Upaya Penyederhanaan Nahwu

November 21, 2008 at 1:19 pm (Kajian Linguistik & Pengajaran Bahasa, Linguistik Arab)

PENDAHULUAN
Bahasa Arab mempunyai peranan yang amat penting bagi kehidupan manusia, ‎khususnya umat Islam. Secara garis besar peranannya dapat dikelompokkan menjadi tiga ‎bagian, yaitu : peranannya dalam agama, peranannya dalam ilmu pengetahuan dan peranannya ‎dalam pergaulan.‎ ‎ Dengan beberapa peranan diatas, maka pembelajaran bahasa Arab kian hari ‎mengalami kemajuan yang sangat pesat. Tidak terbatas di negara-negara yang mayoritas ‎penduduknya muslim, tetapi sudah merambah ke negara–negara barat. Misalnya di Harrow ‎Technical College London bahasa ini secara intensif diajarkan, di London University, di ‎University Of Utah, di University of Oxford, di Portland State Collage ‎ dan negara-negara ‎lain bahasa Arab sudah kian semarak dan mulai disukai oleh para mahasiswa.
Dalam setiap bahasa ada kesemestaan aturan ‎, demikian juga dengan bahasa Arab. ‎Aturan-aturan bahasa Arab disusun guna mempermudah bangsa lain/ non Arab untuk ‎mempelajarinya. Aturan-aturan bahasa secara garis besar meliputi; a. sistem bunyi/ phonologi ‎system (‎الصوتى‎ ‎النظام‎), b. sistem kata dan bentuk perubahannnya/ morphology system (‎الصرفى‎ ‎النظام‎ ), sistem kalimat dan susunan struktrurnya/ syntactical system ( ‎النحو‎ ‎النظام‎ ) serta sistem ‎susunan kalimat dan jenis maknanya/ semantic system ( ‎الدلالى‎ ‎النظام‎) ‎ ‎.‎
Setelah penguasaan pada sistem bunyi bahasa Arab, kemudian dilanjutkan dengan ‎pembelajaran sistem bentuk–bentuk kata yang dikenal dengan ilmu sharaf dan sistem ‎penyusunan kalimat dan dikenal dengan ilmu nahwu. Dan kedua istilah ilmu ini kemudian ‎lebih sering digabungkan untuk sebutan ilmu tata bahasa Arab dengan nama Ilmu Nahwu ‎Sharaf ‎.‎
Dalam tataran praktis para pemula baik orang Arab apalagi non Arab merasa ‎kesulitan dalam pembelajaran ilmu nahwu sharaf ini, dan khususnya ilmu nahwu yang ‎disebabkan karena begitu kompleknya kaidah-kaidahnya. Bagi pelajar Indonesia merasakan ‎kesulitan ini dikarenakan kaidah nahwu sangat jauh berbeda dengan kaidah bahasa ‎Indonesia. ‎
Contoh kesulitan tata bahasa Arab/ nahwu ini antara lain karena dalam bahasa ‎Arab dikenal adanya teori i’rab ( perubahan harokat dan huruf di akhir kata) yang disebabkan ‎karena ada amil ( kata yang bisa mempengaruhi kata sesudahnya), teori tawabi’ ( teori ‎penyesuaian i’rab kata dengan kata sebelumnya) dan masih banyak kaidah-kaidah lain yang ‎menyulitkan bagi para pemula dimana kaidah-kaidah itu tidak dijumpai dalam bahasa ‎Indonesia. Namun di sisi lain kerumitan ini justru sebagai bukti bahwa bahasa Arab ‎mempunyai kelebihan dan kekayaan bahasa. ‎
Dengan adanya beberapa kesulitan penguasaan nahwu bagi pemula maka ada ‎beberapa ahli bahasa Arab yang mencoba menyederhanakan materi nahwu. Salah satunya ‎adalah Dr. Sauqi Dzaif dengan merekonstruksi materi nahwu dengan bentuk yang baru yang ‎berlandaskan pada prinsip mudah, ringkas, sederhana dan gampang dipahami oleh pemula ‎ ‎Upaya itu dirumuskan dalam salah satu kitabnya yang berjudul Tajdid al-Nahwi. Kitab ini ‎sebetulnya terinspirasi ketika beliau melakukan pentahqiqan sebuah buku yang berjudul Al ‎Rad ala an-Nuhat karya Ibnu Madza’ al-Qurtubi.(w.592H) dengan diberi judul pentahqiqan ‎Kitab al- Rad ala an – Nuhat li Ibn Madza. ‎
Buku Al Rad ala an-Nuhat karya Ibnu Madza al-Qurtubi itu sendiri menunjukkan ‎telah adanya upaya penyederhanaan nahwu yang telah dilakukan oleh ahli bahasa Arab jaman ‎dahulu (abad 6 H). Namun usaha itu terhenti hingga upaya ini muncul kembali pada abad ke ‎‎14 H/ abad 20 M baik dilakukan secara individu ataupun lembaga. ‎
Diantaranya adalah Rifa’at al-Tahtawi (1801-1873 M) dengan karya : Al-Tuhfat al-‎Maktabiyaht fi-Taqrib al-Lughat al-Arabiyah, kemudian Ali Jarim dan Musthafa Amin dengan ‎karyanya : Al-Nahwu al-Wadzih, Ibrahim Musthafa dengan karyanya : Ihya’ al-Nahwi (1937), ‎Hasan kamil dengan karyanya al-Arabiyah al-Mu’ashirah dan Syauqi Dzaif sendiri dengan ‎karyanya : Kitab al-Radd ‘ala an-Nuhat li Ibn Madha al-Qurtuby, Tajdid al-Nahwi dan Taisir ‎al-Nahwi al –Ta’limi Qadiman wa haditsan ma’a Nahji Tajdidihi.‎ ‎ ‎
Adapun lembaga yang telah mengadakan usaha penyederhanaan nahwu adalah ‎Departemen Pendidikan dan Pengajaran Mesir pada tahun 1938 M. Majma’ al-Lughah Mesir ‎melalui sidang mu’tamar tahun 1945 dengan menyusun kitab pembelajaran nahwu yang ‎ringkas namun kitab ini belum membuahkan hasil. Lalu dilanjutkan sidang-sidang muktamar ‎berikutnya yang dilaksanakan pada tahun 1977 M, 1979 M, 1981 M atas masukan-masukan ‎dari Dr. Syauqi Dzaif.‎ ‎ ‎
Di Negara Indonesia kitab – kitab diatas, namun kitab-kitab yang lain untuk ‎kalangan pembelajar dan lembaga yang mengajarkan bahasa Arab belum banyak dikenalkan. ‎
Dan makalah ini akan menguraikan teori-teori penyederhanan nahwu yang ‎penulis batasi pada usaha-usaha yang telah dilakukan oleh Ibnu Madza Al- Qurtubi dan Dr ‎Sauqi Dzaif. Karena hemat penulis usaha penyederhanaan dari kedua tokoh ini sudah ‎mewakili upaya-upaya penyederhanaan dari para pakar bahasa lainnya. Untuk konteks ‎penyederhanaan nahwu di antaranya sudah terbit beberapa kitab salah satunya adalah Durus ‎al Lughat al Arabiyah karya KH. Imam Zarkasyi yang diajarkan di pondok modern Gontor ‎dan sudah dikenalkan dan diajarkan di pondok-pondok pesantren modern lainnya di ‎Indonesia. Kalau di pondok pesantren tradisional (salaf) kebanyakan masih tertarik ‎mengajarjkan kepada para santri-santrinya nahwu yang masih asli/ murni ( penuh kaidah-‎kaidah filososfisnya). ‎
Pengembangan penyederhanan nahwu juga telah dilakukan oleh guru-guru ‎madrasah dengan mengacu pada kitab-kitab nahwu yang telah disederhanakan. Pembatasan ‎ini juga agar pembahasan lebih terfokus dan mendalam guna pengembangan pengetahuan ‎tentang penyederhanaan nahwu selanjutnya. ‎
PEMBAHASAN
A.‎ Pengertian Nahwu dan Sekelumit Sejarah Kemunculannya
Menurut Ahmad al Hasyim, nahwu secara etimologi berarti maksud, arah ‎dan ukuran. Adapun secara terminology nahwu adalah aturan (dasar hukum) yang ‎digunakan untuk memberi baris (syakal) akhir kata sesuai dengan jabatannya masing-‎masing dalam kalimat agar terhindar dari kesalahan dan kekeliruan, baik bacaan maupun ‎pemahaman.‎
Nahwu pertama kali digagas oleh Imam Ali bin Abi Thalib untuk ‎memudahkan bagi orang Arab maupun non Arab untuk belajar bahasa Arab. Kemudian ‎gagasan ini dikembangkan oleh Abul Aswad ad Duwali (w. 69 H). selanjutnya dimulai ‎penyusunan pokok-pokok nahwu yang dipelopori oleh Abd al Rohman bin Harmez dan ‎Nasr bin Hasyim. Keduanya murid dari Abu al Aswad ad Duwali.‎ ‎ ‎
Pada abad ke- 2 Hijriyah nahwu dikembangkan oleh Al Khalil bin Ahmad ‎al-Farahidi (w.175 H) dengan mematangkan teori nahwu yang disusun Sibawaih ‎‎(w.180 H) yang nota bene sebagai murid Al Khalil sendiri. Langkah tersebut diikuti oleh ‎Al-Akhfash al-Ausath ( w.211 H) dan Al- Mubarrid ( w. 286 H) dan ulama-ulama lain ‎yang berkembang di negara Bashrah yang digolongkan menjadi al-Nuhaat al-Bashariyun. ‎Kemudian lahirlah kitab-kitab nahwu sebagai karya-karya monumental seperti Alfiyah ‎Ibnu Malik, Alfiyah Al Suyuthi dan Alfiyah Ibnu Mu’thi.‎ ‎ ‎
Nahwu juga mengalami perkembangan dan kejayaan di daerah Kufah. Di ‎antara ulama-ulama yang mengembangkannya adalah Al-Kisa’i ( w.189 H), Al-Farra’ ‎‎(w.208 H) Tsa’lab (w. 291 H) dll yang selanjutnya dikenal sebgai al –Nuhaat al-‎Kufiyun.‎ ‎ ‎
Pasca perkembangan di Bashrah dan Kuffah sebagaimana dijelaskan ‎dalam kitab al-Madaris al-Nahwiyah nahwu mengalami kemajuan di Bagdad, Andalus ‎dan Mesir. Pereode ini nahwu sudah mengalami efesiensi dan reformulasi seperti yang ‎disusun oleh Ibn Jinny ( w. 392 H) di Baghdad, Ibn Madha Al-Qurtuby ( w. 592 H) di ‎Andalus, Al-Sayuthi (911 H) di Mesir.‎
B. Urgensi Nahwu dan Kesulitan-kesulitannya
Nahwu disusun disamping untuk memudahkan orang untuk mempelajari ‎bahasa Arab juga dapat sebagai alat bantu agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan dalam ‎penggunaan bahasa Arab sebagai alat komunikasi baik tulisan maupun lesan. Karena ‎terjadinya kesalahan tidak hanya berakses terhadap kesulitan audience/orang kedua dalam ‎memahami pesan, tetapi juga merubah makna pesan dari yang dimaksud oleh penyampai ‎pesan.‎ ‎ Sehingga siapapun yang belajar atau mengajar bahasa Arab, mutlak untuk ‎memahami struktur sintaksis (nahwu) maupun morfologi (shorof).‎
Senada dengan itu, Ahmad Fuad Effendi mengatakan bahwa pengajaran ‎tata bahasa (nahwu shorof) berfungsi sebagai penunjang tercapainya kemahiran bahasa, ‎tetapi tata bahasa bukan tujuan melainkan sarana untuk dapat menggunakan bahasa ‎dengan benar dalam berkomunikasi.‎
Mayoritas orang yang belajar nahwu merasa kesulitan dalam menguasai ‎materi nahwu, khususnya non Arab, hal tersebut dikarenakan materi nahwu yang cukup ‎banyak dengan aturan –aturan yang sangat rumit. Muhammad Abd al-Syahid Ahmad ‎memformulasikan beberapa kesulitan itu disebabkan karena; pertama, banyaknya topik-‎topik pembahasan materi nahwu yang antara satu sama lain memiliki perbedaan yang tipis ‎seperti : maf’ul muthlaq, maf’ul ma’ah, maf’ul li ajlih dan lain-lain dan kedua, contoh-‎contoh yang dipakai dalam menjelaskan materi adalah contoh-contoh yang tidak ‎situasional dan jauh dari kehidupan sehari-hari peserta didik.‎
Menurut Ibnu Madha al Qurtubhi (w. 592 H), ada empat faktor penyebab ‎sulitnya belajar nahwu., pertama adanya teori amil ( perubahan harakat/ sakl di akhir kata, ‎kedua adanya teori ‘illat tsawani dan tsawalits (alasan dari pemberian sakl) , ketiga teori ‎qiyas ( mencari kesamaan tentang alasan perubahan harakat pada kata) dan keempat teori ‎al Tamarin al Muftaridhah ( kaidah-kaidah perubahan huruf dalam sebuah kata).‎ ‎ Dr. ‎Syauqi Dzayf dalam kitabnya Tajdid al-Nahwi menambahkan uraian tentang beberapa ‎kesulitan yang ada dalam kaidah nahwu di antaranya; teori istighal, teori i’rab taqdiri dan ‎mahalli, teori ‎‏ ان ‏masdariyah muqoddaroh(yang dikira-kirakan) dan lain sebaginya dengan ‎penjelasan lengkap tersaji dalam sub bab usaha-usaha penyederhanaan nahwu
Menurut hemat penulis bahwa kesulitan khusus yang dihadapi pembelajar ‎bahasa Arab Indonesia tentang nahwu adalah adanya perbedaan yang kontras antara ‎bahasa Arab dengan bahasa Indonesia. Perbedaan yang terpenting dapat penulis ‎kelompokkan dalam 4 hal, yaitu :‎
‎1.‎ Adanya aturan cara membaca/ mengucapkan huruf di akhir kata dan adanya ‎perubahan bacaan yang disebabkan amil. ‎
Misalnya: ‎رايت عمرا ‏‎ ,‎جاء عمر ‏‎ ‎
‎2.‎ Perbedaan struktur kalimat nominal dan verbal.‎
Perbedaan aturan itu akan mempengaruhi pula dalam memahami bahasa Arab, mis ‎ذ ‏هب احمد الى السوق‎ maka arti yang menurut susunan bahasa Indonesia adalah Pergi ‎Ahmad ke pasar. Dan ini janggal menurut bahasa Indonesia.‎
‎3.‎ Perbedaan pola kalimat
‎- Pola penyusunan kata tunjuk, misalnya ‎هذا القلم جميل‎ berbeda dengan ‎قلم جميل‎ ‎هذا‎ ‎
‎- Pola pendahuluan obyek, misalnya ‎السيارة سيركبها احمد‎ ( O-P-S) pola ini jarang dan ‎bahkan tidak pernah dijumpai dalam bahasa Indonesia.‎
‎4.‎ Adanya persesuaian antara kata dalam kalimat
a.‎ Kesesuaian i’rab/ harokat/ bunyi akhir kata , contoh ‎كتاب جميل‎, ‎كتابا جميلا
b.‎ Kesesuaian jenis kata contoh kata ‎كتاب جميل‎, ‎مدرسة جميلة‎.‎

C.‎ Usaha- Usaha Penyederhanaan Nahwu
‎1.‎ Menurut Konsep Ibnu Madha al Qurtuby
a.‎ Membuang teori amil, menurutnya praktek analisis amil ini sangat menyulitkan ‎siswa, karena pengucapan kata dalam kalimat tergantung kepada orang yang ‎mengucapkannya.‎
Amil adalah kata yang mempengaruhi harokat atau huruf (I’rab) pada kata ‎sesudahnya dalam bentuk rofa’/ dzomah dan sebangsanya, nashob/ fathah dan ‎sebangsanya, jazm/ sukun dan sebangsanya dan jar/ kasroh dan sebangsanya. Amil ‎ini ada yang tampak/ lafdzi dan tidak tampak/ ma’nawi ‎. Teori amil ini dianggap ‎membingungkan siswa, sehingga praktek analisis filosofis seperti ini oleh Ibnu ‎Madza tidak efisien maka perlu untuk dikesampingkan.‎
b.‎ Mengilangkan illat tsawani dan tsawalits, karena illat ini sangat menguras pikiran ‎siswa dan sebenarnya tidak diperlukan dalam kelancaran dan kefasihan berbicara. ‎Illat adalah alasan, maksudnya alasan-alasan yang diberikan dalam menganalisa ‎kalimat dalam strukturnya, Illat tsawani maksudnya dua alasan secara bertingkat ‎contoh ‎المسلمون يصلون‎, lafadz ‎يصلون ‏‎ dibaca rafa’ karena tidak adanya amil/ ‎tajjarud, tanda rafa’nya nun/ tetapnya nun. Alasan diatas belum selesai‏ ‏‎ yang ‎diteruskan dengan satu alasan lagi nun yang digunakan sebagai tanda rafa’ ‎dikarenakan ‎يصلون‎ termasuk af’al al-khamsah. ‎
Seiring dengan itu cukup mengetahui illat awal saja, misalnya ‎‏ كتب المدرس الدرسdan ‎kata ‎المدرس‎ mempunyai jabatan sebagai fa’il saja, tidak lebih dari itu, tidak perlu ‎diberi alasan dibaca rofa’ dengan tanda dzommah karena isim mufrad/ tunggal dan ‎lain-lain. ‎
Dan alasan di atas bisa bertingkat menjadi tiga alasan/ illat tsawalist contoh :‎كتب ‏المدرس الدرس‎ kata ‎‏ المدرس ‏dibaca rafa karena ada fi’il, maka dia sebagai fa’il. ‎Karena fa’il itu sedikit( satu jenis) maka dibaca rofa’ sedangkan ‎الدرس‎ ‎‏ ‏sebagai ‎maf’ul bih dibaca nasab karena maf’ul bih bisa berkembang menjadi beberapa ‎jenis. Sementara setiap yang banyak, seperti maf’ul bih diberi harakat fathah/ ‎nashab. Menurut Ibn Madha illat kedua dan ketiga di atas dapat melelahkan ‎fikiran yang tidak mempengaruhi kefasehan berbicara sama sekali.‎
c.‎ Menghilangkan teori Qiyas karena teori ini sulit dicerna oleh siswa pemula. ‎Misalnya fi’il mudzarik bisa dibaca rofa’ (dzommah) karena diqiyaskan dengan ‎isim. Pengiyasan itu didasarkan pada dua hal, pertama fiil mudzari dapat ‎dikhususkan dengan menambah huruf sin maka menjadi khusus untuk zaman yang ‎akan dating demikian juga sama dengan isim yang bisa dikhususkan dengan al. ‎Kedua, fiil mudzarik dapat menerima lam ibtida’ sebgaimana isim. Hal inilah yang ‎pada akhirnya menimbulkan masalah.‎ Hal ini tidak perlu sehingga bila fi’il ‎mudzarik dii’rab cukup diberi alasan karena tidak diiringi nun taukid atau nun ‎niswah.‎
d.‎ Membuang analisa Tamarin iftiradziyah/ I’lal/ ibdal karena hal itu tidak diperlukan ‎dan hanya akan menambah masalah bila dipaksakan.‎
Tamarin iftiradhiyah berarti latihan yang dibuat-buat, misalnya kata ‎بيع‎ berwazan ‎فعل ‏‎ bisa dibaca ‎بوع‎ yang aslinya ‎بيع‎ atau dikenal dengan istilah ibdal dan I’lal ‎yang akan menyita banyak energi ‎. ‎
‎2. Menurut Konsep Dr. Syauqi Dhayf ‎
a. Mereformulasi bab-bab nahwu
Yaitu menyusun kembali beberapa bab yang tumpang tindih dan menambah bab-‎bab yang penting seperti dijelaskan sebagai berikut :‎
‎1) Bab ‎كان واخوتها‎ hendaknya dimasukkan pada bab fi’il lazim. Teori merofa’kan ‎isim dan menasobkan khobar diubah total. Istilah isimnya menjadi failnya dan ‎istilah khobarnya menjadi hal saja.‎ ‎ ‎
‎2) Bab ‎كاد واخوتها‎ / af’al muroqobah hendaknya juga dimasukkan pada bab fi’il ‎lazim. Teori merofa’kan isim dan menasobkan khobar diubah total. Istilah ‎isimnya menjadi failnya dan istilah khobarnya menjadi maf’ul bih/ obyek
‎3) Bab ‎لات, لا, ما‎ juga dimasukkan pada bab fi’il lazim, karena huruf-huruf tersebut ‎huruf naïf yang disamakan dengan ‎ليس‎ yang termasuk juga saudara dari ‎كان ‏واخوتها‎. Khusus pada ‎‏ ما ‏‎ proses ‎ما زيد مسافرا‎ berasal dari ‎ما زيد بمسا فر‎ ‎yaitu ada proses membuang huruf jar atau naz’u al-khafadz.‎
‎4) Bab ‎ظن واخوتها‎ dan ‎علم واخوتها‎ dimasukkan pada bab Fiil muta’adi, teori isim dan ‎khobarnya menjadi dua maf’ul bih/ obyeknya.‎‏ ‏‎ Perbedaan keduannya kalau ‎dzonna maksimal membutuhkan 2 obyek sedangkan ‘alima bisa lebih dari dua ‎obyek ‎ dan lain-lain.‎
b. Menghapuskan analisis kata/ I’rab yang filosofis baik taqdiry maupun mahalliy
Contoh dari analisa taqdiriy adalah ‎جأء الفتى‎ dibaca rofa tanpa harus menyebutkan ‎rofa’ muqoddar yang aslinya dzommah. Sedangkan contoh dari nalisa mahally ‎adalah ‎زيد يكتب الدرس‎ jumlah ‎يكتب الدرس‎ adalah mahal roaf’ sebagi khobar jumlah ‎dari Zaid. I’rab taqdiriy juga terjadi pada jumlah yang mengandung dzaraf/ kata ‎keteranagn, dan jar majrur. Jumlah tersebut dasumsikan mempunyai ta’aluq ke ‎fi’il atau isim fa’il yang di kira-kirakan/ taqdirkan ( istaqarra). I’rab taqdiriy juga ‎terjadi pada fiil mudzari’ yang diawali oleh amil nawasib seperti ‎كي‎, ‎لام كي‎, ‎لام ‏تعليل‎, ‎لام جحود‎ ,‎حتي‎.dan ‎‏ او‎ diperkirakan ada huruf an mudzara’ah yang ‎muqaddar. ‎
c.‎ Reorientasi analisa kata (I’rab) yang tidak efisien guna menunjang kemampuan ‎berbicara.‎
Aplikasi I’rab yang tidak efisien tersebut adalah : bab ististna’, bab adawat ‎syarat, kam istifhamiyah dan khabariyah, kata ‎لاسيما‎ dan ‎‏ ان‎ yang dibaca sukun.‎
d.‎ Redefinisi sebagian topic-topik pembahasan Materi Nahwu
Menurut Dr. Syauqi Dzaif paling tidak ada dua definisi topic pembahsan materi ‎nahwu yang perlu diperbaharui, yaitu bab Maf’ul Mutlaq dan Maf’ul ma’ah
Maf’ul mutlaq adalah isim yang menguatkan amilnya misalnya ‎‏ كتبت كتابة‎, ‎menjelaskan macamnya misalnya ‎‏ عمل عمل المخلصينdan menjelaskan jumlahny‏ نظر ‏محمد نظرتين ‏‎. Definisi maf’ul muthlaq semacam ini belum lengkap karena belum ‎menjelaskan aspek lain yang semestinya bisa masuk dalam ruang lingkup maf’ul ‎mutlaq, misalnya penggantian dengan kata yang semakna seperti ‎‏ قام وقوفا‎, dan ‎juga sifatnya seperti‏ قرأت قرأة ‏maksudnya ‎قرأت كثيرا‎, dan juga mengganti isim ‎isyarahnya misalnya ‎فهمه فهما‎ maksudnya ‎فهمه ذلك الفهم‎, atau alatnya misalnya‎‏ ‏‎ ‎ضربه ‏ضرب العصا ‏‎ maksudnya ‎عصا‎ ‎‏ ضربه‎.‎
Sehingga maf’ul mutlaq bisa didefinisikan : Isim yang dinashabkan yang berasal ‎dari kata kerja yang berfungsi untuk memperkuat, mendiskripsikan, dan ‎menjelaskan amilnya.‎
Sedangkan untuk maf’ul ma’ah agar bisa dibedakan dengan bab ‘athaf ma’thuf ‎maka didefinisikan : Isim yang dibaca nashab yang diikuti ‎واو‎ yang bukan athaf ‎yang bermaknaمع ‏‎.‎ ‎ ‎
e.‎ Membuang topic-topik tambahan yang tidak penting yang bersifat furu’‎
Topik-topik yang sifatnya hanya sebagai pelengkap menurut Dr. Syauqi Dzaif ‎adalah : Bab Tahdzir/ peringatan ‎اياك الكسل‎, Bab ighra’/ ajakan‎‏ الدرس الدرس ‏‎ yang ‎berartiالزم الدرس‎, dan tarhim/ pembuangan huruf terkhir‎‏ ‏ ‏ يا غئش ‏
f. Penambahan topic yang dianggap signifikan
Di antara topic –topik yang perlu ditambahkan diantaranya : pembelajaran ‎sisitem fonologi, yang meliputi : a. Makhraj/ keluarnya huruf dari mulut ‎hubunganya dengan harakat, tanwin, maupun tasdid, b. Perbedaan antara huruf ‎layin dan madd, c. Perbedaan hamzah qatha’ dan hamzah washal, d. Perbedaan ‎al syamsiyah dan al Q

%d bloggers like this: