalipun Homeros yang memperkenalkan istilah hermeneutika pertama kali, namun adalah ‎Plato (429-347 SM) yang dipandang sebagai pengasas awal hermeneutika klasik. Melalui karangan-‎karangannya uraian tentang hermeneutika untuk pertama kalinya didapati secara jelas dan rinci. ‎Misalnya dalam bukunya seperti Politikos, Definitione, Ion dan Timaeus. Plato menggunakan kata-kata ‎hermeneutika sebagai tehnik dan kaidah penafsiran yang diperoleh melalui proses pengilhaman setelah ‎seseorang melakukan meditasi dan kontemplasi. Secara tersirat Plato menghubungkan hermeneutika ‎dengan spiritualitas. Karena itu tidak mengejutkan apabila pelopor hermeneutika modern menekankan ‎pentingnya asas metafisika atau asas batin teks dalam kegiatan penafsiran dan pemahaman.‎
Plato mempertentangkan arti hermeneutika dengan arti kata-kata sophia, dari mana perkataan ‎philosophia (filsafat) berasal. Filsafat menurutnya adalah suatu bentuk kearifan bercorak intelektual ‎yang dicapai melalui pemikiran spekulatif rasional. Sedangkan hermeneutika merupakan pengetahuan ‎religius atau ilmu yang bertalian dengan ilham keagamaan yang diperoleh secara illuminatif alias ‎penyingkapan kalbu. Dalam Definitiones dia mengatakan bahwa tugas hermeneutika ialah ‎‎‘menunjukkan sesuatu’, yaitu sesuatu yang tidak terbatas pada pernyataan atau penuturan verbal, ‎tetapi merangkum bahasa secara umum seperti hasil terjemahan, saduran, penafsiran wacana, gaya ‎bahasa dan retorika.‎
Dalam Timaeus, hermeneutika dikaitkan dengan peran seseorang yang memiliki wewenang ‎atas suatu kebenaran, yang tidak lain ialah para nabi atau utusan Tuhan yang berperan sebagai ‎penghubung Tuhan dengan manusia. Peranan itu dapat dilaksanakan dengan baik bilamana seorang ‎perantara mampu menafsirkan pesan keruhanian atau makna batin wacana dengan berpegang pada ‎etimologi. Dalam hermeneutika Plato seorang penafsir harus melakukan perenungan yang dalam dan ‎membersihkan kalbu bagi persiapan turunnya ilham. Kecenderungan Plato itu dapat dimengerti. Ketika ‎itu sedang terjadi krisis kewenangan dalam menafsir pesan keagamaan dari mitologi, yang merupakan ‎sumber pengetahuan tentang agama atau kepercayaan bangsa Yunani. Para penyair, yang sebelumnya ‎dipandang sebagai pemegang kewenangan menafsir mitologi, telah meninggalkan perannya. Mereka ‎mengganti hermeneutika dengan metode rasional logis yang menyebabkan hilangnya kesakralan ‎mitologi. ‎
Berbeda dengan Plato, adalah muridnya Aristoteles (384-322 SM) yang membangun sistem ‎filsafat dengan bertopang pada pemikiran rasional spekulatif dan logika formal yang berteraskan ‎silogisme. Dalam bukunya Peri Hermenia, ia mengemukakan pemikiran yang arahnya berbeda dari ‎Plato. Begitu pula arti yang diberikannya terhadap kata-kata atau istilah hermeneutika. Dalam bukunya ‎yang dalam bahasa Latin diterjemahkan menjadi De Interpretatione, ia melakukan penafsiran dengan ‎menggunakan metode logika seperti silogisme.‎
Sepeninggal Aristoteles, istilah hermeneutika menjadi bahan perbincangan para filosof dari ‎madzab Stoa yang dipelopori oleh Zeno (336-264 SM). Nama Stoa diambil dari kata stoa poikile atau ‎tiang penyangga dalam bangunan Yunani Kuna, tempat dia menyampaikan kuliah-kuliah filsafat ‎kepada murid-muridnya. Berbeda dengan Aristoteles yang menggunakan metode logika, filosof Stoa ‎mengembangkan hermeneutika menjadi tafsir alegoris. Metode logika yang diperkenalkan Aristoteles ‎disingkirkan, diganti dengan metode simbolik dan keruhanian. Para filosof Stoa menafsir teks atau ‎wacana dengan maksud mencari makna batin, bukan hanya makna harfiah yang bisa dicapai melalui ‎logika dan metode rasional. Dari hermeneutika alegoris ini lantas lahir pasangan doktrin inner logos ‎‎(makna batin) dan outer logos (makna lahir), agak mirip dengan doktrin surah dan ma`na dalam ‎Islam atau teori ch`ing dan ching di Cina yang diasaskan oleh Wang Fu Chih pada abad ke-17 M.‎
Perkembangan hermeneutika Stoa mencapai puncaknya dalam karya Philo dari Iskandariah ‎‎(20 SM-50 M), seorang Yahudi yang dianggap sebagai peletak dasar metode alegoris. Metodenya itu ‎diambil dari tradisi Midrash yang kemudian berpengaruh di kalangan patristika Kristen awal. ‎Upayanya itu dilakukan untuk membangun teori penafsiran yang lebih sistematik dan didorong oleh ‎hasrat menggali makna yang lebih dalam, yang tidak mungkin dicapai melalui tafsir harfiah. ‎Hermeneutika Philo berbeda dengan hermeneutika yang dimaksudkan oleh Plato yang didasarkan atas ‎metode dialektik, di mana dua orang yang berdialog saling melemparkan pertanyaan dan jawaban ‎secara bergantian. Kebenaran yang diperoleh melalui metode ini dipandang lebih mantap, karena dapat ‎mengurangi keraguan atau ketakjelasan yang mungkin timbul dari sebuah perkara yang dijelaskan. ‎
Tetapi metode yang digunakan Plato mirip dengan kaidah yang ditempuh para filosof Nyaya di ‎India seperti Rsi Gautama (abad ke-4 SM) dan Watsyayana (abad ke-3 SM). Kaidah yang ditempuh ‎disebut tarka-vidya (ilmu perdebatan) dan vada-vidya (ilmu diskusi). Mereka tidak puas dengan hasil-‎hasil yang dicapai melalui metode pengamatan langsung (pratyaksa pramana), dan melengkapi ‎kegiatan hermeneutika dengan tiga metode lain, yaitu metode penyimpulan secara logis (anumana ‎pramana), metode perbandingan (upama pramana), dan metode sabda (sabda pramana) yaitu dengan ‎merujukkan hasil penafsiran kepada Veda atau Samhita serta pandangan mahareshi yang dipandang ‎berwenang karena memperoleh pengetahuan berdasarkan proses pengilhaman.‎
Berbeda dengan para filosof Nyaya yang mencari makna batin wacana dengan menafsir ‎sumber-sumber dari teks yang otoritatif, para filosof Stoa tidak sepenuhnya menafsir berdasarkan ‎sumber-sumber teks atau informasi dari teks. Sebaliknya mereka lebih kerap menggunakan ‎pemahaman simbolik yang merujuk pada sesuatu di luar teks. Karena asas-asasnya yang lebih luas, ‎kelak metode ini lebih diterima di kalangan filosof dan patristika Kristen yang awal. ‎
Tokoh patristika Kristen awal yang melanjutkan tradisi hermeneutika Stoa ialah Origenes (185-‎‎254 M), yang berhasil menulis tafsir Perjanjian Lama menggunakan metode yang dikembangkan ‎oleh Philo. Dalam teorinya Origenes mengemukakan tiga lapis makna dalam Alkitab — literal, ‎alegoris, dan anagogis – yang dikaitkan dengan hubungan tiga kesatuan dari tubuh, jiwa, dan ruh, ‎dalam pribadi manusia. Tiga lapis makna itu mencerminkan tahapan-tahapan pencapaian dalam ‎memahami inti ajaran agama. Teori Origenes ini selanjutnya dikembangkan oleh Cassianus (360-430 ‎M) menjadi teori empat lapis makna: literal atau harfiah, alegoris atau perumpamaan, moral, dan ‎anagogis atau batiniah.‎
Penafsiran alegoris ala Origenes dan Cassianus dalam upaya memahami Bibel ditentang oleh ‎sejumlah pemuka Kristen dari Antiokia, yang lebih menyukai penafsiran secara harfiah. Pengaruh ‎Aristoteles dengan demikian muncul lagi. Seperti Aristoteles dalam Peri Hermenia-nya, patristika ‎Antiokia menafsir teks dengan menekankan pada aspek logika dan semantik. Sebelumnya metode ‎Aristoteles ditolak karena dipandang membahayakan keimanan Kristen. Kini metode ini diterima ‎sebagai tameng untuk menghadapi bahaya lain, yaitu hermeneutika kaum Gnostik dan Markonik yang ‎cenderung pada penafsiran simbolik dan spiritual.‎
Dari pertentangan itu lantas muncul seorang teolog dan filosof Kristen terkemuka St. ‎Augustinus dari Hippo (354-430 M. Dia menawarkan jalan tengah bagi kedua kelompok yang bertikai, ‎madzab Origenes dan Antiokia. Augustinus memberikan arti baru kepada hermeneutika dengan ‎memperkenalkan teori semiotik sebagai dasar penafsiran. Dengan berpedoman kepada makna dari ‎tanda-tanda simbolik dalam Bibel, ia ingin menahan terjadinya distorsi atas pembacaan alegoris dan ‎juga menekan lahirnya tafsir harfiah yang kelewat bersahaja dan dangkal. Ia menyarankan agar Bibel ‎dipahami dari sudut pandang teologi, bukan dari sudut pandang lain karena itulah memang maksud ‎pewahyuannya secara tersurat. Beberapa abad kemudian pandangan Augustinus dijadikan rujukan ‎penting oleh Wilhelm Dilthey, Heidegger, dan Gadamer, tiga tokoh utama hermeneutika modern. Di ‎antara aspek pemikiran Augustinus yang dianggap relevan oleh ketiga tokoh itu ialah pandangannya ‎bahwa tafsir Kitab Suci melibatkan peringkat pemahaman yang lebih dalam secara eksistensial. ‎Menurutnya bahasa harus dibedakan dari penafsiran, meskipun penafsiran juga menggunakan bahasa.‎
Namun seperti hermeneutika sebelumnya, hermeneutika Augustinus tidak luput dari kecaman ‎dan penentangan. Ini terutama karena konsepnya tentang Tuhan dan alam semesta masih bercampur ‎baur dengan Weltanschauung Yunani Kuna yang dipandang mengandung kekufuran oleh Gereja ‎ketika itu. Salah seorang penentang keras Augustinus ialah Vincent de Lerin (w. 450 M). Ia cenderung ‎menafsirkan Bibel secara harfiah sebagaimana ulama-ulama Kristen ortodoks. ‎
Dari Aquinas ke Chladenius
Perkembangan hermeneutika di Barat Kristen menemukan arah baru pada Abad Pertengahan ‎yang lazim pula disebut sebagai Zaman Scholastik atau Zaman Kaum Terpelajar. Tokoh utama zaman ‎ini ialah Thomas Aquinas (1225-1274 M). Seperti banyak terpelajar Kristen lain pada zamannya, ‎Thomas Aquinas mempelajari filsafat Yunani – khususnya karya-karya Plato, Aristoteles dan filosof ‎Neo-Platonis – melalui terjemahannya dalam bahasa Arab atau melalui karya filosof Muslim Persia ‎Arab seperti al-Farabi (870-950 M), Ibn Sina (980-1037 M), Imam al-Ghazali (w. 1111 M), dan Ibn ‎Rusyd (1126-1198 M). Bagi Thomas Aquinas pemikiran Aristoteles sangat menarik perhatiannya. ‎Tetapi di tangan filosof Muslim pemikiran Aristoteles itu telah dipadu sedemikian rupa dengan ‎pemikiran Plato dan Neo-Platonisme.‎
Kecenderungan pada Aristoteles itu tampak dalam karya masyhur Aquinas Summa Theologia. ‎Berangkat dari pemahaman Aristotelian, Thomas Aquinas mengatakan bahwa karena pengarang Bibel ‎sebagai kitab suci adalah Tuhan, maka pemahaman dan penafsiran terbaik ialah secara harfiah dan ‎rasional. Melalui cahaya metode harfiah dan rasional Thomas Aquinas menyusun sebuah teologi ‎Kristen yang berbeda dari teologi Augustinian yang lebih bercorak Neo-Platonis. Dengan demikian ia ‎terang-terangan menolak tafsir alegoris. Dalam jangka panjang pemikirannya dijadikan dasar ‎pandangan Gereja Katholik Romawi. Sekali pun demikian terdapat suatu pokok pembahasan penting ‎dan relevan dalam buku Aquinas itu yang menyebabkan ia diapresiasi oleh ahli-ahli hermeneutika ‎modern yaitu pembahasan tentang Wujud/Ada (Being), yang pada abad ke-20 M menjadi pokok ‎pembahasan Heidegger.‎
Memang, seperti dikatakan Werner (1991) hermeneutika Thomas Aquinas boleh dikatakan ‎sebagai teori penafsiran humanis yang sedang berkembang (the emerging humanist interpretation ‎theory), karena ia seolah-olah tampil sebagai akar pemikiran humanisme Renaisance dan Reformasi, ‎namun belum matang benar. Namun ada aspek lain yang menarik dari hermeneutikanya, yang relevan ‎untuk diberi perhatian. Aspek tersebut berkenaan dengan prosedur filologi kritis yang digunakan ‎dalam memahami teks. Aspek ini, walaupun ternyata pelik dan bercanggah, tumbuh menjadi aspek ‎penting dalam hermeneutika Schleiermacher, terutama yang berkenaan dengan kajian teks secara ‎tatabahasa.‎
Berdasarkan perkembangannya sejak Origenes hingga Aquinas, Britannica Concise ‎Encyclopaedia (2005) mengartikan hermeneutika Kristen sebagai “Kajian tentang asas-asas umum ‎tafsir Bibel. Tujuan utamanya ialah menyingkap kebenaran dan nilai-nilai Bibel yang dipandang ‎sebagai wahyu ilahi yang resmi.” Jadi ia merangkum empat jenis tafsir yang dikenal dalam tradisi ‎keagamaan dan kecendikiawanan Kristen, termasuk tafsir harfiah, tafsir alegoris, tafsir moral, dan ‎tafsir anagogis. Padanannya ditemui juga dalam tradisi Yahudi dan Islam, walaupun dengan asas-asas ‎yang berbeda termasuk asas teologinya.‎
Lantas bagaimana pemikir Renaisance dan Reformasi pada abad ke-15 dan 16 M melanjutkan ‎hermeneutika yang diasaskan oleh Thomas Aquinas? Sebenarnya hermeneutika Aquinas agak ‎bertentangan dengan asas-asas spiritual ajaran Gereja, terutama berkenaan dengan pandangan tentang ‎realitas yang mencakup realitas empiris dan transenden, namun karena pada masa itu persoalan Tuhan ‎dianggap kurang penting sebagai pokok pembahasan falsafah, maka hermeneutika Aquinas bisa ‎bertahan lama mempengaruhi pemikiran Gereja Katholik. Pemikir-pemikir Renaisance, dan terutama ‎tokoh-tokoh Reformasi Protestan pada awal abad ke-16 M seperti Martin Luther (1483-1556 M), ‎Ulrich Zwingli (1484-1531 M), dan John Calvin (1509-1564 M), kemudian seraya menentang Gereja ‎Katholik, mengambil banyak aspek penting dari hermeneutika Aquinas. Yang menjadi perhatian ‎mereka ialah penekanan Aquinas terhadap masalah kemanusiaan dibanding masalah ketuhanan. ‎
Tidak lama setelah lahirnya Protestanisme, sebuah revolusi di bidang ilmu pengetahuan mulai ‎melanda Eropa dan mempengaruhi arah hermenenutika. Di bawah pengaruh penemuan-penemuan ‎ilmiah Kepler, Copernicus, dan Galileo di bidang astronomi dan fisika pada awal abad ke-17 M, ‎terlebih-lebih dengan munculnya rasionalisme Descartes dan Newton tidak lama sesudahnya, ‎hermeneutika teologis perlahan-lahan mengalami kemunduran. Masalah pemahaman terhadap realitas ‎lebih banyak disorot dari sudut pandang filsafat, khususnya rasionalisme dan empirisme, serta dari ‎paham scientisme yang lahir dari keyakinan mendalam terhadap arti penting penemuan dan kajian ‎ilmiah.‎
Beralihnya arah hermeneutika dari teologi ke filsafat itu mulai tampak dalam pemikiran ‎Dannheucer, penulis buku Hermeneutica Sacra Sive Methodus exponendarum Sacram litterarum ‎‎(1654 M). Semakin jelas lagi perubahan itu dengan munculnya seorang filosof rasionalis murni ‎keturunan Yahudi dari Belanda Benedictus de Spinoza (1632-1677 M). Tokoh lain setelah generasi ‎Spinoza yang dipandang sebagai peletak dasar hermeneutika modern yang humanistik dan saintifik ‎ialah Giambattisto Vico, penulis buku Scienza nouva (1725 M). ‎
Tetapi semua ahli hermeneutik abad ke-17 dan 18 ini tetap dibayangi oleh pemikiran Martin ‎Luther, yang menambahkan dimensi lain bagi hermeneutika yaitu dimensi keimanan dan penghayatan. ‎Dalam memahami teks, menurut Luther, kita tidak bisa bersandar pada pandangan yang berlaku. ‎Makna tersembunyi dari teks hanya dapat diselami melalui penghayatan yang dalam, serta keyakinan ‎akan keberadaan Tuhan. Dalam proses pembacaan teks, dua persoalan inilah yang hadir sebagai ‎masalah pelik hermeneutika.‎
Berangkat dari pandangan tiga tokoh yang telah disebutkan itu – Spinoza, Vico dan Martin ‎Luther — Dannheucer memperluas wilayah hermeneutika dari kajian teologi menjadi pemahaman non-‎teologis. Obyek yang dipahami meluas ke wilayah lain di luar teks Bibel. Memang, Dannheucer masih ‎menyebut hermeneutika sebagai seni tafsir, tetapi bidang yang dijadikan wilayah kajian meliputi ‎masalah filsafat, ilmu pengetahuan, dan sastra. Sejak itu teks kitab suci dipandang setara ‎kedudukannya dengan teks-teks bukan keagamaan yang dihasilkan bukan melalui proses pewahyuan ‎atau pengilhaman, melainkan melalui daya upaya akal. ‎
Di tangan Spinoza kecendrungan baru kian tampak dengan jelas. Sebagai filosof dia ‎menggagaskan paham baru yang disebut determinisme ilmiah, dan menafsirkan alam semesta sebagai ‎mesin raksasa yang hukum-hukum atau ketentuan-ketentuannya tidak bisa diubah lagi. Bukan hanya ‎manusia, bahkan Tuhan juga tunduk pada ketentuan-ketentuan ilmiah dari mesin raksasa ini. Dalam ‎bukunya Tractatus thelologico politicus (Uraian tentang Politik Keagamaan). Spinoza menyatakan ‎bahwa hanya kebenaran rasional yang dapat dijadikan ukuran salah benarnya eksegesis atau ‎penafsiran Bibel. Dipertajam dengan pengaruh pemikiran rasionalis Jerman awal abad ke-18 M seperti ‎Christian Wolf, Baumgarten, dan Semler, semuanya adalah teolog dan filosof, maka hermeneutika ‎lantas berkembang menjadi pengantar disiplin ilmu tafsir. Hermeneutika baru ini menentang keras ‎penafsiran yang didasarkan atas metode rasional dan ilmiah. Ini tampak dalam kecaman mereka ‎terhadap penafsiran sinkronistik atas teks yang biasa dilakukan oleh teolog-teolog ortodoks Protestan. ‎
Sebagai gantinya mereka mengajukan corak penafsiran diakronik, yaitu pembacaan teks ‎dengan melihat pengertian historis dan harfiah teks. Dua aturan penting dalam menafsir teks harus ‎dipatuhi. Pertama, penafsir harus menyadari jarak historis antara dirinya dan teks yang dikaji; kedua, ‎hermeneutika Bibel harus menghormati aturan universal dalam menafsir teks, yaitu dengan mengikuti ‎ketentuan-ketentuan yang diterima secara rasional dan logis. Dengan demikian sakralitas teks dan ‎unsur-unsur spiritual yang tersembunyi dalam teks dipreteli sedemikian rupa. Dengan perkataan lain ‎melalui penafsiran seperti itu reduksionisme tidak terelakkan ‎
Segi penting lain dari hermeneutika Spinoza ialah usulnya agar seorang penafsir membekali ‎diri dengan mengenal cakrawala sejarah teks, yaitu corak dan semangat pemikiran ketika teks ditulis. ‎Ia juga mengatakan bahwa terdapat analogi antara memahami kehidupan dan memahami kitab suci. ‎Pemahaman kita, menurutnya, hanya bagian kecil di tengah dunia pemahaman secara keseluruhan. ‎Agar supaya penafsiran kita tidak dangkal dan pemahaman mendalam, dalam memahami dan ‎menafsir teks diperlukan apa yang disebut lingkaran hermeneutik (hermeneutics circle). Lingkaran ‎hermeneutik ialah gerak maju ke depan dan kemudian kembali lagi ke belakang dalam proses ‎pembacaan teks. Gerak melingkar atau berputar ini juga dapat diartikan sebagai gerak dari pemahaman ‎sebagian menuju pemahaman secara keseluruhan, dan kemudian kembali lagi kepada pemahaman ‎sebagian. Filologi dan tata bahasa merupakan sarana penting dalam lingkaran hermeneutik ini, sebab ‎apa saja yang tidak dapat diperoleh melalui pemahaman langsung, bisa diperoleh melalui ‎penyingkapan secara filologis dan tata bahasa. Kecuali itu mempelajari sejarah pemikiran merupakan ‎bagian penting yang tidak terpisahkan dalam proses penyingkapan makna hermeneutik dan ‎penggunaan bahasa.‎
Tokoh yang tidak kalah penting dalam memberikan dimensi baru kepada hemeneutika ialah ‎Johan Martin Chladenius. Dalam bukunya Einleitung zur richtigen Auslegung vernunftige Reden und ‎Schriften (1742) ia membedakan hermeneutika dari logika. Ia menulis bukunya itu dengan bertolak ‎dari pemikiran Leibniz dan Wolf, dua filosof rasionalis awal abad ke-18 yang terkemuka. Menurut ‎Chladenius, dalam upaya memahami dan menafsir teks apa saja, sudut pandang sangatlah penting. Dia ‎memulai hermeneutikanya dengan menerokai tipologi sudut pandang dari mana seseorang berangkat ‎dalam melakukan penafsiran dan pemahaman. Dengan cara itu dia ingin menjelaskan bagaimana ‎keanekaragaman persepsi bisa terjadi dalam memandang gejala kehidupan yang sama dan persoalan ‎yang ditimbulkannya. Karena menggunakan sudut pandang tertentu seseorang dapat mengalami ‎kesukaran dalam memahami suatu teks atau karangan, terutama teks-teks atau karangan yang lahir ‎dari tradisi kebudayaan lain. Misalnya seorang Eropa abad ke-17 yang ingin memahami teks-teks India ‎abad ke-10 atau teks Persia abad ke-13, akan menemui banyak kesulitan jika bertolak dari sudut ‎pandang atau norma-norma yang berlaku dalam masyarakat Eropa pada abad ke-17.‎
Chladenius mengajukan model penafsiran yang bercorak didaktis dan kognitif dalam prosedur. ‎Apabila seseorang membaca teks, menurutnya, mula-mula sekali ia akan merasa asing dan tampak ‎betapa banyaknya kesamaran tertera dalam teks yang dibacanya. Untuk mengatasi persoalan ini ‎seseorang harus mengetahui hal-hal tersembunyi dan asumsi-asumsi prareflektif yang mendasari sudut ‎pandang yang digunakan, sebab pada umumnya kesukaran memhami hal-hal yang samar dan asing ‎dari teks bersumber darinya. Jika praduga dan asumsi pra-reflektif bisa disingkirkan, maka ada ‎peluang bagi kita untuk melahirkan pemahaman yang efektif dan benar. Di tangan Chlaedianus, ‎hermeneutika bahu membahu dengan epistemologi. ‎
Vico, Ast dan Wolf
Pada abad ke-18 M hermeneutika memperoleh bentuknya yang jelas setelah meningkatnya ‎minat kaum terpelajar terhadap ilmu kemanusiaan atau humanirora (Geistenwissenschaft), serta ‎berkembangnya kajian atas teks klasik, khususnya karya Yunani Kuna dan Romawi, dan baru ‎kemudian teks-teks Arab dan Ibrani hingga teks-teks Asia lain seperti Persia, dan India. Selain sejarah ‎agama dan kebudayaan serta epistemologi, pada masa itu filologi dan tata bahasa menjadi pilar utama ‎perkembangan hermeneutika. Timbulnya dua aliran filsafat penting ketika itu, yaitu idealisme dan ‎romantisme, mendorong pesatnya perkembangan hermeneutika. Idealisme dan romantisme muncul ‎sebagai reaksi terhadap tiga aliran filsafat yang mulai dominan pada abad ke-18 yaitu rasionalisme, ‎empirisme dan scientisme.‎
Di antara penganjur idealisme dan romantisme terdapat banyak sastrawan. Dari pemikiran ‎kelompok inilah hermeneutika filsafat, dan cabangnya hermeneutika estetik, muncul dalam arti ‎sebenarnya. Di antara tokohnya ialah Herder, Schlegel bersaudara, dan Novalis, seorang sastrawan ‎Jerman terkemuka abad ke-18. Bangkitnya hermeneutika baru ini, dan perhatian yang mulai diberikan ‎kepada estetika, tidak terlepas dari pemikiran Kant dan Hegel. Dalam pemikiran dua filosof inilah ‎masalah-masalah yang berkenaan dengan estetika tampil sebagai bahan perbincangan penting dalam ‎filsafat, dan dengan demikian juga sastra, karena sastra merupakan ungkapan estetis. Tetapi tugas ‎untuk merumuskan hermeneutika lebih jauh berada di tangan dua tokoh hermeneutika terkemuka abad ‎ke-19, yaitu Schleiermacher dan Wilhelm Dilthey.‎
‎ Terdapat tokoh hermeneutika abad ke-18 yang tidak kalah penting di samping Chladenius, ‎yang sangat menentukan arah perkembangan hermeneutika pada abad ke-19. Tokoh itu ialah ‎Gimbattisto Vico. Dia masyhur berkat karyanya Scienza nuova (1725). Vico mengembangkan ‎pemikiran benar-benar di luar tradisi rasionalis dan empiris. Hermeneutikanya berseberangan dengan ‎rasionalisme Cartesian dan positivisme Comte yang muncul pada awal abad ke-19. ‎
Menurut Vico, pemikiran selalu berakar dalam konteks kebudayaan yang berkembang dalam ‎suatu masyarakat. Konteks ini berkembang terus dalam perjalanan sejarah suatu masyarakat. Secara ‎instrinsik pula perkembangan itu berkaitan dengan tahap-tahap perkembangan bahasa. Bahasa, ‎menurut Vico, berkembang dari tahapan bahasa mitos dan puisi. Dari tahapan ini ia memasuki fase ‎berikutnya yaitu tahapan abstraksi teoritis, yang darinya muncul perbendaharaan kosa kata yang ‎bersifat teknis. Bahasa percakapan sehari-hari adalah buah dari tahapan yang ketiga. Karena asal-usul ‎bahasa bertalian dengan sejarah pemikiran maka untuk memahami seseorang kita harus pula ‎memahami silsilah cakrawala pemikirannya. Demikian pula apabila kita ingin memahami karangan ‎seorang pengarang, kita harus berusaha pula memahami pemikirannya. Lebih jauh ia berpendirian ‎bahwa seperti pemahaman terhadap diri kita sendiri, pemahaman secara umum tidaklah memerlukan ‎hukum dan dalil tertentu seperti proposisi. Hermeneutika dengan demikian terbuka kepada banyak ‎teori dan menolak ketentuan ilmiah yang ketat.‎
Pada awal abad ke-19 M hermeneutika rasional yang dirumuskan Vico memperoleh bentuk ‎baru. Terutama dengan munculnya ahli teologi terkemuka Friedrich Ast dan Christian Wolf. Dalam ‎bukunya Grundlinien der Grammatik Hermenutik und Kritik (Unsur-unsur Tatabahasa, Hermeneutik ‎dan Kritik Teks) Ast menekankan pentingnya filologi dalam hermeneutika. Tujuan penelitian filologi ‎yang sebenarnya, menurut Ast, ialah memahami jiwa (Geist) kebudayaan di mana teks itu dilahirkan. ‎Tatabahasa dan data empiris adalah sarana untuk memahami teks lama. Kita dapat memahami teks, ‎menurut Ast, apabila kita dapat memahami kesatuan jiwa (Einheit des Geistes) atau semangat manusia ‎yang melahirkan teks tersebut. Kesatuan jiwa inilah yang menjadi pangkal munculnya apa yang ‎disebut ‘lingkaran hermeneutik’ (hermeneutics circle), dan jiwa yang terkandung dalam teks itu yang ‎membuat sebuah teks berarti atau penuh makna.‎
Isi jiwa itu diekspresikan melalui bahasa. Bahasa itu merupakan sarana penyampaian nilai-nilai ‎ruhani, dibanding sekadar penyampaian informasi atau fakta-fakta yang dialami. Menurut Ast bahasa ‎dikenal strukturnya melalui tata bahasa, namun menganalisis tata bahasa saja tidak cukup. ‎Hermeneutika berbeda dari tata bahasa, sebab hermeneutika ialah teori mencukil makna dari teks. Ast ‎membagi pemahaman atas teks ke dalam tiga peringkat atau tahapan: (1) Pemahaman historis, yaitu ‎pemahaman berdasarkan perbandingan teks dengan teks lain. Ini masih berlaku di kalangan ahli ‎filologi hingga sekarang; (2) Pemahaman ketatabahasaan, yang ditujukan kepada pemahaman makna ‎kata dalam teks; (3) Pemahaman spiritual atau simbolik, yang merujuk kepada semangat, wawasan, ‎kejiwaan, dan pandangan hidup pengarang, namun telah terbebas dari konotasi teologis dan psikologi. ‎Inilah antara lain yang dikemukakan tokoh ini dalam bukunya Grundleinen der Grammatik, ‎Hermeneutik und Kritik.‎
Menurut Ast lagi, jiwa suatu kebudayaan seperti Romawi dan Yunani, senantiasa diekspresikan ‎dengan cara aneka ragam. Begitu pula jiwa kebudayaan lain seperti Cina, India, Islam atau Arab-‎Persia. Karena itu apabila kita ingin memahami jiwa Romawi dan Yunani, kita mesti memahami ‎karya-karya Romawi dan Yunani. Setiap teks dari kebudayaan yang berbeda-beda memerlukan corak ‎penafsiran tersendiri. ‎
Di sini dia mengajukan tiga corak pemahaman karya sastra: (1) Pemahaman isi karya; (2) ‎Pemahaman bahasa; (3) Pemahaman jiwa pengarang dan Zeitgeist, yaitu jiwa kebudayaan secara ‎umum. Jiwa kebudayaan secara umum ini diungkapkan dalam norma-norma dan teori sastra tertentu, ‎wawasan estetika, pemikiran keagamaan, filsafat ilmu, dan lain sebagainya. Di sana niscaya dijumpai ‎dasar-dasar pandangan hidup (way of life), gambaran dunia (worldview), sistem nilai, dan lain ‎sebagainya yang berlaku dalam suatu masyarakat pada zaman tertentu. Sejalan dengan tiga tingkat ‎pemahaman itu dia mengajukan pula tiga tingkat penjelasan. Hermeneutika sebagai teori pemahaman ‎dan teknik penafsiran lantas ia bagi menjadi tiga pula: (1) Hermeneutika harfiah; (2) Hermeneutika ‎makna; (3) Hermeneutika Geist atau jiwa/semangat keruhanian yang melatari kelahiran sebuah teks.‎
Tokoh penting lain yang memberi jalan lebih lebar bagi munculnya hermeneutika modern ialah ‎Christian Wolf. Dalam penelitiannya dia menemukan dua aspek penting dari hermeneutika, yaitu ‎memahami dan menjelaskan. Pemahaman diperuntukkan bagi diri sendiri, sedangkan penjelasan ‎diperuntukkan bagi orang lain. Dia mengusulkan sebuah hermeneutika yang lebih praktis dan faktual. ‎Hermeneutika lain yang diusulkan ialah hermeneutika regional. Dalam hermeneutika regional atau ‎kawasan setiap obyek diteliti berdasarkan himpunan aturan dan kaidah yang dimiliki masing-masing ‎obyek. Kebudayaan Melayu hanya dapat diteliti berdasarkan aturan-aturan yang tersirat dalam ‎kebudayaan Melayu. Demikian pula dengan kebudayaan Jawa, Persia, Cina, India, dan lain ‎sebagainya.‎
Wolf membagi hermeneutika ke dalam tiga peringkat. Pertama, penafsiran secara tata bahasa. ‎Kedua, penafsiran sejarah. Ketiga, penafsiran falsafah. Yang pertama menelusuri segala sesuatu ‎berkaitan dengan bahasa agar supaya teks bisa diberi arti. Penafsiran sejarah mencari latar sejarah ‎karya dan pengarang. Penafsiran filsafat mengendalikan nalar dalam rangka membantu dua penafsiran ‎sebelumnya.‎
Schleiermacher
Melalui uraian yang telah dipaparkan tampak jelas bahwa hingga akhir abad ke-18, tokoh-‎tokoh hermeneutika di Eropa kurang memberi perhatian pada persoalan estetika dan sastra. Filosof ‎yang mulai mengemukakan pentingnya sastra sebagai pokok penelitian hermeneutika ialah Ernst ‎Daniel Schleiermacher (1768-1834). Pemikirannya dipandang menandai babakan baru dalam sejarah ‎hermeneutika, sekaligus awal kemunculan hermeneutika filsafat. Dua karyanya yang penting ialah ‎Darstellung des Theologischen Studiums (1811) dan terjemahan Inggris antologi karangannya ‎Hermeneutics: The Handwritten Manuscripts (1977). ‎
Schleiermacher adalah seorang teolog, ahli filologi dan budaya. Dia adalah guru besar teologi ‎dan filsafat di Universitas Halle yang terkenal di Jerman. Pemikiran dalam bukunya itu merupakan ‎perluasan dari kuliah-kuliah yang pernah dia sampaikan kepada mahasiswa-mahasiwanya sejak tahun ‎‎1805. Sumber pemikiran Schleiermacher aneka ragam. Di antaranya ialah epistemologi Kant, ‎idealisme Schelling, Fichte dan Hegel, dan empirisme Inggris. Dari epistemologi Kant dia mengambil ‎uraian tentang peran akal atau nalar murni dalam memeroleh pengetahuan yang benar. Idealisme ‎Schelling yang diambil ialah pandangannya tentang identitas pribadi yang memengaruhi corak sebuah ‎karya, khususnya sastra. Karena menekankan pada pentingnya nilai subyektif dari teks, dia sering ‎dipandang sebagai filosof romantik. Tetapi itu tidak seluruhnya benar, karena bagaimana pun juga ‎adalah pemikiran Kant yang menempati peran utama dalam hermeneutikanya.‎
Bagi Schleiermacher, hermeneutika merupakan sebuah teori pemahaman dan karena pokok ‎pemahaman adalah teks yang ditulis melalui sarana bahasa, maka bahasa hadir sebagai bagian penting ‎dari keseluruhan sistem hermeneutikanya. Karena bahasa berkaitan dengan kebudayaan, maka ‎memahami suatu teks berarti juga upaya memahami suatu kebudayaan. Jika teks sastra berasal dari ‎kebudayaan Jerman, maka dituntut pula kita mempelajari kebudayaan Jerman, terutama aspek-aspek ‎yang berkaitan dengan kesusastraannya. Contohnya romantisme Inggris, Jerman, Perancis, dan ‎Belanda masing-masing memiliki ciri berbeda karena dibentuk berdasarkan pengaruh-pengaruh ‎kebudayaan yang berbeda.‎
Dalam memahami kebudayaan lain, menurut Schleiermacher, tidak sama caranya dengan ‎memahami kebudayaan sendiri. Ia menuntut keterbukaan terhadap fakta bahwa apa yang kita lihat ‎seolah rasional. Benar, dan koheren selama ini, ternyata terasa asing bagi teks dari kebudayaan lain. ‎Keterbukaan hanya mungkin terjadi apabila kita bersedia meneliti secara runut dan cermat prasangka-‎prasangka yang tersembunyi dalam pemahaman kita. Sekalipun demikian ia menentang hermeneutika ‎yang terlalu longgar, sebagaimana hermeneutika yang terlalu ketat. Hermeneutika yang terlalu longgar ‎bisa membawa kita keluar jauh dari tujuan pemahaman, sedangkan hermeneutika yang ketat tidak ‎menjamin tumbuhnya pemahaman yang adil dan sesuai.‎
Kembali kepada pemikiran Schleiermacher tentang bahasa. Uraiannya baik tentang ‎hermeneutika maupun tentang bahasa bertolak dari pemikiran filsafatnya tentang asal-usul bahasa. ‎Bahasa menurutnya tidak harus diterangkan sebagai sesuatu yang bersumber dari Tuhan, juga tidak ‎harus ditelusuri pada keperluan masyarakat primitif untuk mengekspresikan perasaan dan hasratnya ‎berkomunikasi dengan orang lain dalam kaumnya. Schleiermacher lebih cenderung memahami bahasa ‎sebagai sesuatu yang identik dengan pikiran. ‎
Sebagai media yang identik dengan pikiran maka bahasa merupakan asas atau landasan dari ‎kejiwaan manusia dalam mengambarkan dunianya. Di sini bahasa secara khusus bertalian dengan ‎kesadaran diri manusia dan upaya untuk membedakan antara hasil pengalaman yang diperoleh melalui ‎penyerapan indera dan bentuk-bentuk perasaan serta keinginan. Bahasa, dan juga pikiran, pada ‎dasarnya bersifat sosial, kendati bahasa batin tidak sepenuhnya tergantung pada dorongan atau ‎keadaan sosial. Dalam bahasa terangkum kecenderungan akan komunikasi.‎
Bahasa dan pikiran menurut Schleiermacher tidak berperan semata sebagai tambahan pada ‎proses kejiwaan manusia. Bahasa justru memberi watak tertentu kepada proses kejiwaan manusia, ‎khususnya dalam membangun struktur gambaran tentang dunia dengan berbagai cara. Itulah sebabnya ‎dia berpendapat, terutama pada tahapan awal pemikirannya, bahwa untuk menentukan ciri-ciri ‎pemikiran suatu masyarakat dapat dilihat melalui ekspresi kebahasaan seperti karya sastra. Pandangan ‎ini sejalan dengan pendirian Kon Fu Tze, dalam kitabnya Lun Yu (Analects), yang menyatakan bahwa ‎bahasa menunjukkan bangsa.‎
Telah dikemukakan bahwa Schleiermacher banyak dipengaruhi Ast dan Wolf. Pandangan Ast ‎ia padukan dengan pemikirannya tentang bahasa dan kaitan bahasa dengan proses kejiwaan manusia ‎dalam menggambarkan dunianya. Karena itu dalam mengamati sebuah teks, khususnya karya sastra ‎atau filsafat, ia melihat dari dua sudut: sudut luar dan sudut dalam, yaitu sudut bentuk luar dan sudut ‎bangunan batinnya. Sudut luar ialah tata bahasa dan kekhasan linguistik lain yang dimiliki sebuah teks ‎atau penuturan. Sudut dalamnya ialah Geist (jiwa). Hubungan ketiga aspek itu erat sekali dan tidak ‎dapat dipisahkan. Hermeneutika yang benar tidak boleh memilah ketiganya dan memandangnya ‎sebagai sesuatu yang terpisah. Berdasarkan pandangannya itu ia membagi tahapan hermeneutika ke ‎dalam tiga peringkat: (1) Hermeneutika huruf/kata (hermeneutik des Buchstabens); (2) Hermeneutika ‎makna (Hermeneutik des Sinnes); (3) Hermeneutik aspek kejiwaan (Hermeneutik des Geistes). Jika ‎tahapan ini dipenuhi maka kita boleh berharap mencapai makna batin dari teks yang kita kaji. Arti atau ‎makna bukanlah sekadar isyarat yang secara instrinsik dibawa oleh bahasa, sebab bahasa dalam ‎dirinya dapat menunjukkan dan menyembunyikan makna. Dengan kata lain bahasa adalah rumah dari ‎makna-makna, sebagaimana dikatakan oleh Abdul Qahir al-Jurjani seorang teoritikus sastra Arab-‎Persia abad ke-12 M.‎
‎ Lebih jauh mengenai bahasa, Schleiermacher menyatakan bahwa dalam kenyataan bahasa ‎itu senantiasa berada antara dua keadaan yang sama ekstrim, yaitu antara individualitas yang radikal ‎dan universalitas yang radikal. Dua keadaan ini pun tidak pernah hadir dalam bentuknya yang murni, ‎sehingga menimbulkan persoalan bagi pemahaman dan penafsiran. Semua bahasa yang dipahami ‎merujuk kepada tata bahasa dan perbendaharaan kata yang bersifat simbolik, namun dalam rangka ‎pemahaman kita bisa menggunakan cara beranekaragam. Bahasa puisi cenderung individual, ‎sedangkan bahasa ilmiah dan percakapan – misalnya pembicaraan tentang cuaca dan iklim — sifatnya ‎kurang individual. Sekalipun demikian hendaknya diperhatikan bahwa individualitas penggunaan ‎bahasa tidak selamanya menyentuh lapisan pemikiran yang mendalam. Kadang penggunaan bahasa ‎bersifat individual untuk kepentingan ornamentasi, penyajian gaya bahasa yang memikat, cara ‎pengucapan yang menarik, dan lain sebagainya.‎
Berkenaan dengan analisis bahasa teks, Schleiermacher menyarankan agar kita mau ‎memadukan penafsiran tata bahasa dan teknis. Hanya saja tidak ada kaidah khusus dalam upaya ‎memadukan keduanya. Yang dapat dilakukan hanyalah dengan membanding sebuah teks dengan teks ‎lain dari periode yang sama, atau karangan penulis yang sama, sambil menjaga keunikan teks yang ‎dikaji. Ia yakin bahwa seorang ahli hermeneutika yang piawai memiliki kesanggupan bergerak dari ‎yang khusus ke yang umum, dan sebaliknya. Atau dari bagian-bagian menuju keseluruhan, kemudian ‎kembali lagi kepada bagian-bagian. Ini dapat dilakukan dengan memadukan pendekatan bandingan ‎dengan hipotesa-hipotesa yang dibangun sendiri secara kreatif. Melalui pemahaman ini ia mencipta ‎dua bentuk hermeneutika: (1) Pemahaman ketatabahasaan; (2) Pemahaman psikologis yang ditujukan ‎kepada jiwa pengarang. ‎
Berdasarkan ini dia dipandang sebagai seorang romantik dan sekaligus realis idealistis. ‎Hermeneutikanya merupakan gabungan hermeneutika rasional dan intuitif, yang kerap disebut sebagai ‎hermeneutica intelligendi, karena penalaran rasional dan intuisi merupakan dua bentuk kecerdasan ‎tertinggi yang dimiliki manusia. Sekalipun individualitas pengarang merupakan tumpuan utama ‎hermeneutikanya, namun ia mempertimbangkan pula pentingnya konteks kesejarahan dan budaya ‎pengarang.‎
Schleiermacher menentang kecenderungan umum pemikiran intelektual pada zamannya, yang ‎kelewat rasional di satu hal dan terlalu mengutamakan pengetahuan empiris di lain hal. Khususnya ‎sebagaimana tercermin dalam pembakuan kajian sastra yang menggunakan metode obyektif mekanis, ‎yang ditiru dari metode ilmu pengetahuan alam. Kritik sastra dari paham klasisisme ini dipandang ‎mandeg karena tidak membuahkan pemahaman yang mendalam atas karya sastra. Kecuali itu kritik ‎semacam itu melupakan semangat yang melatari penciptaan karya sastra.‎
Karya sastra selain merupakan perwujudan dari jiwa dan pribadi pengarangnya, juga ‎mencerminkan kebudayaan yang berkembang dalam masyarakat sezamannya. Karena kandungannya ‎adalah isi jiwa individual, dan sekaligus cerminan jiwa kebudayaan, maka karya sastra bukan obyek ‎yang mati, tetapi subyek yang hidup dalam proses pembacaan. Membaca teks sastra sebenarnya ‎merupakan bentuk dialog seorang pembaca dengan jiwa pengarang, sekaligus kebudayaan masyarakat. ‎Karena sebuah teks ditulis dalam bahasa tertentu yang khusus, maka hermeneutika harus bergerak dari ‎pemahaman filologis ke pemahaman akal intuitif.‎
Prosedur pemahaman yang diajukan Schleiermacher agak bersahaja. Sebelum pemahaman dan ‎penafsiran dimulai, prinsip-prinsip pemahaman harus dirumuskan lebih dulu. Setelah itu baru kita bisa ‎membangun hermeneutika umum. Seorang pembaca yang ingin memahami sebuah teks, harus keluar ‎dari pendiriannya atau teori yang diyakininya benar, agar terbuka terhadap pendirian pengarang yang ‎mungkin berbeda dengan pendiriannya dalam berbagai persoalan, termasuk tentang estetika.‎
Sepeninggal Schleiermacher, hermeneutika mengalami perkembangan lanjut dalam pemikiran ‎Alexander von Humboldt, Chajim Steinthal dan Friedrich Carl von Savigny. Pada masa itu ‎hermeneutika berkembang menjadi disiplin yang terutama menarik minat ahli-ahli sejarah, teologi, dan ‎hukum. Penerapan hermeneutika mereka terkait dengan bidang-bidang yang dikuasai oleh masing-‎masing ahlinya. Pada akhir abad ke-19 muncullah tiga tokoh terkemuka yang begitu menentukan bagi ‎kelanjutan perkembangan hermeneutika. Mereka adalah Johann Gustav von Droysen, Leopold von ‎Ranke, dan Wilhelm Dilthey. Dari ketiga sarjana ini Wilhelm Dilthey yang paling terkemuka dan ‎dianggap sebagai peletak dasar sesungguhnya dari hermeneutika modern.‎
Melalui cara yang berbeda, ketiga sarjana ini kembali kepada persoalan yang telah diajukan ‎Vivo lebih satu abad sebelumnya. Yaitu bagaimana hermeneutika dapat diterapkan untuk menjamin ‎obyektivitas hasil kajian mereka dalam bidang ilmu kemanusiaan atau humaniora. Namun apabila ‎Vico tertarik pada bidang kebudayaan dan sejarah dalam artian luas, kini ahli-ahli hermeneutika ‎menciutkan lingkup hermeneutika pada bidang-bidang ilmu tertentu yang lebih khusus. Persoalan ‎utama yang dihadapi ialah bagaimana memberikan dasar-dasar yang kuat bagi ilmu kemanusiaan ‎mengikuti kerangka sistem pengetahuan yang berkembang di lembaga pendidikan tinggi. Sistem ‎pengetahuan yang berkembang ketika itu, terutama di universitas-universitas Eropa, didasarkan atas ‎cita-cita Pencerahan (Aufklaerung) yang memartabatkan penalaran kritis dan rasionalitas, dan tidak ‎mengacuhkan lagi tradisi, kanon-kanon penting di bidang teologi, otoritas keagamaan, dan lain ‎sebagainya.‎
Ricoeur dan Hermeneutika Modern
Perkembangan hermeneutika mencapai puncaknya pada abad ke-19 dalam pemikiran Wilhelm ‎Dilthey, sebagaimana akan diuraikan panjang lebar dalam bab ketiga buku ini. Setelah kepergian tokoh ‎ini, hermeneutika mengalami masa redup dalam rentang masa yang cukup lama. Baru sekitar setengah ‎abad setelah kepergiannya, hermeneutika mulai memperlihatkan tanda-tanda kelahirannya kembali. ‎Tokoh yang terlibat langsung dalam memberi nafas baru kepada hermeneutika pada abad ke-20 ialah ‎Martin Heidegger, filosof eksistensialis terkkemuka Jerman. Tetapi baru di tangan muridnya Hans-‎Georg Gadamer hermeneutika modern memperoleh bentuk dalam arti yang sebenarnya. ‎
Melalui karya besarnya Wahrheit und Method (Kebenaran dan Metode) Gadamer bukan saja ‎berjaya mengidupkan kembali hermeneutika, tetapi juga memberikan cakrawala baru yang relevan ‎bagi pemahaman bukan saja wacana tetapi juga kebudayaan dan sejarah pemikiran yang berbeda-beda ‎di dalam masyarakat yang berbeda-beda. Karena hermeneutika Gadamer akan juga diuraikan dalam ‎bab tersendiri dalam buku ini, dalam bab ini tidak perlu diuraikan lebih lanjut. Setelah munculnya ‎Gadamer bermunculan sejumlah pemikir hermeneutika lain. Yang terkemuka di antaranya ialah Emilio ‎Betti, Bultmann, Paul Ricoeur, Jurgen Habermas, Anthony Thiselton, Hirsch, Saskice dan lain-lain. ‎Teori resepsi Hans-Robert Jauss juga lahir dari kandungan hermeneutika yang diasaskan Gadamer, ‎karena ia sendiri adalah seorang dari murid Gadamer. Hermeneutika resepsinya ditulis berdasarkan ‎penelitiannya terhadap ‘pengalaman estetik’ pembaca sastra dalam masyarakat Eropa, khususnya ‎Jerman, yang berkembang dan berubah dari waktu ke waktu sejalan dengan berkembangnya estetika.‎
Tidak jarang pula teori dekonstruksi Derrida dimasukkan sebagai bagian dari gerakan ‎hermeneutika modern dengan memberinya ciri sebagai ‘hermeneutika radikal’ atau ‘hermeneutika ‎kecurigaan’. Tetapi tidak jarang pula yang menganganggapnya bukan bagian dari hermeneutika. ‎Karena itu pemikiran Derrida dan teori dekonstruksinya tidak akan dibicarakan dalam buku ini. Yang ‎relevan untuk dibicarakan dalam kaitan ini sebenarnya adalah Paul Ricouer. Tetapi atas pertimbangan ‎tertentu, hermeneutikanya tidak akan diuraikan secara khusus dalam buku ini
Hermeneutika modern sebagaimana diasaskan oleh Paul Ricoeur, juga Anthony Thiselton ‎untuk menyebut contoh yang lain, sebenarnya melanjutkan lebih jauh proyeksi Schleiermacher tentang ‎bahasa. Jika Schleiermacher berpendapat bahwa bahasa identik dengan pikiran, Anthony Thiselton ‎dalam bukunya The Responsibility of Hermeneutics (1985) berpendapat, bahwa bahasa pertama-tama ‎adalah the locus of meaning alias wadah makna-makna. Menurut Thiselton setiap makna yang ‎dijumpai dalam wacana tulis senantiasa memiliki kaitan atau konteks dengan kenyataan di luar bahasa. ‎Pandangan ini merujuk kepada hermeneutika Ricoeur. ‎
Dalam esai-esainya seperti The Rule of Metaphor Ricoeur memandang bahwa pemahaman ‎atau penafsiran bukan semata kegiatan berkenaan dengan bahasa, tetapi juga sebagai tindakan ‎pemaknaan dan penafsiran. Tidak ada orang yang membaca sebuah teks dengan maksud untuk ‎memahami isinya yang tidak melakukan penafsiran dan pemaknaan selama proses pembacaan ‎berlangsung. Walaupun ada kecenderungan strukturalisme dalam hermeneutika Ricoeur, namun ‎strukturalismenya berbeda dengan yang dianut kaum strukturalis murni. Yang menarik ialah karena ‎dia memperkenalkan dua dimensi penting dalam pemahaman sastra, yaitu dimensi eksistensial dan ‎dimensi sejarah.‎
Dimensi eksistensial dan sejarah memainkan peranan penting dalam proses pemahaman dan ‎pemaknaan. Caranya ialah mengaitkan atau menghubungkan kembali teks dengan lingkungan budaya ‎dan latar belakang sejarah. Ciri lain dari kaidah yang diperkenalkan Ricoeur ialah tuntutannya agar ‎seorang penafsir berperan aktif dan bersikap kritis dalam membangun makna. Karena karya sastra ‎mengandung banyak makna, seorang pengaji harus yakin bahwa dia akan dapat mencapai makna ‎terdalam dan benar. Keyakinan itu akan terbukti apabila seseorang memiliki kelengkapan pengetahuan ‎budaya, agama dan sejarah, bukan semata-mata pengetahuan bahasa, sastra da estetika.‎
Ricouer lahir pada tahun 1913 di Valence Perancis dan wafat pada tahun 2005. Mantan ‎gurubesar filsafat ini merupakan tokoh terdepan hermeneutika modern di samping Gadamer. Karya-‎karyanya terutama membicarakan masalah psikoanalisa, hubungan linguistik dengan hermeneutika, ‎dan permasalahan strukturalisme. Tetapi pengertian Ricoeur tentang strukturalisme berbeda dengan ‎Levi-Strauss, Culler, dan Roland Barthes. Bahkan dia menolak pandangan ketiga pendekar ‎strukturalisme itu.‎
Pemikirannya tentang hermeneutika selain diuraikan dalam bukunya The Rule of Metaphor, ‎terutama dijumpai antologi esai-esai filsafatnya Le Conflit des Interpretation, Essais d’hermeneutique ‎‎(1969). Dalam bukunya itu dia berpendapat bahwa hermeneutika merangkumi banyak disiplin ilmu ‎yang berkaitan dengan penafsiran dan pemahaman. Penafsiran adalah kegiatan membedakan makna ‎tersembunyi (sens cache) dari wacana dengan makna lahir yang tampak (sens apparent). Untuk ‎mencapai tujuannya itu tahap awal yang harus dilakukan oleh seorang ahli hermeneutika dalam ‎memenuhi tugasnya ialah membandingkan pengenaan yang berbeda-beda atas makna rangkap wacana ‎dan juga membandingkan fungsi penafsiran yang berbeda-beda disebabkan penggunaan disiplin yang ‎berbeda-beda seperti semiotika, psikoanalisa, fenomenologi, sejarah perbandingan agama, kritik sastra, ‎dan lain sebagainya.‎
Hermeneutika Ricoeur dibangun berdasar tiga teras penting. Pertama, filsafat eksistensialisme ‎Gabriel Marcel, Karl Jaspers dan Heidegger. Di sini hrmeneutika dikaitkan dengan dorongan kodrati ‎manusia untuk mengada atau bereksistensi melalui bahasa yang terjelma menjadi filsafat, ilmu ‎pengetahuan, agama, seni, kebudayaan, sastra, dan lain sebagainya. Kedua, dasar-dasar filsafat tentang ‎eksistensi itu dipadukan oleh Ricoeur dengan fenomenologi Husserl. Ketiga, paduan dua arus besar ‎pemikiran modern itu diperkuat oleh pemikiran Ricoeur sendiri tentang arkeologi dan eskatologi. Jika ‎hermeneutika Heidegger dibangun atas prinsip artikulasi Dasein (ada di sana) dan das Sein (wujud), ‎hermeneutika Ricoeur dibangun atas pemikiran bagaimana aku yang berpikir (cogito) harus mengada ‎untuk mengatasi pemikiran yang idealistik, subyektif dan solipsistik.‎
Salah satu modus existendi atau modus mengada manusia ialah mencari penjelasan dan ‎pandangan yang memuaskan tentang segala sesuatu. Pandangan tersebut diperlukan karena ia hidup ‎dengan berbagai realitas yang kompleks, termasuk realitas pribadi, kejiwaan, sosial, dan budaya. ‎Hanya dengan bantuan bahasa, yaitu bahasa sebagai langue (penuturan tertulis) yang tidak dapat ‎dipisahkan dari bahasa sebagai parole (penuturan lisan), ia dapat memperoleh penjelasan dan ‎pandangan yang diperlukan itu. Melalui kendaraan bahasa manusia dapat menemukan pandangan-‎pandangan dan penjelasan-penjelasan tentang semua bentuk realitas yang setiap kali hadir dengan ‎segala teka-tekinya itu, penuh lika liku dan tidak jarang berbahaya jika tidak disikapi dengan benar ‎dan arif.‎
Untuk keperluan itu semua pandangan yang terdapat dalam mitologi, aliran-aliran keagamaan, ‎kebudayaan, ideologi, ilmu pengetahuan, seni, kesusastraan, filsafat, sejarah, sistem ekonomi, hukum, ‎dan lain-lain harus diteliti, dijelaskan dan diuraikan kembali. Apalagi jika tampak sebagai benang ‎kusut yang tidak mudah diurai dengan cara yang lazim. Ini merupakan tugas filsafat dan sekaligus ‎hermeneutika. Filsafat adalah upaya untuk memperlihatkan dan membentangkan apa yang ‎sesungguhnya telah terjadi dalam kehidupan, dan apa pula arti atau makna dari gejala-gejala yang ‎hadir dalam kehidupan. Dalam hubungannya dengan filsafat ini, hermeneutika memulai prosesnya ‎dengan meragukan kembali kepastian-kepastian yang dijadikan pegangan manusia dan ‎mempertanyakan pula keraguan-keraguan pandangan atas sesuatu yang timbul dalam sejarah ‎peradaban.‎
Ricoeur menentang pandangan kaum strukturalis yang tidak lagi menempatkan manusia ‎sebagai pusat dalam kosmos teori dan pemikiran mereka. Setelah manusia dienyahkan ke pinggiran ‎sejarah dan perputaran kehidupan, manusia lantas dipandang hanya dalam rangka sebuah struktur dan ‎hubungan struktur-struktur. Dengan demikian dalam sejarah peradaban, manusia tidak dipandang ‎sebagai subyek dan tugasnya hanya sekadar menambah kepada realitas yang ada. Ia, manusia, ‎dipandang dikuasai oleh realitas tak sadar, pengetahuan tanpa subyek, teori tanpa identitas. Manusia ‎dipenjara agar tidak mampu menemukan aku dan Sang Aku dalam dirinya. Ia dikurung dalam aturan-‎aturan sebagai partitur (Levi-Strauss), atau terkurung dalam aturan dari simbol-simbol beku (Lacan).‎
Ricoeur menentang pandangan kaum strukturalis yang menganggap kedudukan manusia ‎sudah pasti dalam kebudayaan, yaitu ditentukan oleh struktur batin tak sadar. Menurut Ricoeur, ‎simbol-simbol dalam kebudayaan bukan sekadar kepastian dan bukannya tidak bisa dirubah oleh ‎manusia sebagai subyek yang sadar. Simbol-simbol dalam kebudayaan senantiasa menyembunyikan ‎makna atau intensionalitas ganda. Yang pertama, intensionalitas yang dapat dirujuk pada makna ‎harfiahnya, yaitu yang jelas dengan sendirinya asal saja seseorang tidak menyalah artikan dengan ‎sengaja untuk maksud tertentu. Intensionalitas kedua, ialah makna batinnya, yang merujuk kepada ‎‎‘kehadiran yang tak hadir’, di lubuk terdalam simbol, melalui sifat opacite (tak tembus cahaya) dari ‎simbol.‎
Salah satu peranan simbol ialah merangsang pemikiran dan perenungan manusia menyangkut ‎eksistensi dan nasibnya di dunia. Dengan melakukan pemikiran dan perenungan manusia dapat belajar ‎memetik hikmah dari kehidupan yang dialami dan sejarah peradaban. Oleh karena itu tidak sepatutnya ‎seseorang terpaku dan berkutat hanya pada satu dua definisi dan pengertian dalam memandang ‎sesuatu termasuk kebudayaan, filsafat, ilmu pengetahuan, dan agama. Misalnya hanya melalui ‎penjelasan ilmiah yang sempit. Contohnya ketika seseorang ingin memahami bahasa tanda-tanda dan ‎simbol-simbol budaya. Lazim orang memberi pengertian yang bersahaja dan dangkal, seperti penulis ‎syair lagu popular memberi arti kepada perkataan ‘cinta’, karena merasa puas dengan intensionalitas ‎yang pertama. Yaitu menangkap sesuatu melalui arti harfiah atau formalnya semata-mata.‎
Simbol-simbol yang hadir dalam kehidupan di mana kita berpartisipasi di dalamnya, seperti ‎ilmu, pemikiran keagamaan, mitologi, adat istiadat, seni, sastra, dan lain-lain harus senantiasa dan ‎dapat ditafsirkan kembali untuk memperoleh makna baru yang lebih segar. Dengan demikian ia akan ‎selalu hadir sebagai simbol-simbol baru yang penuh makna tanpa kehilangan esensi dan substansi, ‎apabila penafsiran dilakukan secara benar dan taat asas. Tanpa penafsiran dan pemahaman yang ‎segar, simbol-simbol dan karenanya juga kebudayaan, akan mandeg dan mengalami proses ‎pendangkalan dan penyempitan arti.‎
Melalui penelitiannya terhadap filsafat dan ilmu yang berkembang dalam zaman modern, ‎Ricoeur sampai pada kesimpulan bahwa sampai sekarang terdapat dua gejala hermeneutika yang saling ‎bertabrakan kendati sama-sama didasarkan atas prinsip demitologisasi. Gejala pertama tampak pada ‎hermeneutika Bultman dengan pendekatan yang simpatik terhadap simbol-simbol kebudayaan dan ‎peradaban. Ia menggunakan pendekatan itu untuk menemukan makna batin yang tersembunyi di ‎dalam simbol-simbol. Gejala kedua, demitologisasi yang dilakukan Marx, Nietzsche, dan Freud. ‎Mereka menggunakan hermeneutika demitologisasi untuk menghancurkan simbol-simbol yang ‎dipandang sebagai realitas palsu. Ricoeur menempatkan diri ke dalam gejala pertama yang sifatnya ‎konstruktif. Menurutnya hermeneutika yang sebenarnya ialah penafsiran untuk menyingkap makna ‎batin simbol-simbol, dengan menyebrangi makna lahir atau formalnya. Hermeneutikanya memiliki ‎banyak persamaan dengan Imam al-Ghazali, Ibn `Arabi, Abhinavagupta, dan Gadamer.‎
Bagi Ricoeur hermeneutika merupakan strategi terbaik untuk menafsirkan teks-teks filsafat dan ‎sastra. Sesuai dengan prinsip yang telah dikemukakan itu, dalam penafsiran sastra tahap pertama yang ‎harus dilakukan ialah membedakan antara bahasa puitik, yang pada hakikatnya bersifat simbolik dan ‎metaforikal, dengan bahasa diskursif non-sastra yang tidak simbolik. Menurutnya ada tiga ciri utama ‎bahasa sastra yang perlu diberi perhatian dalam hermeneutika: ‎
‎1. Bahasa sastra dan uraian filsafat bersifat simbolik, puitik dan konseptual. Di dalamnya ‎berpadu antara makna dan kesadaran. Kita tidak dapat memberi makna referensial terhadap karya ‎sastra dan filsafat sebagaimana dilakukan terhadap teks yang menggunakan bahasa penuturan biasa. ‎Bahasa sastra menyampaikan makna simbolik melalui citraan-citraan dan metafora yang dapat dicerap ‎oleh indera. Sedangkan bahasa bukan sastra berusaha menjauhkan bahasa atau kata-kata dari dunia ‎makna yang luas.‎
‎2. Dalam bahasa sastra pasangan rasa dan kesadaran menghasilkan objek estetik yang terikat ‎pada dirinya. Penandaan harus dilakukan dan tanda harus diselami maknanya, tidak dapat dibaca ‎secara sekilas lintas. Tanda dalam bahasa simbolik sastra mesti dipahami sebagai sesuatu yang ‎mempunyai peran konotatif, metaforikal dan sugestif.‎
‎3. Bahasa sastra dalam kodratnya memberikan pengalaman fiksional, suatu pengalaman yang ‎pada hakikatnya lebih kuat dalam menggambarkan ekspresi tentang kehidupan. Karena itu bahasa ‎sastra yang puitik tidak memberi kemungkinan bagi pembaca untuk mengalami dan memahami secara ‎langsung apa yang disajikan. Berdasarkan kenyataan ini maka kegiatan hermeneutik diperlukan.‎
‎ ‎ Ricoeur menambahkan bahwa setiap teks memiliki komponen, struktur bahasa dan semantik ‎yang berbeda-beda. Oleh sebab itu setiap teks sastra memerlukan model hermeneutika yang berbeda-‎beda. Kendati demikian prosedur umum dapat diberikan. Ricoeur merincinya sebagai berikut:‎
Pertama, teks harus dibaca dengan penuh kesungguhan, menggunakan imaginasi yang penuh ‎rasa simpati (sympathetic imagination).‎
Kedua, seorang yang menggunakan strategi hermeneutika mesti terlibat dalam analisis ‎struktural bahasa teks, kemudian menentukan tanda-tanda simbolik penting di dalamnya dengan ‎tujuan menyingkap makna batin tersembunyi. Setelah itu baru menentukan rujukan dan konteks dari ‎simbol-simbol yang menonjol. Dia juga harus mampu membedakan antara simbol dan metafora, sebab ‎keduanya merupakan peralatan penting sastra yang membuatnya berbeda dari wacana ilmiah. ‎Bilamana tahapan ini dapat dilakukan dengan baik maka sejumlah andaian dapat diajukan.‎
Ketiga, seorang ahli hermeneutika mesti melihat bahwa segala sesuatu yang berhubungan ‎dengan makna dan gagasan dalam teks itu merupakan pengalaman tentang kenyataan non-bahasa yang ‎dinyatakan dalam bahasa.‎
Ricoeur mengemukakan pentingnya meletakkan peranan metafora dan simbol di tempat sentral ‎dalam penafsiran sastra, karena pemahaman tentang dua konsep kunci penuturan puitik itu berkaitan ‎dengan perluasan teori penafsiran dan konsep pemahaman itu sendiri. Pertama, dengan ‎mendayagunakan fungsi keduanya maka kita akan dapat menunjukkan signifikansi suatu karya sastra ‎sebagai ungkapan budaya dan kemanusiaan, dan membedakannya dengan signifikansi karya ilmiah ‎dalam kebudayaan. Signifikansi sastra yang penting ialah keberlimpahan makna (suprlus meaning) ‎yang ditawarkan kepada pembacanya. Karya sastra tidak hanya memberikan informasi tentang ‎kehidupan dan makna kognitif, tetapi juga fakta tentang perasaan dan intuisi yang memiliki dinamika ‎sendiri dalam kehidupan dan kebudayaan.‎
Metafora dalam jangka masa yang lama sering dipandang sebagai ornamentasi (alamkara ‎dalam bahasa Sanskerta), tetapi Paul Ricoeur memandangnya lebih dari sekadar ornamentasi. Metafora ‎dalam dirinya memiliki nilai lain, yaitu nilai emotif yang memungkinkan ia mengatakan sesuatu yang ‎baru tentang realitas. Sedangkan simbol lebih kompleks dan kaya muatan nilainya. Dalam dirinya ‎simbol mengandung dua dimensi, yaitu dimensi yang terikat pada aturan linguistik, dan dimensi yang ‎tidak berikat pada aturan kebahasaan. Yang pertama dapat dikaji melalui semantik, sedangkan yang ‎kedua yang cenderung asimilatif dan berakar dalam pengalaman kita yang terbuka terhadap berbagai ‎metode yang berbeda bagi penyingkapan maknanya. Simbol dapat dikaji melalui berbagai disiplin ‎seperti psikoanalisa, arkeologi, eskatologi, sejarah perbandingan agama, mistisisme, dan lain ‎sebagainya.‎
Simbol berbeda dari metafora. Meskipun memiliki nilai tambah, metafora cenderung mati dan ‎tidak segar lagi dalam penuturan disebabkan proses seperti pendangkalan dan pemiskinan arti. Simbol ‎sebaliknya, sebab ia menanam akarnya sedemikian dalam di dalam konstelasi kehidupan, perasaan, ‎pemikiran, mimpi, dan alam yang langgeng. Simbol juga memiliki kemantapan yang sukar dipercaya ‎dan dapat membimbing kita untuk berpikir bahwa ia tidak pernah mati. Ia hanya bisa ‎ditransformasikan dengan berbagai cara sehingga selamanya terasa segar. Apalagi di tangan seorang ‎penyair, pengarang, dan seniman yang kreatif, kaya gagasan, pengalaman batin, dan imaginasi. ‎
Mimamsa dan Ta’wil
Sekarang kita lihat selintas sejarah hermeneutika dalam tradisi intelektual India dan Islam. ‎Teori penafsiran di India telah mulai memperlihatkan benih kehadirannya pada abad ke-8 SM. ‎Keperluan menafsirkan Veda yang empat, yaitu Rg Veda, Atharva Veda, Sama Veda dan Ayur Veda ‎merupakan cikal bakal perkembangan hermeneutika di India. Pelopornya ialah kaum brahmana. Dari ‎tangan mereka lahir beberapa kanon keagamaan Hindu yang awal seperti kitab Brahmana (Brahmana ‎Kanda), yang antara lain menguraikan makna falsafah dan religius upacara korban (yajnya) serta ‎aturan pelaksanaannya. Teori penafsiran berkembang terus dengan tetap taat pada asas, yaitu dengan ‎melihat usul alias kesejarahan teks dan cakrawala bahasanya. Lahirnya Upanishad, kanon penting lain ‎dalam agama Hindu merupakan buah dari suburnya kegiatan penafsiran. Isi kitab ini ialah renungan-‎renungan ketuhanan yang bercorak falsafah.‎
Tetapi munculnya hermeneutika dalam arti sebenarnya tampak jelas sejak munculnya enam ‎sistem filsafat ortodoks (sad darsana samgraha), khususnya Purva Mimamsa (mimamsaka) dan Uttara ‎Mimamsa (vedanta). Kata-kata mimamsa sendiri yang digunakan oleh dua sistem darsana itu diberi arti ‎‎‘penafsiran atau penyelidikan secara seksama’ terhadap isi Veda dengan melihat kalimat dan ‎perkataan-perkataan yang digunakan, termasuk kias dan simbol-simbol yang digunakan. Mimamsaka ‎diasaskan oleh Maharsi Vyasa, penulis epos Mahabharata, dilanjutkan oleh Rsi Jaimini pada abad ke-3 ‎dan 2 SM. Darsana ini lebih jauh lagi dikembangkan oleh Upavarsa (350 M), Prabhakara (650 M) dan ‎Kumarila Bhatta (750 M). ‎
Filosof Mimamsaka meyakini kitab Veda sebagai sumber kebenaran yang keabsahannya tidak ‎dapat diragukan. Persoalannya ialah bagaimana mempelajari, memahami dan menafsirkan gagasan ‎yang terkandung di dalamnya. Agar hasrat itu terpenuhi maka harus dicari hubungan antara kata-kata ‎yang terdapat dalam Veda dengan pemikiran dan pesan tersembunyi yang tersimpul daalam kata-kata ‎tersebut. Untuk itu diteliti secara cermat hubungan psikologi dan filologi. Upaya filosof Mimamsaka ‎membuat linguistik berkembang pesat dengan cabang-cabangnya seperti tatabahasa, morfologi, ‎fonetik, dan khususnya semantik.‎
Mimamsaka dikembangkan terutama berdasar penelitian atas bagian awal Veda, yaitu doktrin ‎tentang upacara keagamaan yang berkaitan dengan doa-doa dan mantra beserta penafsirannya secara ‎harfiah dan simbolik. Bagi filosof Mimamsaka, kitab suci Veda diyakini sebagai Tuhan itu sendiri ‎yang mengejawantah melalui sabda suci alias wahyu. Bahwa arti mimamsa berhubungan dengan ‎hermeneutika, tampak dalam pernyataan Rsi Jaimini dalam bagian awal bukunya Mimamsa Sutra yang ‎berbunyi “athato dharmajijnasa” yang artinya lebih kurang ialah hasrat memahami dharma, yaitu ‎kewajiban agama. Memahami sama dengan mengenal dan mengetahui sesuatu dengan mendalam ‎‎(arthajnana) hingga kebenarannya yang terakhir.‎
Dari tradisi filsafat Mimamsa inilah lahir kitab Tatabahasa Sanskerta yang masyhur karangan ‎Panini. Pada abad ke-1 M, dengan melihat kodrat penuturan estetik sastra, Bharata mengembangkan ‎Teori Rasa. Hermeneutika sastra mulai berkembang. Menurut Bharata kebenaran yang ingin ‎disugestikan dalam setiap penuturan estetik, seperti drama dan puisi, ialah rasa. Pada abad berikutnya, ‎terutama sejak abad ke-8 dan 9 M, hermeneutika sastra mulai menemukan bentuknya dengan ‎munculnya puitika Anandavardhana. ‎
Menurut Anandavardhana, sebuah penuturan sastra dan falsafah tidak hanya memiliki dua ‎fungsi sebagaimana dipahami sebelumnya, tetapi tiga fungsi. Tiga fungsi yang dimaksud ialah: (1) ‎Fungsi abidha, berkenaan dengan makna referensial atau denotatif; (2) Fungsi lakshana, berkenaan ‎dengan makna konotatif; (3) Fungsi vyanjana, berkenaan dengan makna sugestif alias yang ‎diisyaratkan. Berdasarkan ini, diyakini bahwa sebuah teks sastra yang metaforikal dan simbolik ‎memiliki tiga lapis makna yang tidak terpisah. Ini dikemukakan oleh Anandavardhana dalam bukunya ‎Dhvanyaloka, yang mengisyaratkan bahwa bahasa sastra merupakan wadah makna-makna. Satu abad ‎sesudahnya Abhinavagupta, filosof madzab Siwa dari Kasymir, mengembangkan teori Dhvani ‎Anandawardhana menjadi teori baru sastra setelah menggabungnya dengan teori Rasa dari Bharata. ‎Teorinya itu disebut Rasa-Dhvani yang meyakini bahwa yang disugestikan dalam karya sastra ialah ‎pengalaman estetik yang disebut rasa. ‎
Dalam tradisi Islam atau Arab Persia, dikenal dua bentuk teori penafsiran yaitu yang disebut ‎tafsir dan ta’wil. Yang pertama tafsir, dari kata al-fasr yang artinya penjelasan atau keterangan, yaitu ‎menerangkan atau mengungkapkan sesuatu yang tidak jelas dalam teks. Tafsir juga dimasukkan ‎sebagai bagian dari ilmu badi`, yaitu salah satu cabang ilmu sastra yang mengutamakan keindahan ‎makna dalam penyusunan kalimat. Yang kedua, walaupun cukup krusial dan kontroversial, dapat ‎dipandang sebagai bentuk hermeneutika Islam sebab merupakan bentuk yang lebih intensif dari tafsir. ‎Jika tafsir membatasi diri pada makna lahir dan rasional teks, ta’wil bergerak lebih jauh ke makna ‎batin teks. Kata ta’wil berasal dari dua perkataan yang berbeda, namun berkaitan. Pertama dari kata ‎awwal, yaitu kembali kepada yang pertama alias maksud teks ditulis. Kedua dari kata iyalah yaitu ‎mengendalikan, sehingga ta’wil diberi arti sebagai mengendalikan ucapan dan meletakkan makna ‎dalam kedudukan yang sepatutnya. ‎
Ta’wil sebagai bentuk hermeneutika yang benar, seperti dikemukakan Imam al-Ghazali, tidak ‎semestinya harus meninggalkan makna lahir dan rasional. Karena pengertian tentang ta’wil dan juga ‎teori sastra yang lahir darinya, seperti juga teori sastra yang lahir dari tradisi India, memerlukan uraian ‎panjang maka sebaiknya dibicarakan dalam bab tersendiri. Begitu pula sejarah hermeneutika di Barat ‎memerlukan uraian tersendiri sebagai acuan untuk memahami perkembangan hermeneutika modern.‎
Bahwa ta’wil yang berkembang dalam tradisi Islam merupakan bentuk hermeneutika yang ‎relevan bukan saja dalam kajian kebudayaan Islam, dapat dilihat antara lain dengan kian populernya ‎bentuk ta’wil yang diperkenalkan oleh Ibn `Arabi beserta teorinya tentang Alam Misal. Asas-asas ‎hermeneutika yang diajukan Ibn `Arabi telah cukup banyak digunakan dalam kegiatan penafsiran oleh ‎sarjana-sarjana Timur dan Barat, terutama setelah terbitnya buku Henri Corbin Creative Imagination in ‎the Sufism of Ibn `Arabi pada akhir dasawarsa 1960an. Dapat dikatakan bahwa bagi Ibn `Arabi dan ‎beberapa sufi kesohor yang lain, hermeneutika tidak lain adalah gerak melampaui simbol (mitsal) ‎kemudian memasuki dan menjelajahi rahasia terdalam teks, yang dengan itu bisa memperoleh makna ‎hakiki. Prosedurnya dapat digambarkan sebagai penyebrangan (i`tibar)dari alam lahir menuju alam ‎ruhani. Gerak seperti itu merupakan tindakan keruhanian (intuitif) yang di dalamnya seorang penafsir ‎menyebrangi ungkapan formal teks untuk menyingkap hakikat atau rahasia batin teks. Ta’wil bisa juga ‎digambarkan sebagai perjalanan dari simbol (mitsal) – yaitu lafz atau ungkapan formal – menuju yang ‎disimbolkan atau dimitsalkan, yaitu kebenaran terdalam teks.‎
Dalam hermeneutika Ibn `Arabi pemahaman selalu ditujukan kepada kebenaran dan ‎kebenaran identik dengan realitas, maka tidak sukar untuk membandingkan antara hermeneutikanya ‎dan hermeneutika Gadamer. Ini memperlihatkan bahwa ta’wil sebenarnya relevan hingga kini dan ‎aktual. Sejauh kita dapat memberi arti dan mememahaminya secara benar. Imam al-Ghazali ‎mmenyebut ahli ta’wil sebagai arbab al-fahm, orang yang memiliki pemahaman yang benar. ‎Kebenaran dalam bahasa Arab disebut al-haqq, yang darinya dibentuk kata-kata haqiqa (hakikat). ‎Salah satu arti haqiqa ialah intipati, juga realitas yang benar. Dengan demikian orang yang paham ‎adalah dia yang mengenal intipati sesuatu yang merupakan kebenaran atau hakikat yang benar dari ‎sesuatu. Dalam kaitan ini kebenaran dan realitas merupakan dua hal yang tidak boleh terpisahkan. ‎Keduanya mesti hadir bersama-sama dalam sebuah penuturan dan pemahaman yang benar. ‎
Seperti Heidegger dan Gadamer, dan juga seperti ahli hermeneutika Hindu, ahli ta’wil Islam ‎yakin bahwa bahasa merupakan satu-satunya wadah yang tepat untuk menyimpan dan menyampaikan ‎kebenaran yang sekaligus adalah realitas dan hakikat sesuatu. Mereka juga memandang bahwa apa ‎yang terjadi dalam teks dalam proses pembacaan dan pemahaman, bukanlah sekadar peristiwa bahasa ‎yang merujuk kepada dirinya sendiri, tetapi juga ke dunia di luar dirinya. Tokoh-tokoh hermeneutika ‎Barat seperti Schleiermacher, Dilthey, dan Gadamer juga menekankan pentingnya aspek kesejarahan ‎teks di samping cakrawala bahasa. Delapan abad sebelum hermeneutika modern muncul, seorang ahli ‎ta’wil Persia bernama Ayn al-Qudat al-Hamadhani telah mengemukakan itu semua. Ta’wil yang ‎ditawarkan oleh sufi besar abad ke-12 M itu merupakan contoh dari hermeneutika kesejarahan yang ‎relevan. Hamadhani antara lain mengemukakan enam prinsip atau asas penting hermeneutika. ‎
Enam prinsip penting itu seperti berikut. Pertama, seorang ahli hermeneutik mesti memiliki ‎pengetahuan bahasa yang luas, terutama semantik. Ini karena wacana tekstual pada dasarnya bersifat ‎musyarik al-dilalah, yaitu mengandung banyak penandaan yang sifatnya simbolik. Kedua, bahasa ‎merupakan wadah makna-makna. Kata-kata konseptual yang dipakai manusia bisa saja salah dalam ‎menerjemahkan pesan tentang kebenaran, oleh karena tidak ada bahasa yang tidak berkembang dan ‎berubah. Perubahan itu pasti akan disertai perubahan arti yang diberikan kepada kata-kata dan konsep-‎konsep yang ada dalam bahasa. Ketiga, pemahaman memiliki lingkait atau konteks sejarah. Keempat, ‎dalam hermeneutika persoalan yang berkaitan dengan kebudayaan dan perkembangan ilmu ‎pengetahuan tidak boleh diabaikan. Kelima, keluasan pengetahuan yang dimiliki seorang penafsir ‎sangat menentukan. Keenam, penafsiran yang baik sangat ditentukan oleh kemampuan dan ‎kepribadian si penafsir.‎
Aspek kesejarahan yang ditekankan oleh Ayn al-Qudat al-Hamadhani dan ahli ta’wil yang lain ‎berakar dalam tradisi ilmu tafsir. Dalam ilmu tafsir senantiasa perlu dibahas sejarah dan situasi pada ‎saat ayat-ayat al-Qur’an diturunkan, termasuk sebab-sebab diturunkannya ayat-ayat itu. Dalam ‎konteks ini secara tersirat dinyatakan teks bersumber dari subyek yang sadar dan disampaikan dengan ‎maksud tertentu. Sedangkan tafsir yang benar, seperti dikatakan Ahmad asy-Syirbasi (1985) ‎mencakup penjelasan, keterangan dan penyingkapan sesuatu yang maknanya tersembunyi di sebalik ‎ungkapan lahir. ‎

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: