HERMENEUTIKA DAN SASTRA

November 22, 2008 at 5:19 am (Kajian Hermeneutika, Kuliah Bersama Abul Hadi WM)

 Pendahuluan

            Setelah lebih kurang tiga setengah dasawarsa kebangkitannya kembali, kini hermeneutika kian memperlihatkan relevansi dan daya tariknya yang semula tersembunyi. Wacana yang semula hanya menjadi perbincangan ramai di kalangan ahli-ahli filsafat di Eropa Daratan, kini beralih menjadi bahan perbincangan ramai pula dalam disiplin ilmu sosial dan humaniora termasuk ilmu sastra. Maraknya penerbitan buku tentang tokoh-tokohnya dan pemikiran mereka, kian melimpahnya esai serta karangan ilmiah dalam jurnal-jurnal filsafat dan ilmiah terkemuka,  sebagaimana kian banyaknya tesis dan disertasi ditulis menggunakan asas-asas hermeneutika,  adalah bukti luasnya sambutan yang diberikan terhadap hermeneutika. Baik sebagai teori penafsiran maupun sebagai asas-asas universal pemahaman, kehadiran kembali hermeneutika sedikit banyak mampu memberi arah baru bagi perkembangan estetika dan ilmu sastra, yang selama lebih setengah abad diharu-biru bahkan diredupkan oleh teori-teori neo-positivisme dan formalisme.

Keantusiasan terhadapnya tampak pula pada bangkitnya minat meneliti teks-teks klasik Timur yang selama ini kurang dianggap penting dan bermanfaat bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Sebab, di bawah pengaruh kuat teori-teori neo-positivisme dan juga belakangan sebagai dampak dari pandangan negatif posmodernisme, teks-teks klasik itu dianggap kurang relevan karena merupakan warisan masa lalu yang tidak sesuai lagi dengan semangat zaman baru.  Apalagi teks-teks Asia yang lahir di luar tradisi Aufklaerung (pencerahan) dan neo-positivisme. Tetapi dengan bangunnya kembali hermeneutika dari mati surinya yang cukup lama, bangkit kembali minat dan semangat untuk meneliti teks-teks yang memiliki signifikansi tersendiri itu dalam sejarah peradaban manusia.

Berbeda dengan pandangan etnosentrik dan hegemonik ilmu-ilmu positivistik dan rasionalistik, sarjana-sarjana hermeneutika yang tulen memandang bahwa kebenaran dapat dicapai oleh manusia di mana pun. Menurut mereka di luar tradisi pemikiran Barat terdapat pula tradisi-tradisi besar pemikiran lain yang tidak kalah luas cakrawalanya dibanding cakrawala pemikiran Barat. Lagi pula ternyata kita harus menyadari bahwa kebenaran tidak dapat dimonopoli selamanya oleh  tradisi pemikiran tertentu yang berkembang di suatu wilayah yang diaku sebagai tempat kelahiran pemikiran filsafat dan ilmu pengetahuan dalam arti sebenarnya, yaitu Barat. Bangunnya kembali hermeneutika ternyata memberi petunjuk bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat modern yang berteraskan empirisme dan rasionalisme mengandung banyak kelemahan. Khususnya dalam memberikan pencerahan dan pemahaman yang benar tentang kebenaran yang terdapat dalam segala sesuatu, termasuk kearifan dan teks-teks yang berasal dari bagian dunia yang mana pun.

Oleh karena itu tidak mengejutkan, disebabkan kritik kerasnya terhadap  neo-positivisme dan aliran pemikiran yang bermuara kepada rasionalisme dan semangat Aufklaerung (pencerahan), hermeneutika bukan saja membangkitkan kembali minat banyak sarjana Asia terhadap teks-teks klasik warisan peradaban bangsanya. Lebih jauh bangkitnya kembali hermeneutika, telah memberikan gairah baru bagi mereka untuk menggali dan merekonstruksi bentuk-bentuk hermeneutika yang telah lama dikenal dalam sejarah intelektual bangsanya[i]. Kita tahu di Cina misalnya hermeneutika telah muncul sejak lama,  sekitar abad ke-5 – 3 SM bersamaan dengan munculnya para filosof yang juga ahli hermeneutika seperti Lao Tze, Kon Fu Tze, Meng Tze, dan  Chuang Tze.  Pemikiran mereka tumbuh dan berkembang menjadi bentuk-bentuk kearifan yang antara lain lahir dari proses hermeneutika tertentu.

Di India tradisi hermeneutika telah muncul sejak abad ke-8 SM dalam kegiatan penafsiran terhadap kitab Veda (Samhita) dan Brahmakanda, sehingga munculnya aliran-aliran filsafat Hindu seperti Samkhya, Mimamsaka, Vedanta, dan lain-lain. Kitab karangan Nirukta, penulis abad ke-8 SM, merupakan bukti bahwa benih-benih hermeneutika telah muncul beberapa abad sebelum lahirnya hermeneutika klasik Yunani. Bahkan penerapannya sebagai bentuk hermeneutika estetik dan sastra telah tampak sejak abad ke-1 M dengan munculnya kitab Natyasastra karangan Bharata. Padahal di Eropa sampai abad ke-18 M, hermeneutika hanya berkutat sebagai teori penafsiran teks kitab keagamaan.

Demikian pula dalam tradisi intelektual besar lain seperti Islam atau Arab-Persia. Sejak dini perkembangan agama ini, beberapa bentuk teori penafsiran dan asas-asas universal pemahaman teks,  telah muncul dan berkembang dengan subur. Teori penafsiran yang berkembang itu  melahirkan ilmu Tafsir yang sangat beragam coraknya, sedangkan asas-asas pemahaman melahirkan bentuk hermeneutika yang lazim disebut ta’wil. Ta’wil sering diartikan sebagai tafsir spiritual atau simbolik, dan merupakan  bentuk penafsiran yang lebih intensif serta ditujukan kepada makna batin teks. Ia lahir dari kegiatan pemahaman atas ayat-ayat mutasyabihat (simbolik) al-Qur’an dan Hadis, khususnya Hadis qudsi, dan kemudian diterapkan juga dalam pemahaman teks sastra, khususnya puisi dan terutama lagi puisi sufi dan kisah-kisah alegoris mereka.  Ta’wil mulai diperkenalkan sebagai bentuknya yang definitif oleh sufi terkemuka abad ke-9 dan 10 M Sahl al-Tustari dan Sulami. Pada abad ke-12-15 M penggunaannya kian meluas di kalangan filosof, sufi, dan ahli sastra. Misalnya seperti tampak dalam karangan-karangan Imam al-Ghazali, Ayn al-Qudat al-Hamadhani, Ahmad al-Ghazali, Ruzbihan al-Baqli, Ibn `Arabi, Jalaluddin Rumi, Fakhrudin `Iraqi, Sadrudin al-Qunyawi, Abdul Karim al-Jili, Abdul Rahman al-Jami, dan lain sebagainya.

Jika bukan disebabkan relevansinya atau kesesuaiannya dengan asas-asas  pemahaman yang pada dasarnya universal, tentulah munculnya kembali hermeneutika modern tidak akan dapat mendorong bangkitnya kembali minat para sarjana Asia untuk melihat lagi bentuk-bentuk hermeneutika klasik warisan intelektual bangsa mereka. Sebagai contoh betapa corak pemahaman dan penafsiran yang diajukan oleh Ibn `Arabi, sufi masyhur dan ahli takwil terkemuka dari Andalusia yang hidup pada abad ke-12 M. Tehnik penafsiran atau ta’wil yang ia ajukan telah banyak digunakan oleh sarjana modern di Eropa dan Asia disebabkan relevansinya. Hermeneutika yang ia ajukan didasarkan atas metafisika, kosmologi, dan epistemologi sufi sebagaimana akan diuraikan nanti.

Hermeneutika dan  Neo-Positivisme

            Salah satu relevansi hermeneutika, yang menyebabkan ia memiliki daya tarik, tampak dalam caranya meletakkan kembali persoalan-persoalan asas dan dasar dari penafsiran dan pemahaman yang selama ini diabaikan atau digeser ke tempat yang tidak semestinya, terutama oleh teori-teori neo-positivis dan formalis seperti New Criticism dan strukturalisme.  Contohnya bagaimana penafsiran dan penelusuran makna batin teks yang semula merupakan tujuan penafsiran, kemudian diganti menjadi upaya mencari kebenaran obyektif, yaitu kebenaran yang dipandang obyektif dari sudut pandang teori. Menurut penganjur-penganjur hermeneutika, upaya mencari kebenaran obyektif adalah hampir tidak mungkin jika yang dimaksud dengan kebenaran ialah kebenaran yang terdapat di jantung teori. Kebenaran terletak di lubuk terdalam teks, sehingga untuk menemukannya diperlukan kesediaan penafsir untuk berdialog dengan teks secara intensif.

Kecuali itu ilmu pengetahuan modern yang lahir dari tradisi neo-positivisme dan formalisme, telah mengapuskan begitu banyak kategori penting dari asas-asas umum pemahaman. Di antaranya yang berkaitan dengan hakikat teks sebagai bahan renungan. Akibatnya muncul kecenderungan luas bahwa membaca teks dalam bentuk aslinya tidaklah begitu penting dibanding membaca komentar dan penafsiran terhadapnya, walaupun penafsiran itu simpang siur dan tidak memberikan pemahaman dan pencerahan. Kategori-kategori penting pemahaman yang diabaikan dan dipinggirkan itulah justru yang diangkat kembali oleh para pencetus hermeneutika modern.

Begitu pula konsep-konsep penting berkenaan dengan pemahaman dan penafsiran, telah lama dipinggirkan. Misalnya konsep bahwa penafsiran yang benar semestinya diarahkan pada penyingkapan makna, dan yang disebut makna ialah kebenaran yang ingin diungkapkan teks dari dalam dirinya, bukan kebenaran yang dipompa dari luar. Ada banyak kategori lain yang tidak kurang pentingnya bagi pemahaman yang benar, yang dihapuskan oleh teori yang berteraskan formalisme dan neo-positivisme, akan tetapi ditampilkan kembali oleh hermeneutika. Di antaranya kemestian adanya dialog dan dialektika dalam kegiatan penafsiran dan pemahaman. Kategori atau konsep lain yang juga  penting berkenaan dengan asas metafisika, kesejarahan, dan cakrawala bahasa sebagai wadah makna-makna dalam segala jenis dan bentuk penuturan. Tidak kalah penting pula adalah keharusan untuk tidak menempatkan teori sebagai ancang-ancang untuk mengeksplikasikan kebenaran yang telah tersirat dalam teori. Dengan hadirnya kembali hermeneutika kita juga disadarkan bahwa bahasa tidak pernah terpisah dari realitas.

Tentu saja terdapat banyak kategori dan konsep lain yang telah lama dihapus namun dibangkitkan kembali oleh para pencetus hermeneutika modern seperti Heidegger, Gadamer, Ricoeur, Hirsch, Betti, Thiselton, dan lain-lain. Semua itu dengan alasan bahwa kategori-kategori yang dimaksud merupakan titik tolak yang tidak bisa ditinggalkan apabila penafsiran dimaksudkan untuk memberi pemahaman dibanding sekadar untuk penelitian ilmiah.  Dalam wilayah kritik sastra misalnya, baik kritik yang bertolak dari tradisi neo-positivisme maupun teori dekonstruktif posmodernisme, kita lihat kategori karya yang bernilai dan tidak bernilai sama sekali diabaikan. Ia ditukar dengan kategori lain yang tidak relevan dilihat dari perspektif bahwa karya sastra pertama-tama adalah merupakan pengucapan estetik, bukan laporan jurnilistik atau pun hasil penelitian sosial.

Dalam kenyataan, sejauh suatu karya memiliki perspektif yang diinginkan oleh sebuah teori, misalnya tereksplikasikannya kebenaran yang telah tersirat dalam teori, tidak peduli apakah karya tersebut termasuk berbobot atau kitsch, maka sebuah karya akan diangkat setinggi langit menjadi sebuah karya penting. Sebuah novel pop misalnya, hanya disebabkan laris dan digemari pembaca, lantas dengan mudah dipandang sebagai karya besar tanpa memperhatikan nilai estetiknya.

Kategori penting lain yang cenderung diabaikan dengan cara merubah atau memindahkan pengertiannya ialah yang berkenaan dengan makna yang dimaksud pengarang (author’s meaning) dan penyempitan arti kata-kata ‘realitas’ (reality) seperti tampak dalam kritik Marxis dan teori sosiologis. Kata-kata realitas dipersempit pengertiannya menjadi semata-mata sebagai kenyataan sosial. Padahal yang disebut realitas tidak terbatas pada hal-hal yang dapat ditanggapi secara inderawi. Selain realitas sosial masih ada realitas kejiwaan dan  realitas batin yang di dalamnya terangkum dunia pemikiran, pandangan hidup, kepercayaan, dan  sistem nilai tertentu yang melandasi penciptaan sebuah karya sastra.

Kategori berkenaan dengan ‘maksud pengarang’ demikian pula halnya. Sejak munculnya Neo-Criticism dan Strukturalisme, kategori tersebut dihalau ke luar dari wilayah penelitian. Ia tidak lagi dijadikan persoalan dengan alasan antara lain bahwa ia tidak ada hubungan dengan pengetahuan obyektif yang merupakan tujuan penelitian ilmiah. Karena itu persoalan yang berkaitan dengan ‘maksud pengarang’ dipandang tidak memerlukan kriteria yang tetap dalam penilaian. Di lain hal, kaum strukturalis tidak yakin bahwa subyek,  yakni pengarang,  merupakan pembentuk makna dalam arti sebenarnya. Dalam bukunya Structuralist Poetics Jonathan Culler misalnya mengatakan bahwa “penuturan seorang pembicara (baca: pengarang) dapat dimengerti oleh orang lain hanya oleh karena pada hakikatnya telah terkandung dalam bahasa”. Jadi, dalam konteks pengertian seperti itu, pengarang dipandang tidak menambahkan apa-apa kepada bahasa beserta konvensi dan norma-normanya melalui karangan yang ditulisnya.

Kecuali itu teori-teori yang lahir dari tradisi neo-positivisme dan dekonstruksi sejauh ini ternyata mewariskan lebih banyak masalah. Yang paling menonjol di antaranya berkenaan dengan ‘relativisme penafsiran’ bukan saja penafsiran atas teks sastra, tetapi juga teks keagamaan, hukum, undang-undang, filsafat, dan lain sebagainya. Kerap teks yang sama ditafsir berdasarkan pandangan relativistik, skeptik, bahkan nihilistik, sehingga menimbulkan dilema tersendiri, yang oleh ahli hermeneutika disebut ‘dilema hermeneutik’.  Di antara dilema hermeneutik yang timbul terangkum dalam pertanyaan-pertanyaan seperti berikut ini: Jika semua penafsiran benar, apakah masih m[ii]ungkin bagi kita membicarakan penafsiran yang tidak benar? Jika semua karya sastra bernilai, masih mungkinkah bagi kita berbibacara tentang karya yang tidak bernilai? Jika kebenaran ialah apa yang dikandung dalam teori yang mengaku paling kompeten, masih mungkinkah bagi peneliti untuk bersedia mendengar suara-suara lain dari berbagai tradisi budaya, pemikiran estetik  dan keagamaan di luar tradisi atau keyakinan  neo-positivisme, posmodernisme, liberalisme, dan lain sebagainya?

Dalam situasi yang rumit seperti inilah hermeneutika hadir kembali memenuhi tugasnya. Kalau kita batasi saja pada penerapan teori neo-positivistik yang berlebihan dalam kajian sastra, maka dengan mudah kita saksikan dampaknya berupa merosotnya mutu kritik sastra. Kenyataan ini telah cukup lama diakui bukan hanya oleh para sastrawan, tetapi juga oleh para pengamat sastra. Subagio Sastrowardojo (1992) misalnya pernah mengatakan bahwa penerapan teori sastra dalam telaah dan kritik sastra di Indonesia pada umumnya kurang memerhitungkan arti sastra dan nilai estetik. Menurutnya hal ini kian menambah kusut dan kacaunya tanggapan masyarakat terhadap sastra. Alih-alih meningkatkan apresiasi, kritik sastra lebih sering menjadi penyebab merosotnya apresiasi masyarakat terhadap sastra. Sedangkan Sutardji Calzoum Bachri (1987)[iii] dan Fuad Hasan (2005) berpendirian bahwa merosotnya kajian tekstual dan  mundurnya minat para sarjana serta mahasiswa sastra membaca teks sastra, kebalikan dari meningkatnya minat mereka terhadap teori sastra yang berkembang dengan maraknya.

            Menurut Subagio Sastrowardojo dewasa ini telah terjadi kekacauan tanggapan dari kritik sastra. Orang kehilangan pegangan tentang mana tulisan yang patut disebut sastra dan mana yang tidak bernilai sastra. Kebingungan menentukan pegangan itu bahkan ditopang pula oleh perhatian berlebihan sarjana-sarjana luar negeri, terutama yang berminat dalam sosiologi budaya, yang ingin menghubungkan novel dengan kepentingan pengetahuan mereka tentang masyarakat dan kebudayaan Indonesia. Kecenderungan pandangan sosiologis serupa juga ditemui dalam masyarakat. Mereka mengharap karya sastra mencerminkan realitas hidup keseharian mereka sehingga dapat menjadi bahan penelitian untuk mengenal masyarakat. Oleh karena dalam kenyataan tidak banyak karya sastra, apalagi puisi, yang bisa dijadikan alat pemantau keadaan masyarakat, maka di lingkungan ilmiah sastra dikesampingkan dan dipandang sebagai tidak berguna sebagai obyek penelitian ilmiah.

            Ini dibuat semakin runcing oleh pendirian suatu kelompok orang yang ingin merelatifkan nilai sastra. Misalnya dengan mengaitkan sastra dengan kepentingan kelas dalam masyarakat. Nilai sastra lantas ditentukan oleh kepentingan di luar dirinya seperti ideologi, pandangan kebudayaan, dan lain-lain yang diyakini oleh kelas dalam masyarakat. Nilai sastra menjadi serba relatif dan sastra dipandang hanya sebagai alat bagi kepentingan di luar dirinya. Seharusnya kata Subagio Sastrowardojo, sebagaimana dalam disiplin lain di mana obyek diletakkan dalam kodratnya, begitu pula seharusnya dalam bidang sastra dan ilmu sastra. Kita berhak dan seharusnya juga membicarakan sastra sebagai sastra dengan berbagai asas, tradisi dan kecenderungannya yang begitu jamak.

Lahirnya Hermeneutika

Kata-kata hermeneutika mulai digunakan lagi sebagai peristilahan penting lebih setengah abad yang lalu untuk mencirikan bentuk-bentuk penelitian dan penafsiran yang menolak konsep tradisional dari penelitian sebelumnya yang didasarkan atas pemikiran positivistik ilmu pengetahuan modern.  Konsep tradisional yang ditolaknya itu ialah keharusan dihapuskannya asas metafisika (baca worldview) yang melandasi setiap ekspresi kemanusiaan dan pendirian tentang matinya subyek yang sadar, termasuk dalam penuturan estetik sastra. Penolakan tersebut disertai dengan pembongkaran terhadap dasar epistemologis ilmu-ilmu positvistik yang diyakini tidak mendorong berkembangnya pemikiran yang membawa pada pemahaman dan pencerahan.  Oleh karena itu hermeneutika lantas diartikan sebagai  kegiatan intelektual untuk ‘memikirkan kembali metafisika’ dan ‘menerobos ke sebalik tabir epistemologi tradisional’.

Para pencetus hermeneutika mengaitkan ikhtiar itu dengan keyakinan bahwa hasrat mencari makna dan memahami segala sesuatu yang dijumpai dalam kehidupan, merupakan hal yang kodrati pada manusia. Termasuk hasrat mencari makna dan keinginan memahami wacana filsafat, keagamaan dan sastra. Mereka juga tidak mengakui  klaim universal dari teori modern, karena sebuah teori betapa pun koheren dan sistematiknya, lahir bukan dari kekosongan sejarah. Di belakang suatu teori tersembunyi asas metafisika tertentu, seperti ideologi, pandangan dunia, dan motif-motif lain yang menyebabkan ia tidak bisa netral dan melahirkan pandangan yang murni obyektif. Dasar-dasar epistemologisnya pula, serta norma-norma yang dijadikan ketetapan teoritisnya, tidak terlepas dari tradisi budaya masyarakat yang melahirkannya. Termasuk perkembangan filsafat dan ilmu pengetahuannya dengan segala kecenderungannya yang mungkin saja tidak dijumpai dalam tradisi pemikiran di tempat yang lain.

Karena itu untuk lebih memahami kebangkitan kembali hermeneutika dewasa ini, ada baiknya kita melihat asas-asas pemikiran dua kecenderungan pemikiran yang ditentang oleh para pencetus hermenenutika, yaitu neo-positivisme dan posmodernisme. Yang pertama merupakan kekuatan yang dominan sejak abad ke-19 dan yang belakangan mulai muncul pada akhir dasawarsa 1960an namun segera populer dalam satu dua dasawarsa berikutnya. Memang tidak mudah menggambarkan dua gerakan pemikiran yang dewasa ini sangat dominan itu, sebagaimana tidak mudah pula menggambarkan perkembangan dan dampaknya yang kompleks. Tetapi sekadar untuk memahaminya, cukuplah kita melihat asas-asas pemikiran yang mendasari kedua bentuk pemikiran yang secara asas saling bertentangan itu.

Neo-positivisme adalah aliran filsafat keilmuan yang lahir pada pertengahan abad ke-19 sebagai kelanjutan dari aliran positivisme yang diasaskan oleh August Comte lebih kurang setengah abad sebelumnya. Aliran pemikiran yang dominan pada abad ke-20 ini berakar terutama pada rasionalisme Cartesian, scientisme Newtonian, empirisme abad ke-18 dan semangat pencerahan (Aufklaerung) yang terutama diwakili oleh pemikiran Kant dan Kantianisme. Narasi besar yang dibawakan ialah pembebasan manusia dari belenggu mitologi dan agama.

            Rasionalisme berpendirian bahwa satu-satunya subyek yang berpikir di alam semesta dan bebas dari arahan Tuhan ialah manusia. Descartes, penganjur aliran ini membuat dikotomi antara subyek dan obyek, ruh dan benda. Kant menyebut penjelmaan ruh itu sebagai subyek transendental yang berperan sebagai asas pembentukan sesuatu. Menurut tokoh Aufklaerung terkemuka itu adalah subyek transendental yang mewujudkan isi dan perkembangan dunia itu berupa sesuatu yang ‘dapat dipahami’ secara rasional. Ia juga membagi dua bidang realitas, yaitu noumena dan fenomena. Fenomena ialah dunia yang menggejala sehingga dapat dicerap oleh indera, sedangkan noumena ialah sesuatu yang bersifat batin dan tersembunyi, atau ‘das Ding ansich’ (ada dalam dirinya). Ia terbungkus dan serba tertutup, sehingga tidak dapat dijadikan obyek penelitian ilmiah.

            Scientisme di lain hal meneruskan proyeksi rasionalisme Cartesian seraya meramunya dengan konsep-konsep fisika Newton yang memandang alam sebagai tatanan sempurna dengan hukum-hukum dan aturan yang pasti serta tidak bisa dirubah. Alam digambarkan sebagai mesin raksasa yang menggerakkan seluruh kehidupan di dalamnya, termasuk pikiran dan kesadaran manusia. Dalam pemikiran Newton tidak ada ruang bagi Tuhan, aktivitas keruhanian, kesadaran, cinta kasih, intuisi dan perasaan. Positivisme menerima pandangan rasionalisme dan Kant tentang keunggulan akal rasional dan penalaran kritis, dan pandangan empirisme tentang persepsi indera. Tetapi menolak pendirian Kant mengenai subyek transendental. Pendirinya, August Comte yang dipandang sebagai pengasas sosiologi modern, mendasarkan pendiriannya pada keyakinan Saint Simon, yang mengatakan bahwa pengetahuan itu netral sebab didasarkan pada obyektivitas. Agama dan seni berbeda, ia tidak netral karena tidak didasarkan atas obyektivitas sehingga kedudukannya dalam mencapai kebenaran lebih rendah dari ilmu pengetahuan.

            Berdasarkan pandangan tersebut, Comte berpendirian bahwa penelitian atas kegiatan jiwa dan kehidupan spiritual menusia merupakan kerja yang sia-sia. Psikologi introspektif dipandang sebagai bentuk baru teologi yang usang. Menurutnya, dalam penelitian ilmiah,  manusia sebagai subyek yang sadar tidak penting oleh karena yang maujud hanyalah masyarakat. Masyarakatlah yang merupakan ruh kehidupan moral individu, sedang perilaku seseorang hanyalah fenomenanya. Demikian juga dengan karya seni dan sastra, sebagaimana dikatakan Rifaterre, dipandang tidak lebih dari produk masyarakat. Akibatnya mereka meyakini bahwa kebebasan seseorang tidak lebih dari ketundukannya kepada masyarakat. Pandangan seperti itu tercermin dalam teori Marxis dan aliran sosiologisme. Dalam pandangan mereka, tingkat nalar dan kemampuan artistik seseorang diperoleh dengan cara tunduk kepada proses rasional perkembangan masyarakat (Martineau 1993).

Jika dirumuskan secara ringkas, pokok-pokok pendirian positivisme dan neo-positivisme ialah sebagai berikut.  Pertama, Tuhan atau Realitas Hakiki itu tidak ada, setidak-tidaknya keberadaan-Nya itu disangsikan. Kedua, alam semesta bergerak secara mekanistik, teratur, dan dengan hukumnya sendiri. Kehidupan manusia juga demikian. Yang menggerakkan ialah ketentuan-ketentuan masyarakat yang hadir sebagai hukum besi yang tidak terelakkan berupa norma-norma, pandangan hidup yang telah terkemas rapi, nilai-nilai yang tumbuh secara alami, dan lain sebagainya. Dalam estetika atau sastra, ia berupa norma-norma sastra, konvensi estetik, kode budaya, selera (taste), dan lain sebagainya. Ketiga, akal pikiran dan pengalaman empiris diyakini dapat membantu manusia memahami gejala-gejala kehidupan dalam alam, masyarakat, dan teks (lihat juga Md Salleh Yaapar 2002).

            Pada mulanya pemikiran modern di Barat mengagungkan manusia sebagai subyek yang bebas, seperti tampak dalam rasionalisme  dan pemikiran Kant. Pendirian tersebut, dengan cara lain, dilanjutkan oleh filosof idealis dan romantik Jerman seperti Hegel, Fichte dan Schelling yang berpendapat bahwa spirit (Geist) memiliki tujuan dan subyek transendental memiliki kebebasan. Benih pemikiran zaman Pencerahan yang dicampakkan oleh Comte dan penganut positivisme itu, secara diam-diam tumbuh terutama dalam pemikiran filosof hermeneutik abad ke-19 seperti Schleiermacher dan Dilthey.  Oleh karena itu tidak mengherankan apabila kaum romantik memandang seniman dan sastrawan sebagai genius, karena sebagaimana para ilmuwan mereka itu relatif kecil ketergantungannya pada perkembangan masyarakat.

Di bawah pengaruh kaum romantik ini studi sastra pada masa itu merangkumi pula kajian atas riwayat hidup dan pemikiran pengarang besar seperti Shakespeare, Marlowe, Rosseau, Racine, Hoerderlin, Goethe, Schiller, Baudelaire, dan lain-lain. Begitu juga studi seni lukis dan estetika, akan memberi perhatian pada perjalanan hidup dan wawasan estetika pelukis besar seperti Leonardo da Vinci, Michael Angelo, Giotto, Albrecht Durer, Rembrandt, Velasques, Goya, dan lain-lain. Tetapi menjelang abad ke-20, di bawah pengaruh neo-positivisme manusia sebagai subyek yang sadar dianggap tidak penting.

Dalam suasana pemikiran seperti itulah muncul para sarjana seperti I. A. Richard, Ferdinand de Saussure, dan lain-lain yang pemikirannya sangat berpengaruh pada abad ke-20. Sejak itu kritik sastra kian didorong untuk menolak historikalitas serta asas metafisika teks, dan sastra dirumuskan melalui konteks karya sastra itu sendiri. Karya seorang pengarang lantas dipandang sebagai sepenuhnya otonom, sebuah struktur yang self-sufficient dan tidak berkaitan dengan dunia di luarnya. Bentuk dan isi dipandang sebagai tidak terpisahkan, sebab struktur dan peralatan sastra itu sendiri yang menciptakan maksud sebuah karya.

Pendirian serupa juga tampak pada penganut paham formalisme, yang melahirkan New Criticism, sebuah teori sastra yang dominan dalam dasawarsa 1960an. Seperti teori lain, yang kelahirannya merupakan hasil refleksi dari suatu zaman di negeri tempat  lahirnya teori itu, begitu pula halnya dengan New Criticism, strukturalisme, resepsi, semiotik, dan lain-lain. Dengan perkataan lain, sebuah teori sebenarnya lahir dari tuntutan budaya atau tradisi pemikiran tertentu yang berkembang di lingkungan masyarakat tempat teori itu dilahirkan. Kadang-kadang teori itu tidak memperhitungkan bahwa ada banyak bentuk-bentuk penuturan estetik lain yang tidak dapat dikaji dalam rangka teori yang dianggap paling baik.

New Criticism misalnya sebagai sebuah teori sastra yang memusatkan perhatiannya pada  karya sastra semata, yang dianggap otonom, tidak mau bersusah payah membicarakan pengarang suatu karya dan bagaimana dampaknya bagi pembaca. Karya bahkan dikaji lepas dari perkembangan sastra sebelumnya, sehingga betul-betul ahistoris. Dunia dalam sastra dipisahkan dari  tradisi pemikiran, kebudayaan, dan realitas melalui apa yang disebut sebagai ‘jarak estetik’ (aesthetics distance). Teori ini berkembang dari tradisi estetik formalis, sebagaimana diasaskan antara lain oleh Susanne K. Langer pada awal abad ke-20 dan ditopang oleh keadaan sosial di mana teori itu dilahirkan.

Sebagai teori yang dominan dalam dasawarsa 1960an, New Criticism lahir di bagian selatan Amerika Serikat pada akhir 1930an dan pesat berkembang pada tahun 1950an,  dalam lingkungan msyarakatnya yang serba tertutup dan tradisional. Masyarakat yang melahirkannya adalah suatu masyarakat yang organis yang hidup rukun, tetapi mulai terancam oleh industrialisasi yang datang dari Utara yang membawa sikap rasional yang kering dan kurang manusiawi.  Pengarang di situ ikut membela diri masyarakatnya dalam kegiatan sastra, khususnya puisi. Tujuannya mempertahankan nilai-nilai keagamaan dan kemanusiaan yang menyatukan masyarakat. Dari perkembangan inilah lahir cita-cita karya yang mengandung ‘kesatuan organik’ yang kemudian menjadi dasar penting penelitian sastra (Subagio Sastrowardojo 1992).

Strukturalisme di lain hal lahir di Perancis.  Keseluruhan asas teoritisnya mencerminkan situasi politik pada masa pemerintahan de Gaulle sekitar 1960an. Dalam menghadapi persoalan-persoalan ekonomi yang rumit, pemerintahan de Gaulle mengambil sikap pragmatis dan analitis tanpa menghiraukan masalah ideologi dan kebudayaan.  Kelugasan dan kelurusan sikap masyarakat Perancis yang dipengaruhi kebijakan pemimpinnya,  tercermin dalam aliran ini. Segi formal sastra yang tampak dalam bangunan strukturalnya, dan sistem yang menjalin hubungannya, menjadi perhatian utama tanpa menghiraukan referensi karya kepada ideologi, kebudayaan, dan masalah-masalah sosial dalam artian luas. Seperti New Criticism, menurut Scholes (1976), strukturalisme mengundurkan kepentingan soal manusia.

Posmodernisme dan Bahasa

Posmodernisme, seperti strukturalisme yang mendahuluinya, lahir dalam dasawarsa 1960-1970an di Perancis. Melebihi keadaan sebelumnya, begitu  memasuki dasawarsa 1970an negeri itu dihadapkan pada berbagai persoalan sosial, ekonomi, dan budaya yang lebih rumit lagi. Dalam upaya meringankan persoalan yang dihadapi maka dibuatlah sebuah kebijakan. Di antaranya menyingkirkan narasi atau ide-ide besar yang selama ini telah membebani pikiran masyarakat Perancis. Asas-asas pemikiran dan cita-cita zaman Pencerahan, yang mengunggulkan akal rasional dan mengagungkan manusia sebagai subyek yang sadar, harus dirubuhkan. Aliran ini muncul dalam pemikiran Jacques Derrida, Michel Foucoult,  Jean-Francois Lyotard, dan Jean Baudrillard.  Melalui tulisan-tulisannya mereka memandang diri sebagai pemikir garis depan dan bertindak sebagai nabi penganjur nihilisme dan skeptisisme yang tidak kenal kompromi.

Karena cara mereka mengungkapkan pemikirannya begitu jlimet dan berbelit-belit, tidaklah mudah bagi kita untuk menguraikannya. Namun yang jelas pemikiran mereka berangkat dari sikap skeptik yang radikal terhadap bahasa dan berkeyakinan bahwa manusia/pengarang sebagai subyek (yang memiliki kesadaran individual yang utuh) telah mati. Oleh sebab itu tidak mengejutkan jika pandangan mereka tentang kehidupan dan ekspresi manusia begitu negatif dan suram, bahkan cenderung nihilistik. Mereka meyakini bahwa alam semesta dan kehidupan di dalamnya serba kacau atau chaos.  Mereka juga menyangkal bahwa akal pikiran dan pencerapan indera manusia mampu mengelola kehidupan sebagaimana dipercaya filosof Pencerahan.

            Ada empat ciri utama bisa diberikan pada pemikiran posmodernisme yang melahirkan teori dekonstruksi yang sarat dengan skeptisisme dan cenderung nihilistik itu. Pertama, keyakinan bahwa subyek telah mati. Kedua, pemikir posmodernisme menyangkal adanya realitas obyektif dan menggantinya dengan fiksi. Ketiga, mereka meyakini pula bahwa makna itu tidak ada dalam kehidupan maupun wacana. Keempat, mereka menolak narasi besar atau kisah agung, sekaligus menafikan kebenaran.

            Tentang yang pertama, walaupun telah disinggung sepintas dalam bagian awal bab ini,  perlu dijelaskan lebih jauh. Pandangan ini sebenarnya berakar lama dalam sejarah pemikiran di Barat, sebagaimana dikatakan Heidegger. Yaitu sejak dominannya pemikiran Newtonian pada abad ke-17 M, yang dipertegas oleh Spinoza tidak lama sesudahnya. Pemikiran ini memandang alam semesta dan kehidupan di dalamnya digerakkan oleh mesin raksasa yang bersifat impersonal. Pandangan ini ditegaskan lebih jauh oleh August Comte, pengasas positivisme awal abad ke-19, dan Karl Marx pada akhir abad ke-19, melalui teorinya tentang  pertarungan kelas yang sangat populer hingga sekarang.

Bagi Comte, individu sebagai subyek yang sadar tidak ada. Ia diganti dengan individu yang seluruh geraknya tunduk pada ketentuan-ketentuan sosial. Bagi Marx individu yang ada hanyalah pribadi-pribadi yang digerakkan oleh kesadaran kelas.  Demitologisasi Tuhan dan manusia sebagai subyek lebih jauh dilakukan oleh Freud. Manurutnya apa yang kita mengerti sebagai subyek sebenarnya adalah individu-individu yang digerakkan oleh kekuatan bawah sadar kolektif yang dibentuk oleh masyarakat.

            Keyakinan bahwa subyek telah mati menjelaskan bahwa pada hakikatnya manusia selaku pribadi atau individu tidak mempunyai kesadaran dan kehendak yang utuh. Karena itu tiak ada pribadi yang benar-benar sadar, berpikir, dan memiliki rancangan yang padu dan pasti. Dikaitkan dengan sastra, pemikiran posmodern menafikan kehadiran pengarang selaku subyek yang sadar terhadap apa yang dikarangnya. Dalam sejarah teori sastra, akar dari keyakinan seperti ini dapat ditelusuri antara lain dalam pandangan Levi Strauss, bapak strukturalisme dalam anthropologi. Levi-Strauss meyakini bahwa diri yang subyektif itu hanya ada dalam lamunan, bukan dalam kenyataan. Karena itu tujuan penelitian ilmiah (baca sastra) bukanlah untuk ‘mengangkat manusia, melainkan menghancurkannya’.

            Sejak itu yang diutamakan dalam penelitian ialah budaya masyarakat dan strukturnya yang terjalin sedemikian rupa. Roland Barthes lebih jauh menegaskan lagi keyakinan itu dalam bukunya Image, Music and Text (1971). Begitu pula Foucoult dan Derrida. Bagi Foucoult apa yang disebut pengarang hanya fiksi, sedangkan bagi Derrida apa yang disebut pengarang hanyalah bentukan fantasi kita yang tidak punya arti apa-apa. Dia yakin pula bahwa pengarang tidak dapat membangun makna melalui karangan yang ditulisnya. Yang dapat ia lakukan hanyalah membuat teks yang tidak berketentuan arahnya, penuh kekaburan dan kacau balau. Pengarang, sebagai manusia posmodernis, adalah individu yang tidak memiliki kesadaran, hasrat dan kehendak yang mantap dan utuh.

            Mengenai penyangkalan pemikir pormodernis terhadap adanya realitas obyektif, dapat dijelaskan secara ringkas seperti berikut. Bagi mereka apa yang disebut realitas hanyalah rekaan atau fiksi yang dibuat oleh kesadaran manusia. Sebagian lagi melihatnya sebagai hasil dari proses sosial dalam konteks tertentu. Bagi Derrida, yang kesangsiannya sangat radikal, realitas bahkan dilihat sebagai hasil konvensi bahasa semata. Sedangkan bagi Baudrillard, apa yang disebut realitas hanyalah simulacra, yaitu imaji-imaji tanpa tuan yang dihamburkan kepada manusia di seluruh dunia oleh  teknologi informasi, atau  teknologi simulasi. Dengan kata lain realitas yang sebenarnya itu tidak ada. Dikaitkan dengan sastra, apa yang disajikan pengarang dalam karyanya hanyalah hamburan gambar kacau balau dan tanpa makna. Oleh karena itu ciri ketiga pemikiran posmodernisme yang terkait dengan itu ialah keyakinan akan ketiadaan makna dalam segala sesuatu.

            Keyakinan ini sebenarnya telah dinyatakan oleh Levi-Strauss yang mengalihkannya menjadi struktur, yang dalam sastra berupa struktur verbal. Tetapi Derrida melangkah lebih jauh dengan mengatakan bahwa wacana apa pun, termasuk kitab suci, tidak dapat dipastikan maknanya. Bahkan tidak membawa makna apa-apa, kecuali permainan tanda yang berkepanjangan dan mendatangkan kegairahan.  Ciri keempat, penolakan terhadap narasi besar dan kebenaran, mendorong mereka lebih mengutamakan narasi kecil yaitu persoalan yang remeh temeh dan tetek bengek sebagai bahan perbincangan serius pemikiran mereka (Md Salleh Yaapar 2002).

            Kaum hermeneutika mencirikan  pemikiran positivistik dan pormodernis sebagai ahistoris, adialektis, dan alinguistik. Menurut Gadamer misalnya, pemikiran seperti itu mengingkari kodrat pemahaman karena setiap pemahaman selalu ada dalam ruang dan waktu tertentu, dan terartikulasikan melalui cakrawala dialektika dan bahasa. Semua bentuk pemahaman dalam dirinya  membawa  sejarah atau kesadaran sejarah sebab pemahaman adalah kesadaran yang dibentuk oleh sejarah. Karya sastra misalnya sebagaimana karya filsafat dan keagamaan, tidak pernah lahir dari kekosongan. Ia lahir di tengah sejarah dengan latar belakang tradisi budaya, pemikiran, dan semangat tertentu yang dibentuk oleh zamannya.

Bagi ahli hermeneutika, pemahaman mustahil pula muncul tanpa dialog dan dialog meniscayakan adanya dua subyek yang saling bertukar cakrawala pemandangan dan pendirian. Teks adalah teman dialog, karena itu tidak dapat dipandang sebagai obyek. Dialog bisa terjadi jika ada komunikasi antara penafsir dan yang ditafsir secara dialektik dan terus menerus sehingga tercapai kebenaran. Teks, seperti penuturan (parole) disampaikan dalam bahasa tertentu dan setiap bahasa memiliki cakrawala. Tanpa keterbukaan dan partisipasi aktif untuk menyingkap cakrawala itu, tidak mungkin teks menyingkapkan pesan terdalam yang dikandungnya. Untuk menafsir kitab Veda seseorang dituntut memahami bahasa Sanskerta, asas-asas ajaran Hinduisme, tradisi-tradisi penulisan yang memungkinkan hadirnya kitab tersebut. Begitu pula agar seseorang mampu memahami dan menafsir al-Qur’an ia dituntut penguasaan terhadap bahasa Arab, aspek-aspek kebahasaan al-Qur’an, serta pokok-pokok ajaran Islam seperti disajikan dalam ilmu-ilmu al-Qur’an (ulum al-Qur’an).

            Berbeda pula dengan pemikiran neo-positivistik dan pemikiran posmodernis yang dekonstruktif, pemikiran ahli hermeneutika menolak pandangan bahwa subyek telah mati. Bagi mereka hakikat manusia selaku subyek, yaitu pengarang, selalu menunjuk pada kenyataan bahwa ia tidak dapat direduksi menjadi obyek dan benda mati,  atau mesin yang bergerak tanpa kesadaran. Begitu pula pengalaman batin dan pemikirannya yang diekspresikan, bukan merupakan sesuatu yang beku dan mandul, tidak juga tertutup bagi hubungannya dengan dunia di luarnya.  Karya filsafat atau sastra adalah hasil perjumpaan manusia dengan realitas dalam sejarah, yang di dalamnya mengandung tanggapan dan penilaian yang dibuat untuk maksud tertentu. Dengan demikian di dalamnya tersembunyi pesan dan makna.

            Keyakinan bahwa wacana atau teks mengandung makna, bahwa bahasa merupakan locus makna, mengharuskan pentingnya dialog penafsir dengan teks. Seperti dikatakan Schleiermacher,  karya seni atau sastra merupakan penjelmaan pribadi seniman atau pengarang, sehingga membaca teks sebenarnya sama dengan berdialog dengan si pengarang. Demikianlah dengan munculnya kembali hermeneutika, masalah menyangkut kodrat bahasa dan makna, serta penafsiran dan subyektivitas pemahaman, hadir kembali dalam perbincangan filsafat, kritik sastra, linguistik, dan ilmu-ilmu sosial. Bahkan lebih jauh, hermeneutika dipandang sebagai tehnik baru bergaul dengan bahasa dan segala bentuk penuturan. Cara bergaul seperti itu tidak dapat dimulai dengan bersikap skeptik terhadap bahasa.

            Di sini jelas ahli-ahli hermeneutika memiliki pendirian yang amat  berseberangan dengan kaum strukturalis.  Paul Ricouer misalnya dengan tegas menolak  pandangan Levi-Strauss yang teorinya menekankan  hubungan sinkronik dalam sebuah karya, dan mengenyampingkan pentingnya  makna atau pesan moral. Bagi Levi-Strauss, yang pendiriannya dikembangkan dari pemikiran Roman Jakobson dan  de Saussure, rangkaian cerita dalam sebuah mitos atau novel misalnya  dianggap tidak penting. Alasannya karena tidak memiliki makna dan fungsi apa pun dibanding kerumitan sistem hubungannya yang tertimbun di bawah rangkaian cerita (mythemes). Saussure juga berpendirian bahwa yang menggerakkan sebuah penuturan atau parole ialah sebuah sistem bawah sadar yang tersembunyi.

            Secara keliru de Saussure juga memandang pikiran yang sadar dan bahasa itu benar-benar terpisah dari realitas dunia. Sedangkan tokoh-tokoh hermeneutika seperti Heidegger, Gadamer, dan Ricouer justru berpandangan sebaliknya.  Bahasa sebagai artikulasi dari das Sein (wujud) tidak terpisahkan dari realitas. Bahasa justru merupakan tempat realitas berlabuh atau menancapkan jangkarnya sehingga kita dapat menelusuri jejaknya. Dengan cara memisahkan bahasa dari realitas dunia, Saussure ingin mengemukakan bahwa pada hakikatnya bahasa itu hanya merupakan sistem perlambangan yang rumit, sebuah struktur yang memungkinkan terjadinya permainan yang tertuju hanya kepada dirinya sendiri.

Dengan kata lain, apa yang dikandung bahasa itu tertutup dari dunia di luar bahasa dan tidak mungkin dicari hubungannya dengan realitas. Dengan demikian makna menjadi nisbi dan tidak mungkin diketahui dengan pasti. Pandangan seperti itu ditolak oleh ahli hermeneutika.  Heidegger misalnya, filosof yang dipandang telah membuka jalan bagi hermeneutika modern, berpendapat bahwa hakikat manusia sebagai das Sein (Wujud) dan Dasein (Wujud di sana) adalah mengada (existenz) melalui bahasa. Bersama eksistensinya manusia bergerak dalam suatu dunia yang tidak berdiri sendiri.  Dalam bereksistensi itu manusia menyatu dengan dunia, karena pada dasarnya seluruh ada dan keberadaan kita itu bertempat di ruang yang disebut dunia, bukan di luar dunia atau di ruang kosong.

Ciri keberadaan sehari-hari kita diungkapkan oleh Heidegger dalam pengertian besorgen, yaitu bergaul dengan segala hal yang dijumpai di dunia. Perjumpaan itu mendorong manusia berpikir dan berpikir selalu bersama bahasa.  Karena berpikir, dengan mengungkapkannya dalam bahasa, merupakan cara manusia bereksistensi dan sekaligus menjawab panggilan realitas. Berpikir tidak mungkin terpisah dari das Sein dan juga dengan apa yang dipikirkan, yaitu segala sesuatu yang dijumpai di dunia yakni realitas. Pikiran bersama bahasa merupakan tempat terjadinya peristiwa Ada dan mengada. Dalam bukunya Sein und Zeit (Ada dan Waktu, 1927)  Heidegger menyebut manusia sebagai Seindes, das redet, yaitu bahwa manusia itu adalah wujud yang berbicara. Adalah bahasa yang membuat manusia jadi manusia. Bahasa pula yang membuat manusia mengenal realitas dan dapat memberi makna kepada realitas.

            Dalam bukunya yang lain Das Wesen der Sprache ia memandang bahwa pada dasarnya bahasa berkaitan dengan penyampaian arti sesuatu. Tanpa realitas bagaimana arti dapat diberikan? Identitas suatu benda menyatakan diri kepada kita, pikiran kita diundang untuk menjawabnya, dan kita menjawabnya melalui penuturan. Bahasa adalah jawaban terhadap panggilan das Sein dan das Sein yang selalu berada di dunia, bukan di tempat lain.

Relevansi Hermeneutika

Tidak mudah memberi takrif atau batasan yang memuaskan terhadap hermeneutika. Lagi pula dari waktu ke waktu hermeneutika mengalami perubahan berkenaan maksud dan tujuannya, serta penekanannya. Wacana atau teks yang dijadikan obyek bahasan ahli-ahli hermeneutika juga berbeda, sehingga dengan sendirinya melahirkan bentuk-bentuk hermeneutika yang berbeda. Wacana sastra berbeda permasalahannya dengan wacana filsafat, permasalahan teks hukum dan keagamaan juga demikian. Begitu pula antara wacana ilmiah dan wacana estetik puisi.

Literary Dictionary  yang diterbitkan Oxford University Press, dengan mengutip pendapat Palmer (1969), mengartikan bahwa hermeneutika adalah teori penafsiran berkenaan dengan permasalahan umum dalam memahami makna teks. Pada mulanya kata-kata ini digunakan untuk menyebut prinsip-prinsip penafsiran dalam teologi, tetapi sejak awal abad ke-19 diperluas ke bidang lain seperti filsafat dan kritik sastra. Mircea Eliade (1993) mengartikan hermeneutika sebagai seni menafsir, yang di dalamnya tiga komponen penting tidak dipisahkan, yaitu teks, penafsir dan pembaca.  Tetapi oleh karena terdapat banyak teks yang pada mulanya satu, seperti teks Bible, maka pekerjaan menafsir dan menafsir kembali teks menjadi tugas yang berat dan rumit. Keadaan ini berbeda dengan teks al-Qur’an atau Tao Te Cing yang tidak memiliki perbedaan sejak dulu hingga sekarang.

            Seperti telah dikemukakan bahwa asal-usul  hermeneutika bersumber dari hasrat yang melekat pada kodrat manusia, yaitu keinginan untuk mencari makna dalam segala sesuatu yang dijumpai dalam hidupnya. Keinginan itu menggerakkan pula dorongan hasratnya yang lain yaitu keinginan menafsir apa yang ditemui dalam hidupnya, termasuk wacana atau penuturan estetik sastra. Dengan kegiatan menafsir itu ia berharap mendapat bekal untuk memahami dan menyikapi segala sesuatu dengan sigap dan penuh keinsafan. Oleh karena itu sasaran hermeneutika merangkum segala hal yang muncul dalam sejarah dan seluruh waktu. Khususnya pada saat-saat ketika seseorang terdorong untuk memahami sesuatu secara langsung, seperti ketika ia berkomunikasi dengan orang lain yang jalan pikiran dan isi pemikirannya berbeda. Proses pemahaman tidak mungkin berkembang tanpa adanya ikhtiar untuk menafsir apa yang kelihatan asing.

            Ketika seseorang mulai melakukan suatu penafsiran atas sesuatu yang belum diketahuinya secara karib, misalnya teks sastra atau keagamaan, maka ketika itulah dia menghadapi situasi pelik berkenaan dengan bahasa dan unsur-unsur lain yang kompleks dalam teks. Situasi ini mendorongnya mencari cara bagaimana menetapkan asas-asas penafsiran agar proses pemahaman dapat dimulai. Dalam kenyataan, tidak sedikit pula  teks, wacana atau ekspresi tertentu   yang tidak dapat diberi makna secara benar sebelum seorang penafsir memahami asas-asas pemikiran atau pandangan dunia yang disiyaratkan dalam teks. Ketakpahaman ini membuat makna tampak kabur dan tidak memiliki makna. Demikianlah kekaburan makna menjadi rintangan besar untuk memahami teks secara langsung.

            Situasi inilah yang menimbulkan rasa asing. Bukan hanya ketika seseorang mencoba berkomunikasi dengan teks lama saja yang kerap menimbulkan rasa asing dan tak paham, tetapi juga ketika ia berusaha berkomunikasi dengan teks mutakhir.  Bahkan, menurut Dilthey dan Gadamer, dalam percakapan dengan orang lain yang hidup dalam lingkungan masyarakat dengan tradisi budaya dan keagamaan yang sama, situasi asing itu kerap muncul. Terlebih ketika kita membaca sebuah puisi, melihat lukisan, mendengar lagu atau musik, membaca buku sejarah tentang peristiwa yang sebenarnya belum jauh dari masa hidup kita.

            Situasi asing ini hanya dapat dipupus dan dihalau apabila ada penghubung atau perantara yang memungkinkan terhalaunya rasa dan situasi asing itu. Untuk menghalau situasi asing itu tidaklah mudah. Dunia dalam cakrawala pemikiran kita, yang telah kita akrabi, cenderung menolak sesuatu yang baginya asing. Tetapi dunia dalam cakrawala teks adalah sebaliknya. Ia menginginkan cakrawala pemikiran kita dilebur dengannya. Dalam keadaan seperti itu hermeneutika dapat berperan menjembatani dua dunia atau cakrawala pemikiran yang berbeda.

            Begitulah sebagai sebuah gejala, hermeneutika mencakup baik sesuatu yang asing yang membujuk kita untuk mengakrabinya maupun pemahaman kita yang cenderung menolak sesuatu yang asing bagi dunianya. Cakrawala pemikiran seorang penafsir adalah bagian utuh dan padu dari peristiwa pemahaman. Begitu pula prosedur tersurat yang akan dilebur atau dipadukan dengan obyek yang asing. Semua itu mengharuskan peran serta langsung suatu tradisi di dalam tradisi-tradisi lain yang bukan merupakan obyek pemahaman, tetapi sebagai kondisi yang harus diatasi sebelum sebuah pemahaman terjadi.

            Gadamer (1976) menyebut ini sebagai dimensi reflektif dari pemahaman, suatu dimensi yang sering dilupakan dalam kegiatan penafsiran sebelum ini hingga kerap menimbulkan distorsi terhadap kandungan dan semangat teks. Hilangnya dimensi renungan inilah yang merupakan kekurangan menyolok teori modern yang berkembang dari tradisi neo-positivisme. Sebab-sebab munculnya gambaran distorsif, seperti yang kebanyakan terjadi  dalam kajian orientalisme terhadap karya-karya Timur, ialah karena teori-teori yang dijadikan asas penelitian dan penafsiran pada dasarnya ahistoris, adialektik, dan alinguistik.

Teori-teori neo-positivistik itu, sejalan dengan watak neo-positivisme, diasaskan dengan tujuan mengeksplikasikan kebenaran yang sudah tersirat dalam teori. Teori digunakan untuk mengendalikan teks, bahkan menguasainya dengan makna dan kebenarannya sendiri. Hermeneutika sebaliknya, mengharuskan terjadinya dialog intensif dan dialektika antara penafsir dan teks.  Kesejarahan teks berikut asas-asas metafisikanya tidak seharusnya dikesampingkan. Karena teks disajikan dalam penuturan verbal bahasa, sedangkan bahasa adalah wadah makna (locus of meaning) dan merupakan satu-satunya media bagi manusia untuk mengungkapkan realitas yang dikenalnya, maka seorang penafsir sudah semestinya tidak menafsir teks di luar cakrawala bahasa.

 Kata-kata ‘hermeneutika’ (hermeneutics) berasal dari bahasa Yunani, hermeneutice atau hermeneutikos. Kata-kata hermeneutikos sendiri dibentuk dari perkataan hermeneuin yang arti harfiahnya ialah penafsiran. Kata-kata hermeneuin sendiri diambil dari nama tokoh dalam mitologi Yunani, yaitu Hermes, yang dititahkan Yupiter atau Zeus untuk menyampaikan pesan para dewa di kayangan kepada manusia di bumi. Hermes sering digambarkan sebagai makhluk seperti manusia dengan kaki bersayap, yang melambangkan pesan yang ingin disampaikan, dalam arti sebagai sarana bagi manusia untuk melakukan penerbangan menuju kebenaran yang tempatnya berada di alam metafisik. Nama Hermes dalam bahasa Latin ialah Merkurius. Ia dipadankan dengan Nabi Enoch dalam tradisi Kristen, sedangkan Nasr (1981) menyamakan perannya dengan Nabi Idris, nabi pertama dalam Islam yang diperkenankan mikraj ke langit lapis empat untuk menerima pesan ketuhanan yang harus disampaikan kepada manusia di atas bumi.

            Tugas Hermes sebagai utusan Dewa sangat penting dan berat. Jika saja terjadi kesalahan dalam menerjemahkan atau menafsirkan pesan dewa dalam bahasa manusia, maka akibatnya akan fatal. Salah arti akan timbul, menyebabkan manusia akan pula hidup di jalan sesat. Untuk dapat melakukan tugasnya dengan baik Hermes dituntut bukan saja menguasai pesan para dewa, maksud dan tujuan dari pesan itu dan untuk keperluan apa pesan itu disampaikan, serta dalam situasi apa pula. Agar dapat menyampaikan pesan dewa dengan baik, Hermes harus menguasai bahasa manusia dan mampu memengurai pesan yang harus disampaikan secara artikulatif melalui bahasa yang dikuasainya.   Dalam kaitan ini dikatakan pentingnya seorang ahli hermeneutika memperhatikan aspek kesejarahan dan kebahasaan dari teks atau wacana yang ditafsirkan.

            Dalam pengertian ini bahasa memiliki kedudukan penting sebagai media penyampai pesan atau makna, dan isi makna itu ialah ‘kebenaran’ yang berasal dari alam ketuhanan. Bahasa juga merupakan simbol dan seperti sebuah simbol ia merupakan tangga naik mencapai sesuatu yang bersifat keruhanian. Makna sebuah penuturan bersifat keruhanian atau trasenden. Ia tidak tersurat, melainkan tersirat dan merupakan sesuatu yang diisyaratkan. Sesuai dengan arti etimologisnya itu hermeneutika dihubungkan baik dengan seni maupun teori pemahaman dan penafsiran ekspresi kebahasaan (linguistics) dan bukan kebahasaan.

Sesuai arti etimologisnya hermeneutika lantas disebut sebagai teori penafsiran terhadap semua ekpresi kebahasaan dan bukan. Stanford Encycloaedia (2004) mendefinisikan sebagai teori umum penafsiran yang sejarahnya dapat ditelusuri ke zaman Yunani Kuna. Tetapi sejak abad pertengahan di Eropa hingga pertengahan abad ke-18 M, cakupan hermeneutika dipersempit hanya sebagai cabang dari kajian Bibel. Ada tiga komponen penting yang memungkinkan penafsiran terjadi. Pertama, ada teks atau ungkapan tekstual yang perlu sekali diberi tafsir. Kedua, ada penafsir yang memiliki pengetahuan luas berkaitan dengan teks yang akan ditafsir. Ketiga, pembacaan yang bersungguh-sungguh atas teks yang hendak ditafsir. Karena dalam kenyataan  terdapat  teks yang semula tunggal versinya, namun disalin menjadi berbagai versi, maka tugas menafsir lantas menjadi berat. Dia memerlukan berbagai displin bantu seperti mitologi, linguistik, filologi, sejarah, teologi, dan lain-lain-lain.

            Untuk memahami apa itu hermeneutika, perlu juga kita melihat bagaimana ilmu yang mirip dengan itu diberi arti dalam tradisi intelektual lain di luar Barat. Misalnya dalam tradisi intelektual Hindu dan Islam, yang sudah sejak lama mengembangkan  bentuk-bentuk hermeneutika yang mantap dan berkelanjutan. Jadi berbeda dengan di Barat selama berabad-abad hermeneutika diberi arti sempit, bahkan dapat dikatakan hampir tenggelam hingga zaman kebangkitannya kembali dalam dasawarsa 1970an. Pada abad ke-17 misalnya, yaitu zaman mekarnya rasionalisme Cartesian, hermeneutika sebenarnya telah mandeg karena beralih fungsi. Seperti dikatakan Heidegger, tugas filsafat bagi Descartes ialah untuk menunjukkan bagaimana agar subyek secara rasional membangun kepastian yang epistemik sehingga hasil penelitian dapat dinilai salah benarnya secara rasional. Sedangkan kebenaran tidak selamanya dapat ditangkap secara rasional, pun tidak selamanya kebenaran dapat diekspresikan melalui wacana yang bersifat rasional. Ekspresi sastra adalah contoh terbaik. Sejak lama bentuk penuturan yang disebut sastra selalu mengelak untuk menjadi ungkapan pengalaman manusia yang semata-mata bersifat rasional.

 



Catatan:

[i] Untuk contoh ialah konperensi internasional yang diselenggarakan Rutgers University AS sebelas tahun tahun lalu, tepatnya bulan Oktober 1996. Tema yang dibahas dalam konperensi itu ialah “Tradisi Hermeneutik Dalam Kebudayaan Cina”. Konperensi yang juga disponsori oleh Program Studi Asia Timur Princeton University dan National Taiwan University ini membahas tiga sistem pemikiran dominan di Cina dan tradisi hermeneutika yang berkembang dari masing-masing, yaitu Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme, mendapat sambutan luar biasa. Sejak itu kajian terhadap teks-teks klasik Cina yang selama ini mandeg, bangkit kembali secara mengejutkan.  Konferensi kedua diselenggarakan oleh City University of Hongkong pada bulan Oktober 1999. Dua konferensi ini berhasil menunjukkan betapa pentingnya kedudukan hermeneutika Cina dalam studi Sinologi yang selama ini dikembangkan hanya berdasarkan pandangan orientalis dan teori Barat. Dua buku penting  dari konferensi ini telah terbit pula: (1) Imagining Boundaries: Changing Confucian Doctrines, Texts and Hermeneutics (Albany, N. Y.: SUNY Press, 1999) suntingan Kai Wong Chow dkk; (2) Chinese Thought in a Global Context: A Dialogue Between Chinese and Western Aproaches (Leiden: Brill, 1999), yang disunting olehg Karl-Heinz Pohl.

Tentu sudah banyak buku dan artikel ditulis tentang hermeneutika Cina. Bahkan jauh sebelumnya telah terbit sejumlah buku tentang teori sastra yang berkembang Cina dan dipraktikkan dalam penelitian terhadap karya para penulis Cina dengan hasil yang lebih memuaskan dan dapat memberi pencerahan dibanding kajian yang menggunakan perpspektif dan teori Barat. Saya ingin mengutip pandangan Zhang Long Xi dalam esainya “Hermeneutics and the Revival of Classics Studies” (2002).

Menurutnya kebangkitan kembali hermeneutika dan kesadaran akan relevansinya, telah membantu menghidupkan kembali minat dalam meneliti teks-teks klasik di Cina, serta mendorong banyak cendekiawan di Timur, melihat kembali teks-teks klasik dari tradisi bangsa mereka dengan pandangan baru yang memberikan pencerahan. Kemudian setelah itu meneliti dan mempelajari kembali teks-teks yang pernah dipandang sebagai kanon dalam bidang masing-masing, seperti Sih Ching, I Ching, Lun Yu (Konfucius), Tao Te Ching (Lao Tze), dan lain-lain, termasuk puisi-puisi Tu Fu, Li Po, roman alegoris abad ke-17 Hung Lo Meng (Impian Dari Rumah Merah) dengan perspektif baru penuh makna.

Dalam sejarah modern Cina, katanya, sebagaimana dalam sejarah modern Asia yang lain, diperkenalkannya ide-ide, konsep-konsep, dan nilai-nilai Barat telah menyuburkan munculnya kecaman dan penolakan terhadap kebudayaan Cina dan hasil-hasil peradabannya yang tinggi. Teks-teks Konfucianis dan Taois, yang berabad-abad lamanya dijadikan teks-teks kanonik tidak lagi dikaji dengan anthusias seperti selama dua ribu tahun sebelumnya, bahkan diejek sebagai tidak bermakna. Ini benar-benar merugikan perkembangan kebudayaan. Sama dengan kerugian yang diakibatkan oleh merosotnya kajian terhadap Bibel di Eropa sejak zaman Pencerahan dan terlebih-lebih setelah kian dominannya positivisme dan neo-postivisme dalam dunia ilmu.

Anthusiasme yang sama terhadap kebangkitan kembali hermeneutika tampak di India dan negara-negara Islam. Baik dalam tradisi kecendekiawanan India maupun Islam, hermeneutika telah berkembang lama dan boleh dikatakan tidak pernah redup hingga masa yang paling akhir. Anthusiasme itu di India tampak pada banyaknya seminar dan konferensi internasional tentang hermeneutika, khususnya hermeneutika India, diselenggarakan sejak dasarwasa 1990an. Banyak buku dan esai telah ditulis tentang hermeneutika India beserta prinsip-prinsip universalnya. Di antara konferensi yang diadakan itu yang penting ialah yang diselenggarakan Program Studi Sanskrit-Sahitya, Universitas Sri Sankaracharya. Makalah-makalah konferensi ini dihimpun oleh P. C. Muraleemadhavan dalam antologi Indian Theories of Hermeneutics (Kalady: New Bharatiya Book Corporation 2002). Dalam buku ini diperlihatkan luasnya cakupan hermeneutika sebagai tehnik dan praktik penafsiran teks meliputi eksegesis Veda seperti Brahmana-kanda dan Upanishad, sastra dan pustaka Tantrisme, filsafat (darsana), kritik sastra, studi teater, linguistik, musik, arsitektur, ilmu sosial, ekologi, leksikografi, Ayurveda, astronomi, jurisprudensi (kutaramanawa) dan lain-lain.

ii Dengan bersandar pada pendapat kepada pendapat Robert Alter dalam makalahnya “The Decline and Fall of Literary Criticism” yang disampaikan dalam Simposium Internasional Professing Literature (London 1982) Sutardji Calzoum Bachri mengatakan bahwa pemberhalaan terhadap teori sastra membuat kritik sastra di Indonesia mundur dan berada di ambang kehancuran. Dalam simposium yang sama Rene Wellek, pengasas teori sastra mutakhir dan penulis textbook Theory of Literature bersama Austin Warren, dengan jujur juga memihak pendapat yang menyalahkan penggunaan teori secara berlebihan sebagai penyebab mundurnya kritik sastra di seluruh dunia. Ini terutama ditujukan pada teori dekonstruksi dan salah mengerti terhadap teori strukturalis, yang menolak adanya tafsir yang tepat dan karena itu merangsang timbulnya pendapat yang seenaknya dan berubah-ubah, sewenang-wenang, dan akhirnya anarki. Tetapi Sutardji tak menganjurkan agar kita menutup diri terhadap teori-teori dari mana pun. Yang harus dihindari ialah agar kritik sastra tidak cenderung menjadi fiksi , misalnya akibat kebebasan penafsiran secara tidak terbatas. Lihat Sutardji Calzoum Bachri Isyarat, Yogya: Indonesia Tera 2007, h. 335-8.

Dalam percakapannya dengan penulis pada awal tahun 2006 Fuad Hasan (alm.) mengatakan bahwa kecenderungan luas di kalangan mahasiswa dan sarjana sastra ialah kurangnya minat membaca karya sastra, yang klasik mapun yang modern dan kontemporer, disebabkan anthusiasme mempelajari berbagai teori sastra. Akibatnya kajian teks mundur di perguruan tinggi. Salah satu sebabnya ialah kekeliruan menanggapi pembedaan klasifikasi Ferdinand de Saussure atas bahasa menjadi langue dan parole.  Tidak sedikit yang beranggapan bahwa walau keduanya merupakan aspek-aspek dari bahasa yang sama pentingnya, tidak berarti makna dan bobotnya sama bagi perkembangan ilmu sastra. Tetapi karena parole lebih mudah dipelajari dibanding langue, maka kajian lebih ditekankan pada aspek bahasa yang disebut parole. Akibatnya kajian ilmu bahasa merasa tidak memerlukan teks sastra sebagai materi kajiannya. Selain lebih rumit, penelitian atas teks sastra lebih banyak lagi memerlukan disiplin bantu seperti psikologi, sosiologi, linguistik,  falsafah, sejarah pemikiran, agama, anthropologi dan sejarah kebudayaan.

                Tetapi marilah kita lihat kerugiannya. Parole menurut de Saussure adalah segi statistik dari bahasa dan terjelma dalam bahasa pertuturan sehari-hari. Bahasa pertuturan tidak stabil,  tidak bisa diterka polanya dan berbeda-beda tergantung pemakainya. Ia terbelenggu dalam waktu yang diakronis, selalu tertuju pada konteks tertentu ketika si penutur mengucapkannya. Langue dapat dikatakan sebagai bahasa yang ditulis dalam bentuk risalah atau wacana. Dengan meminjam istilah Jawa dapat disebut wawacan.  Ia adalah bahasa dalam aspek strukturalnya, artinya mengandung bangunan yang terstruktur sedemikian rupa. Ia tidak terpengaruh oleh pribadi yang menggunakannya. Wawacan berada dalam waktu yang ‘reversible’, dapat  berbalik ke belakang atau ke depan, karena ia tidak terperangkap dalam waktu yang diakronis. Tetapi sekaligus berada dalam waktu yang tidak bisa mengacu ke masa lampau atau ke masa depan (Ray 1984).

Sastra adalah wujud dari aspek bahasa yang disebut langue. Ia bisa menjelaskan masa lalu, sebagaimana menjelaskan masa depan. Masa lalu yang dijelaskan oleh karya sastra ialah pengalaman, kondisi kemanusiaan, kecenderungan pemikiran dan estetika yang dominan ketika karya itu ditulis oleh pengarangnya. Masa depan yang dijelaskan ialah pesan moral dan kemanusiaan yang relevan pada masa kini dan masa yang akan datang, walaupun jarak waktunya sudah begitu jauh dari masa penciptaan karya tersebut. Ungkapan dalam sajak “Catetan 1946” Chairil Anwar, “Kita — anjing diburu — hanya melihat sebagian dari sandiwara sekarang/Tidak tahu Romeo dan Yuliet berpeluk di kubur atau di ranjang…” dapat ditangkap pesannya dalam konteks kehidupan sosial dan politik sekarang ini. Dengan demikian ia berada pula dalam waktu yang tidak berbalik ke belakang lagi.

Yang dimaksud pemahaman yang  keliru terhadap gagasan Saussure ialah anggapan bahwa seolah-olah pembedaan bahasa menjadi parole dan langue harus diartikan sebagai pembedaan tugas antara linguistik dan ilmu sastra. Linguistik lantas mengenyampingkan penelitian terhadap teks-teks sastra yang mewakili langue, dan mengutamakan bahasa keseharian yang mewakili parole. Kajian linguistik pun lantas cenderung ahistoris. Di sebelah yang lain kajian sastra  lambat laun beralih dari kajian teks ke kajian ‘sastra lisan’ sebab terpukau oleh pandangan Levi-Strauss yang begitu mengunggulkan mitologi sebagai sesuatu yang logis dan universal, serta tidak memerlukan teori tentang ‘interaksi budaya’ dalam upaya memahaminya, suatu hal yang berbeda dengan kajian atas karya tulis apalagi novel Umar Kayam, Kuntowijoyo, Iwan Simatupang, atau Mochtar Lubis.

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: