PEMBELAJARAN BAHASA ARAB ‎BERBASIS CROSS CULTURAL UNDERSTANDING

November 21, 2008 at 12:22 pm (Kajian Linguistik & Pengajaran Bahasa, Pengajaran Bahasa)

PENDAHULUAN
Dalam sebuah diskusi mata kuliah review bahan ajar bahasa Arabseorang penyaji ‎mengatakan bahwa “‎التقويم‎” adalah salah bila diartikan kalender, menurutnya yang benar ‎adalah “evaluasi”. Spontan muncul tanggapan dari peserta diskusi dan dosen pembimbing ‎bahwa sesuai budayanya orang Arab biasa menggunakan ‎التقويم‎ untuk maksud kalender ‎selain ‎الرزنامة‎. Ini menunjukkan adanya kurangnya pemahaman seseorang terhadap kultur ‎budaya bahasa yang sedang dipelajari (bahasa Arab). Misalnya lagi seseorang mengatakan ‎عفوا‎ untuk meminta maaf, ini juga kurang sesuai budaya Arab yang orang Arab biasa ‎memakai kata “‎أسيف‎ “. Justru kata “‎أسيف‎ “digunakan untuk arti “kasihan”, padahal yang ‎betul adalah”‎مسكين ‏‎ “ dan banyak lagi contoh lain dari kekurangpemahaman budaya. ‎
Kurangnya pemahaman budaya ini salah satunya mengakibatkan seseorang atau ‎pembelajar terjebak pada struktur/ gramatika bahasa, terutama dalam komunikasi lisan. ‎Apalagi diperparah dengan metode pembelajarannya yang masih konvensional, yaitu ‎berfokus pada penguasaan tata bahasa (qowa’id)‎ ‎. Untuk menghindari kesalahan-‎kesalahan tersebut, diperlukan pemahaman silang budaya antara lain melalui penanaman ‎konteks sosial budaya. Penggunaan konteks sosial budaya ini sebagaimana pembelajar ‎menggunakan konteks budaya bahasa ibu di dalam berkomunikasi, yang meliputi ‎misalnya; siapa?, kepada siapa?, dimana?, kapan ia berbicara? dan lain sebagainya.
Pembelajaran bahasa dengan pendekatan pemahaman silang budaya yang dikenal ‎dengan istilah cross cultural understanding (ccu) di antaranya tercermin pada kekayaan ‎penyajian materi yang sering muncul dalam tataran pragmatis. Materi itu adalah ungkapan-‎ungkapan berupa sapaan, simpati, permintaan, penawaran, permintaan maaf, kemarahan, ‎kesedihan, kesenangan dan lain-lain. Mengingat ungkapan-ungkapan itu sering digunakan ‎dalam berkomunikasi sehari-hari. Selanjutnya ungkapan-ungkapan tersebut diajarkan ‎tidak hanya sebatas pengucapannya saja tetapi disertai dengan pemahaman terhadap ‎fungsi, konteks waktu, tempat dan situasi dimana ungkapan itu dapat digunakan dengan ‎lebih tepat. ‎
Menurut pengalaman Muhbib ketika menjadi penerjemah di Timur Tengah, tidak ‎menemukan ungkapan selamat malam yang biasa diucapkan dengan ‎ليلتك السعيدة‎ atau ‎selamat siang dengan ‎نهارك السعيد‎ oleh pembelajar di Indonesia. Dalam budaya Arab hanya ‎mengenal dua macam waktu yang digunakan untuk menyapa yaitu‏ ‏‎ ‎صباح الخير‎ (selamat ‎pagi) dan ‎مسأالخير‎ (selamat sore), selamat siang masuk pada ‎صباح الخير‎ adapaun selamat ‎malam memakai ‎مسأالخير‎. Menurut hemat penulis pembelajar mengucapkan ‎نهارك السعيد‎ ‎karena kata ini sering disajikan dalam buku ajar bahasa Arab di madrasah. Sedangkan ‎sapaan ‎صباحَ اليسمين ‏‎ dan ‎صباحَ الفول‎ yang populer di Timur Tengah justru tidak ‎diperkenalkan pada pembelajar. ‎
Contoh lain kurangnya pemahaman budaya misalnya kata “‎اهلا وسهلا‎”. Para guru ‎bahasa Arab pada umumnya menerangkan bahwa kata tersebut diucapkan ketika awal ‎pertemuan atau perkenalan sehingga dimaknai “selamat datang”. Padahal kata tersebut ‎sering diucapkan orang Arab dimana saja tidak hanya untuk “selamat datang”, misalnya ‎untuk menjawab telpon dan sebagainya. Pembelajaran bahasa yang hanya terpaku pada ‎cara pengucapan dan arti kosa katanya saja secara berulang-ulang tanpa penjelasaan ‎pemakaian ungkapan yang kasual atau formal dan situasi yang tepat dapat menimbulkan ‎kesalahpahaman. ‎
Selain penyajian materi ungkapan di atas ciri pembelajaran bahasa yang berbasis ‎pemahaman silang budaya adalah diperkaya dengan idiom- idiom, karena idiom ini ‎mempunyai frekuensi muncul yang tinggi dalam teks-teks Arab dan percakapan sehari-‎hari. Kesalahpahaman yang fatal bisa timbul jika pembelajar tidak diajarkan mengenal ‎idiom sejak dini karena pembelajar bahasa akan mengartikannya secara harfiah saja. ‎Padahal makna idiom sendiri sangat jauh dengan makna harfiahnya yang dipengaruhi ‎kultur budaya. Biasanya pembelajar baru mengetahui mengenal idiom setelah duduk di ‎perguruan tinggi. ‎
Akibat dari kurangnya pemahaman silang budaya dari bahasa yang dipelajari di ‎antaranya adalah pembelajar tidak jarang memasukkan budaya bahasa ibu ketika sedang ‎berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut, atau yang biasa diistilahkan dengan ‎peristiwa interferensi ‎ atau kesalahan berbahasa ‎. Misalnya adalah pembelajar ‎mengucapkan kata “‎‏ قديم جدًا‎ “untuk maksud “lama sekali”, padahal dalam budaya Arab ‎yang benar adalah “‎طويلا ً‎ “dan lain-lain. Kultur orang Arab yang tidak sama dengan ‎orang Indonesia yang selalu terbuka dan bicara keras juga sangat mempengaruhi gaya ‎bahasa tersendiri. Untuk itu perlu dilakukan telaah bahasa ‎ yang mampu menghantarkan ‎pencapaian tujuan pembelajaran bahasa untuk dapat digunakan sesuai fungsi bahasa ‎tersebut. ‎
Pada kurikulum yang terbaru ( KTSP 2006), pelajaran Bahasa Arab kini berdiri ‎secara otonom dengan pelajaran pendidikan agama Islam (PAI). Hal ini sesuai yang ‎dirumuskan bahwa pelajaran bahasa Arab adalah sebagaimana pelajaran bahasa asing ‎lainnya, yaitu mengembangkan keterampilan berkomunikasi lisan dan tulisan untuk ‎memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu ‎pengetahuan, teknologi, dan budaya ‎. Karena bahasa Arab sesuai fungsinya sebagai alat ‎untuk menyampaikan dan menyerap gagasan-gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan ‎baik secara lisan maupun tertulis.‎
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai kurikulum terbaru ‎menargetkan pada suatu kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh pembelajar. ‎Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dapat ‎didemonstrasikan, ditunjukkan atau ditampilkan oleh pembelajar sebagai hasil belajar. Di ‎dalam KTSP pemerintah hanya memberikan rambu-rambu standar isi dan standar ‎kelulusan. Adapun dalam standar kelulusan ada dua kompetensi yang diharapkan yaitu ‎standar kompetensi dan kompetensi dasar. Standar ini dipergunakan sebagai acuan dalam ‎mengembangkan kurikulum Bahasa Arab sesuai dengan kebutuhan daerah/Madrasah ‎. ‎
Selanjutnya kurikulum Bahasa Arab di madrasah dipersiapkan untuk pencapaian ‎keterampilan dasar awal berbahasa Arab peserta didik, dengan didukung aspek-aspek ‎kebahasaan seperti: istima’/mendengarkan, kalam/berbicara, qira’ah/membaca dan ‎kitabah/menulis. Untuk pencapaian kompetensi di atas dirancang kegiatan pembelajaran ‎Bahasa Arab dengan tema-tema tentang kegiatan sehari-hari, aqidah dan ibadah ‎. ‎
Melalui KTSP ini peserta didik didorong untuk secara aktif terlibat dalam ‎kegiatan membaca, menulis, mengungkapkan pendapat, membandingkan dan ‎mendiskusikan suatu teks. Juga dimotivasi untuk mempelajari dan mendalami sejumlah ‎literatur yang dapat ditemui sehari-hari, baik berupa media cetak maupun elektronik. ‎Dengan bekal sejumlah pengetahuan tersebut, mereka dapat mempelajari budayanya ‎sendiri dan juga budaya lain. Mereka kemudian dapat menggunakan teks tersebut untuk ‎mempelajari suatu konsep dan berpikir secara kritis mengenai dunia mereka dan komunitas ‎global, meliputi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, ‎psikologi maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Arab, disamping sebagai ‎sarana komunikasi dalam bahasa asing tertentu dengan lingkungan sekitarnya ‎ .‎
Lalu seiring perkembangan teknologi, bahasa Arab diharapkan dapat digunakan ‎pembelajar untuk terampil dalam mengakses informasi dari berbagai sumber yang ‎berbahasa Arab sekaligus mempresentasikan informasi dan gagasan secara sistematis ‎dalam bentuk yang bervariasi, baik secara lisan maupun tulisan, tentang berbagai topik ‎berbahasa Arab ‎. Konsep pembelajaran bahasa Arab ini berimplikasi pada keterampilan ‎pembelajar untuk berkomunikasi ‎, tidak hanya unutk memahami teks-teks keagamaan saja ‎tetapi dapat digunakan sebagai alat untuk berinteraksi sosial dalam situasi yang beragam ‎dan latar belakang budaya yang berbeda.‎
Adapun rambu-rambu yang ditetapkan dalam rumusan KTSP mata pelajaran ‎bahasa Arab adalah (1) Menerapkan pendekatan kompetensi, dengan pola pembelajaran ‎yang dikembangkan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan yaitu; ‎lingkungan keluarga, madrasah, dan masyarakat. (2) Penerapan konsep-konsep ‎pembelajaran Bahasa Arab di madrasah adalah belajar menggunakan bahasa untuk ‎berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, bukan untuk mendalami struktur kalimat itu ‎sendiri. (3) Memanfaatkan teknologi komunikasi ini dapat berupa media cetak dan ‎elektronika. Media cetak meliputi surat kabar, majalah, buku, brosur, dan lain-lain. ‎Sedangkan media elektronika meliputi computer, televise, radio, internet, VCD, CD, dan ‎lain-lain. (4) KTSP/silabus dan RPP yang sudah disusun hanya sebagai model yang masih ‎dapat dikembangkan atau disederhanakan sesuai dengan kondisi masing-masing ‎. ‎
Mencermati perubahan kurikulum di atas maka dilakukan telaah metodologi ‎pembelajaran bahasa Arab yang sesuai dengan tuntutannya yang dilakukan oleh pakar ‎yang berkompeten yang salah satunya adalah menyusun kembali beberapa buku ajar baik ‎secara total maupun sebagian. Reformulasi materi ajar bahasa Arab dilakukan mengingat ‎tema-tema yang ada selama ini yang hanya seputar kegiatan sehari-hari dan tema ‎keIslaman (aqidah dan ibadah) dirasa masih kurang memenuhi standar kurikulum dengan ‎memperhatikan kebutuhan pembelajar ‎. Dan lebih jauh lagi bahwa antara pelajaran bahasa ‎dan pelajaran agama mempunyai ruang garapan yang berbeda ‎. Proses reformulasi materi ‎ajar ini salah satunya menggunakan pendekatan pemahaman silang budaya/ cross cultural ‎understanding yang meliputi empat aspek yaitu; konvensi, konotasi, kondisioning dan ‎komprehensi. Reformulasi materi ajar ini sangat perlu karena menurut Siahaan materi ‎ajar termasuk vareable yang sangat penting, karena guru banyak melakukan pembelajaran ‎hanya mengikuti materi yang tersedia ‎. ‎
Kedudukan dan fungsi bahasa (termasuk bahasa Arab) di dalam struktur budaya ‎adalah sebagai produk sekaligus berperan sebagai akar yang mencarikan bahan-bahan yang ‎diperlukan untuk keperluan proses pertumbuhan dan perkembangan produk-produk ‎budaya tersebut ‎. Untuk itu Wardaugh mengutip pendapat Sapir bahwa seseorang tidak ‎dapat memahami bahasa tanpa mengetahui budayanya, sebaliknya orang tidak dapat ‎memahami budaya suatu masyarakat tanpa memahami bahasanya ‎. Dengan demikian ‎pemahaman terhadap budaya yang melingkupi bahasa yang dipelajari sangat penting agar ‎dapat melakukan komunikasi ‎ secara benar, efektif, bermanfaat untuk menghindari ‎kesalahpahaman. ‎
Dan kesalahan ini akan fatal ketika proses kajian teks-teks keagamaan yang ‎disebabkan karena kurangnya pemahaman budaya. Kasus pengeboman (teroris) menurut ‎asumsi penulis adalah factor dari kurang memahami budaya sebuah teks secara ‎komprehensif. Selain itu pembelajaran kultur dari bahasa target juga dapat menarik minat ‎sekaligus memudahkan pembelajar dalam belajar bahasa Arab yang selama ini pembelajar ‎merasa kesulitan sekaligus menganggap bahasa Arab tidak penting.‎
Dell Hymes (1971) mengkritik kelemahan pendapat Chomsky (1965) tentang ‎competence yang merujuk pada pengetahuan implisit tentang bahasa yang dimiliki penutur ‎jati/ native speaker yang ideal dengan mengutamakan kegramatikalan kalimat sedemikian ‎rupa walaupun tidak baik secara semantis. Menurut Hymes bahwa penggunaan bahasa ‎yang benar secara gramatik saja tidak cukup, tetapi harus memperhatikan norma-norma ‎sosial budaya yang berlaku. Selanjutnya pandangan yang mengatakan bahwa satuan ‎kalimat sebagai satuan tertinggi dalam pembelajaran bahasa sudah tidak relevan, ‎semestinya kalimat-kalimat harus dikuasai dalam kesatuan wacananya.‎
Seiring perjalanan waktu Dell Hymes (1979) merumuskan standar penguasaan ‎seseorang terhadap pembelajaran bahasa dengan apa yang disebut dengan istilah ‎kompetensi komunikatif. Menurutnya ada empat unsur kemampuan atau kompetensi yang ‎harus dimiliki seseorang yang telah dikatakan memiliki kompetensi komunikatif, yaitu ‎kemampuan linguistik, kemampuan sosiolinguistik, kemampuan wacana dan kemampuan ‎strategis ‎. Kemampuan linguistik terkait dengan penguasaan kaedah-kaedah bahasa yang ‎memungkinkan untuk membuat kalimat gramatikal. Kemampuan sosiolinguistik berkenaan ‎dengan mengetahui pemakaian bahasa dan perkembangannya di komunitas ‎masyarakatnya. Kemampuan wacana berhubungan dengan konteks komunikasi, dan ‎kemampuan strategis bersentuhan dengan kemampuan memilih dan menggunakan dalam ‎komunikasi.‎
Cara berbahasa yang baik menurut Savile-Troike, M. (1982) memiliki tiga ‎kompetensi, yaitu pengetahuan tentang bahasa, ketrampilan berinteraksi dengan bahasa ‎dan pengetahuan tentang budaya yang melatari bahasa tersebut ‎. Dengan demikian ‎disimpulkan bahwa komunikator yang baik mesti memiliki keterampilan berbahasa asing ‎dalam konteks budayanya. Dengan kata lain, pembelajar harus diajari keterampilan ‎berbahasa asing dengan pengetahuan dan pengalaman kulturnya. Pendapat ini diperkuat ‎oleh Canale M. bahwa seorang penutur ingin bernegoisasi dengan pilihan kode bahasa ‎secara tepat dalam peristiwa tutur maka ia tidak cukup berkompeten secara gramatikal ‎saja, melainkan juga berkompeten secara analisis wacana dan wacana ‎. ‎
Menurut Farhan untuk mengantisipasi komunikasi global, pembelajar perlu ‎menyertakan dimensi kelima dari bahasa yang secara tradisional, pembelajaran bahasa ‎diartikan sebagai penguasaan empat keterampilan, yaitu menyimak, berbicara, membaca, ‎dan menulis. Dimensi kelima dimaksud adalah pengetahuan budaya dari bahasa yang ‎dipelajari ‎.‎
Widdowson menambahkan bahwa pengajaran bahasa harus lebih menekankan ‎pada keterampilan menggunakan bahasa (language use), bukan pada aturan pemakaiannya ‎‎(language usage). Dengan metode ini diharapkan akan ada keseimbangan antara ‎pengajaran tata bahasa dengan fungsi bahasa ‎. Sehingga Al Wasilah menyimpulkan ‎bahwa ilmu linguistik sekarang telah berkembang kepada cara mempelajari (mengajar) ‎bahasa dan cara berbahasa (berkomunikasi) ‎ ‎. ‎
Pendekatan manapun yang digunakan, hendaknya kurikulum bahasa yang ‎dikembangkan mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kompetensi yang dituntut oleh ‎dunia global saat ini. Pertimbangan tersebut menurut Hamam ialah ‎, pertama ‎keterampilan berinteraksi sosial. Artinya pembelajar dapat berkomunikasi secara lisan dan ‎tertulis dalam situasi yang beragam dengan masyarakat dari latar belakang budaya dan ‎bahasa yang berbeda. Kedua, keterampilan mengakses informasi. Maksudnya, pembelajar ‎memiliki kemahiran dalam memperoleh informasi dari berbagai sumber yang berbeda dan ‎media yang bervariasi serta mampu menggunakannya. Ketiga ,keterampilan presentasi ‎yaitu pembelajar memiliki kemahiran dalam mempresentasikan informasi dan gagasan ‎secara sistematis dalam berbagai bentuk yang bervariasi, baik secara lisan maupun tertulis, ‎tentang berbagai topik. Keempat , kemampuan apresiasi sastra. Pembelajar mengapresiasi ‎sastra lisan dan tulis serta mengembangkan kepekaannya terhadap nilai-nilai budaya yang ‎terkandung dalam karya sastra. Kelima, kemampuan bahasa dan budaya, yaitu pembelajar ‎mengapresiasi karakteristik bahasa dan perbedaan antar bahasa yang dikenal dengan ‎ketrampilan cross-cultural understanding .‎
Sementara itu menurut National Standard in Foreign Language Education (2000) ‎mengemukakan tujuan pendidikan bahasa asing adalah ‎; (1) memiliki kemahiran ‎berkomunikasi dengan bangsa lain, (2) mengetahui dan memahami budaya yang ‎terkandung dalam bahasa asing, (3) mengaitkan pengetahuan bahasa dengan disiplin ilmu ‎lain yang relevan, (4) membandingkan dan mengkontraskan bahasa yang dipelajarinya ‎dengan bahasa lain, dan (5) merangkum keempat kemampuan tersebut, sehingga dia ‎merasa nyaman menjadi warga dunia.‎
Pemahaman silang budaya bermula dari perbandingan beberapa bahasa dalam ‎rangka melihat sisi-sisi kesamaan dan perbedaan dalam hal fonetik, morfologi, sintaksis ‎dan semantik ‎. Selanjutnya dirumuskan metode analisis kontrastif oleh Rober Lado ‎‎(1957) sebagai perbandingan bahasa dalam pembelajaran bahasa yang dituangkan dalam ‎bukunya berjudul “Linguistics A Cross Cultures; Applied Linguistics for Language ‎Teachers (1957)‎ ‎. Analisa ini menunjang dalam pembelajaran bahasa asing dalam aspek ‎budaya melalui pemahaman silang budaya. Dengan menganalisa persamaan dan perbedaan ‎budaya kedua bahasa ( Indonesia dan Arab ) akan mempercepat penguasaan bahasa Arab ‎sekaligus meningkatkan kualitas kemampuan komunikatif. ‎
Urgensi pendekatan cross cultural understanding ini misalnya tampak dalam ‎kasus orang Arab belajar bahasa Indonesia, misalnya mereka sudah memahami materi ‎tentang pasar di Indonesia, namun mereka akan terkejut ketika harus terlibat dalam ‎praktek proses tawar menawar yang terjadi di lapangan yang jauh berbeda dengan budaya ‎Arab. Seorang Inggris misalnya telah membaca keterangan tentang fungsi pertanyaan ‎seperti : “Mau kemana?” “Dari mana?” yang bisa berarti sama dengan sapaan “Hai” di ‎budaya Inggris, tetapi mereka akan merasa terkejut ketika disapa Mau kemana? Dari ‎mana?, sebagaimana mereka merasa sangat risih ketika ditanya “Apa agama anda?” atau ‎‎“Berapa gaji pembantu anda?”. Begitu juga orang Indonesia akan merasa frustrasi juga ‎karena mendapat respon yang kurang menyenangkan ketika menyampaikan suatu perintah ‎dengan menggunakan cara non-verbal atau bahasa isyarat karena cara yang digunakannya ‎adalah sangat tidak sopan. ‎
Mengapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Karena pada dasarnya budaya itu ‎menyangkut keseluruhan cara hidup sekelompok manusia termasuk di dalamnya nilai-‎nilai, cara berpikir, adat istiadat, kebiasaan, agama, dan masih banyak lagi, yang dianut ‎oleh mereka. Tetty mengutip pendapat Kerry (1994) bahwa pengalaman pembelajar dapat ‎membuatnya lebih mengerti dan bersikap lebih toleran dalam berhadapan dengan orang ‎yang latar belakang budayanya berbeda ‎. Hadson menambahkan pembelajar ‎hendaknyanya memahami istilah-istilah yang dipakai dengan menggunakan ilmu ‎antropologi kebudayaan ‎. ‎
Thomas mendefinisikan pemahaman silang budaya sebagai pemahaman tata cara ‎berkomunikasi antara dua orang yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya ‎berbeda ‎. Ada empat aspek yaitu; konvensi, konotasi, kondisioning dan komprehensi ‎yang perlu dipahami seseorang dalam mempelajari bahasa asing agar tidak gagap dalam ‎ranah budaya ‎ ‎. ‎
Materi ajar dalam pendidikan bahasa akan lebih baik bila mampu memacu ‎pembelajar demi tercapainya dimensi performansi, yaitu tema-tema dan perbendaharaan ‎kosa kata yang dapat merangsang kebiasaan para pembelajar dalam kebutuhan untuk ‎memperoleh informasi melalui bacaan, audio (radio), audio visual (televisi) dan lain-lain ‎yang berbahasa Arab. Untuk itu perlu di sediakan kondisi dan terciptanya kesempatan ‎dan kemudahan untuk memahami dan mengakses sumber-sumber informasi tersebut. ‎
Materi pembelajaran yang mendorong tercapainya performansi yang mencakup ‎empat keterampilan berbahasa hendaknya diseleksi dengan memperhatikan karakteristik ‎pembelajar dan lingkungan pembelajar berada. Pemilihan materi pembelajaran hendaknya ‎didasarkan atas prinsip-prinsip perbandingan antara dua budaya. Hamam mengutip Aziz ‎‎(1982) bahwa pemilihan materi disesuaikan dengan usia perkembangan dan tingkat ‎intelektual pembelajar dan dengan alokasi waktu yang tersedia, perlu ada perhentian dan ‎variasi ilustrasi dan contoh, sehingga tampak jelas keuniversalan dan kekokohan teori atau ‎prinsip yang diajarkan ‎.‎
Penelitian ini akan menganalisa secara kritis buku-buku ajar bahasa Arab tingkat ‎madrasah aliyah yang disusun oleh para pakar bahasa Arab sebagai respon dari ‎dirumuskannya kurikulum yang terbaru (KTSP 2006). Sejauh mana buku-buku ajar ‎tersebut dalam penyusunanya menggunakan pendekatan pemahaman silang budaya( cross ‎cultural understanding) yang meliputi empat aspek yaitu; konvensi, konotasi, kondisioning ‎dan komprehensi. ‎

Urgensi CCU dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Telah dikatakan bahwa penguasaan kemampuan komunikasi yang baik tidak ‎hanya tertumpu pada penguasaan linguistik semata tetapi mencakup penguasaan seseorang ‎untuk memilih bentuk bahasa yang sesuai dengan konteks, sehingga diperlukan ‎pemahaman terhadap budaya penutur yang berlaku disamping penguasaan yang baik ‎terhadap budayanya sendiri. Usaha ini yang dinamai pemahaman silang budaya untuk ‎menghindari kekeliruan dan kesalah pahaman. ‎
Pemahaman silang budaya bermula dari perbandingan beberapa bahasa dalam ‎rangka melihat sisi-sisi kesamaan dan perbedaan dalam hal fonetik, morfologi, sintaksis ‎dan semantik ‎. Selanjutnya dirumuskan metode analisis kontrastif oleh Rober Lado ‎‎(1957) sebagai perbandingan bahasa dalam pengajaran bahasa yang dituangkan dalam ‎bukunya berjudul “Linguistics A Cross Cultures; Applied Linguistics for Language ‎Teachers (1957)‎ ‎. Analisa ini menunjang dalam pembelajaran bahasa asing dalam aspek ‎budaya melalui pemahaman silang budaya. Dengan menganalisa persamaan dan perbedaan ‎budaya kedua bahasa ( Indonesia dan Arab ) akan mempercepat penguasaan bahasa Arab ‎sekaligus meningkatkan kualitas kemampuan komunikatif. ‎
Urgensi pendekatan cross cultural understanding ini misalnya tampak dalam ‎kasus orang Arab belajar bahasa Indonesia, misalnya mereka sudah memahami materi ‎tentang pasar di Indonesia, namun mereka akan terkejut ketika harus terlibat dalam ‎praktek proses tawar menawar yang terjadi di lapangan yang jauh berbeda dengan budaya ‎Arab. Seorang Inggris misalnya telah membaca keterangan tentang fungsi pertanyaan ‎seperti : “Mau kemana?” “Dari mana?” yang bisa berarti sama dengan sapaan “Hai” di ‎budaya Inggris, tetapi mereka akan merasa terkejut ketika disapa Mau kemana? Dari ‎mana?, sebagaimana mereka merasa sangat risih ketika ditanya “Apa agama anda?” atau ‎‎“Berapa gaji pembantu anda?”. Begitu juga orang Indonesia akan merasa frustrasi juga ‎karena mendapat respon yang kurang menyenangkan ketika menyampaikan suatu perintah ‎dengan menggunakan cara non-verbal atau bahasa isyarat karena cara yang digunakannya ‎adalah sangat tidak sopan. ‎
Mengapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Karena pada dasarnya budaya itu ‎menyangkut keseluruhan cara hidup sekelompok manusia termasuk di dalamnya nilai-‎nilai, cara berpikir, adat istiadat, kebiasaan, agama, dan masih banyak lagi, yang dianut ‎oleh mereka. Tetty mengutip pendapat Kerry (1994) bahwa pengalaman pembelajar dapat ‎membuatnya lebih mengerti dan bersikap lebih toleran dalam berhadapan dengan orang ‎yang latar belakang budayanya berbeda ‎. Hadson menambahkan pembelajar ‎hendaknyanya memahami istilah-istilah yang dipakai dengan menggunakan ilmu ‎antropologi kebudayaan ‎. ‎
Thomas mendefinisikan pemahaman silang budaya sebagai pemahaman tata cara ‎berkomunikasi antara dua orang yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya ‎berbeda ‎. Ada empat aspek yaitu; konvensi, konotasi, kondisioning dan komprehensi ‎yang perlu dipahami seseorang dalam mempelajari bahasa asing agar tidak gagap dalam ‎ranah budaya ‎ ‎. ‎
Itulah beberapa alasan dari perlunya pembelajaran bahasa Arab berbasis ‎pemahaman silang budaya, diharapkan para siswa dapat mengunakannya untuk alat ‎komunikasi yang lebih baik, benar dan bermanfaat, mengingat menggunakan bahasa asing ‎berarti harus berani hidup dalam dua budaya, yang kadang sama, hampir sama dan ‎terkadang bertolak belakang. Hal ini penting lagi ketika dihadapkan dalam memahami ‎teks teks keagamaan yaitu untuk menghindari salah paham yang berakibat pada dunia dan ‎akherat. Seorang teroris karena salah memahami teks karena tidak memiliki pemahaman ‎silang budaya maka akibatnya mendapatkan hukuman mati dan di akherat belum tentu di ‎ampuni melihat banyaknya korban.‎

Pengorganisasian Pembelajaran dengan Pendekatan CCU
Pelaksanaan pendekatan CCU dalam pembelajaran bahasa Arab akan dijabarkan ‎sebagai berikut ini. ‎
‎1. Materi Pembelajaran‎
Telaah bahasa terfokus pada dua kajian, yaitu kompetensi dan performansi. ‎Konsep kompetensi mengacu pada pengkajian bahasa secara teoritis dan perumusan ‎kaidah yang bersifat deskriptif, sedangkan performansi mengacu kepada aplikasi ‎kaidah tersebut dalam kegiatan komunikasi dan bersifat preskriptif dan normatif. ‎Kajian ihwal performansi di antaranya dilakukan dalam linguistik terapan, yaitu ‎pendidikan bahasa.‎
Materi ajar dalam pendidikan bahasa akan lebih baik bila mampu memacu ‎siswa demi tercapainya dimensi performansi, yaitu tema-tema dan perbendaharaan kosa ‎kata yang dapat merangsang kebiasaan para siswa dalam kebutuhan untuk memperoleh ‎informasi melalui bacaan, audio (radio), audio visual (televisi) dan lain-lain yang ‎berbahasa Arab. Untuk itu perlu di sediakan kondisi dan terciptanya kesempatan dan ‎kemudahan untuk memahami dan mengakses sumber-sumber informasi tersebut. ‎
Materi ajar yang diharapkan dapat mendorong terciptanya keterampilan ‎berbahasa yang substansial yaitu berkomunikasi secara lisan dan tertulis dalam situasi ‎yang beragam dengan masyarakat dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda ‎sebagai kompetensi yang subtansial. Keterampilan mengakses informasi dari berbagai ‎sumber, keterampilan mempresentasikan informasi dan gagasan secara sistematis ‎dalam bentuk yang bervariasi baik secara lisan maupun tertulis tentang berbagai tema. ‎
Karya sastra perlu ditambahkan dalam materi ajar, hal ini bertujuan untuk ‎mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam ‎sebuah bahasa dan ini biasanya tertuang dalam karya sastra, baik cerpen, syair dan lain-‎lain. Selanjutnya apresiasi dapat mengenali lebih jauh karakteristik suatu bahasa dan ‎perbedaan antar bahasa Arab dalam hal ini antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab.‎
‎2. Seleksi dan Pengorganisasian Materi ‎
Materi pembelajaran yang mendorong tercapainya performansi yang ‎mencakup empat keterampilan berbahasa hendaknya diseleksi dengan memperhatikan ‎karakteristik siswa dan lingkungan siswa berada. Pemilihan materi pembelajaran ‎hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip perbandingan antara dua budaya. Hamam ‎mengutip Aziz (1982) bahwa pemilihan materi disesuaikan dengan usia perkembangan ‎dan tingkat intelektual siswa dan dengan alokasi waktu yang tersedia, perlu ada ‎perhentian dan variasi ilustrasi dan contoh, sehingga tampak jelas keuniversalan dan ‎kekokohan teori atau prinsip yang diajarkan ‎.‎
Dalam pengorganisasian materi dibutuhkan sarana prasana yang mendukung ‎penyampaian materi pelajaran berbasisis pendekatan CCU. Karena pembelajaran bahasa ‎Arab berbasisis pendekatan CCU ini meliputi aspek menyimak maka dibutuhkan media ‎audiovisual yang dapat mendukung program tersebut. Juga kebutuhan bahan-bahan ‎bacaan yang bersumber dari negara Arab agar lebih dekat budaya Arab, maka di ‎perpusatakaan hendaknya diperkaya dengan buku-buku/ majalah/ koran Arab atau ‎buku-buku yang membahas budaya Arab yang tentunya sesuai dengan prinsip-prinsip ‎pemilihan materi di atas. Atau dengan mengadakan rihlah/ jalan-jalan ke tempat orang ‎Arab berada, misalnya di konsulat-konsulat, kantor organisasi atau lembaga yang disitu ‎terdapat orang Arab. Menurut penulis hal demikian sekarang sudah banyak dijumpai ‎minimal di ibukota propinsi masing-masing daerah.‎
Untuk suksesnya aplikasi model pembelajaran berbasis pemahaman silang ‎budaya diperlukan pula guru yang memiliki standar budaya sebagai salah satu ‎spesifikasi ideal seorang guru bahasa Arab. Ahmad Sayuthi mengutip Ali Ahmad ‎Madkur memberikan standar guru bahasa Arab yang ideal yaitu ‎: mampu berbahasa ‎Arab, lesan (fasih) dan tulisan dengan baik, memiliki spesialisasi pengajaran bahasa ‎Arab (juga untuk non Arab), mempunyai latar belakang pengetahuan tentang budaya ‎Arab dan Islam. ‎
Adapun standar budaya yang harus dimilki seorang guru menurut Ali Ahmad ‎Madzkur adalah yang penulis simpulkan sebagai berikut ‎; (1) Memahami budaya Arab ‎dan Islam, mengingat bahasa Arab tidak terpisah dari budaya Arab yang ‎melahirkannya, baik yang bersifat umum maupun spesifik. (2) Mampu berkreasi dan ‎membuat kegiatan yang berguna untuk peningkatan pengajaran bahasa Arab. (3) Dapat ‎memahami dan menilai budaya lokal dan membandingkan dengan budaya Arab. (4) ‎Lancar berbahasa lokal dan mampu mengadakan studi kontrastif dengan bahasa Arab ‎baik dalam sisi ungkapan maupun dalam sisi fonetis.‎

‎3. Metode Pembelajaran dengan Pendekatan CCU‎
Secara substansial, kegiatan pembelajaran bahasa sama dengan kegiatan ‎pembelajaran pada umumnya yaitu rangkaian proses mental yang aktif dalam mencari, ‎mengingat, dan menggunakan pengetahuan yang dibuktikan dengan adanya perubahan ‎dalam pengetahuan yang memungkinkan perubahan dalam perilaku. Proses yang ‎terjadi itu, baik yang terlihat mata maupun yang tidak terlihat, mempunyai saluran dan ‎tempatnya sendiri pada struktur otak manusia. ‎
Banyak teori atau pembelajaran bahasa yang dapat diadopsi dan ‎digunakan untuk pembelajaran bahasa asing di sekolah sebagaimana ditulis dalam ‎Council for Educational Development and Research, Namun, sebelum teori-teori itu ‎digunakan, terlebih dahulu harus dijabarkan menjadi strategi-strategi pembelajaran dan ‎teknik-teknik operasional yang dapat dilaksanakan dalam proses belajar-mengajar ‎bahasa. Beberapa teori pembelajaran bahasa dapat disebutkan di sini, misalnya inkuiri, ‎konstruktivisme, diskusi, pengelompokan yang heterogen, pembelajaran kooperatif, ‎pembelajaran bermakna, proyek efikasi, akitivitas kolaboratif, KWL (What I Know, ‎what I Want to Know dan what I Learned) dan engaged learning ‎.‎
Makalah ini tidak akan membahas seluruhnya teori pembelajaran bahasa di ‎atas, namun yang terpenting guru hendaknya menciptakan suasana yang membuat aktif ‎siswa di dalam proses pembelajaran. Satu hal yang terpenting menurut penulis bahwa ‎belajar bahasa asing tidak sama dengan belajar bahasa ibu. Menurut Ahmad Sayuti AN ‎bahwa karakteristik belajar bahasa asing berbeda dengan karakteristik belajar bahasa ‎ibu ‎. Perbedaan ini akan berimplikasi metode yang akan dipakai. Bila anak kecil dalam ‎belajar bahasa ibu cocok dengan metode langsung, ibu sebagai native speaker karena ‎sebelumnya anak belum mempunyai modal apa-apa tentang bahasa. Berbeda dengan ‎orang yang belajar bahasa asing yang sudah tertanam bahasa ibu, maka metode yang ‎paling cocok adalah metode analisis konstrastif.‎
Metode analisis kontrastif ini juga menunjang dalam dalam pembelajaran ‎bahasa dalam aspek budaya. Dengan menganalisa persamaan dan perbedaan budaya ‎kedua bahasa ( Indonesia dan Arab ) akan memercepat penguasaan bahasa Arab dan ‎dapat meningkatkan kemampuan komunikatif dalam aspek kebudayaan yang sangat ‎dibutuhkan dalam dunia komunikasi sebagaimana telah diuraikan di atas. ‎
Metode lain yang dapat membantu dalam pemerolehan kompetensi ‎komunikatif adalah metode analisis wacana. Khususnya dalam pemilihan kata atau ‎penggunaan tindak tutur yang tepat yang juga memerlukan perhatian konteks yang ‎biasa melingkupi terjadinya tindak tutur/ proses komunikasi ‎. Misalnya ketika ‎pembelajar menemukan kesulitan dalam memahami bacaan yang disampaikan secara ‎eksplisit. Selama ini siswa disuruh mencari kata atau frasa, kalimat atau apa saja yang ‎bisa membantu atau yang dalam bahasa Inggris read between the lines ‎. Namun ‎dengan pemahaman silang budaya terutama dengan analisa wacana, siswa akan sangat ‎mudah memahami beberapa teks walaupun penyampaiannya tidak jelas. ‎
Suatu konvensi sosial yang banyak diperhitungkan dalam ‎menginterpretasikan suatu wacana sering tidak banyak diperhatikan dalam pengajaran ‎bahasa. Interpretasi banyak digunakan dalam ketrampilan membaca dan menyimak ‎yang kebetulan dalam bacaaan terdapat pernyataan atau ide atau apa saja yang ditulis ‎atau disampaikan secara eksplisit seperti di atas. Di sinilah peranan pembelajaran silang ‎budaya melalui analisis wacana sangat diperlukan. ‎
Contoh lain yang menjadi alasan pentingnya pembelajaran bahasa Arab ‎melalui analisis wacana adalah; ‎
اشتر جوًال نوكيا 1.11من نقط بيع 2 بالاضافة لضمان لمدى الحياة فى 17 دولة واحصل على سماعة اذن مجانا
‎ Untuk memahami iklan tersebut siswa hendaknya memahami budaya Arab melalui ‎analisis wacana. Untuk itu siswa bisa memakai analisa wacana pada iklan tersebut yang ‎dilakukan orang Arab yaitu dengan memunculkan kembali ingatan tentang HP dan ‎segala sesuatu yang berhubungan dengan HP. Sebagaimana dalam memahami iklan ‎penjualan tanah ini misalnya ; J. Tnh Shm ces/ krd hrg mrh Juanda H:60jt dp2jt 500rb/ ‎bln 8X10jt dp 1,25jt Jl. Kav5mpln H:Syukur 50 t7765453. Iklan tersebut bagi orang ‎Indonesia khususnya Jawa Timur sangat mudah untuk memahaminya, namun akan ‎menjadi persoalan besar bila iklan tersebut disuguhkan kepada orang asing(Arab).‎
Metode lain dalam pembelajaran bahasa Arab yang dapat diaplikasikan ‎dalam pendekatan pemahaman silang budaya adalah metode behaviorisme, metode ‎langsung dan metode audiovisual dengan menyajikan tayangan-tayangan pemakaian ‎bahasa Arab yang riil digunakan di Negara Arab oleh warga Arab dengan latar ‎belakang budaya Arab yang murni. ‎

‎4. Evaluasi‎
Kegiatan penilaian merupakan proses pengendalian mutu pendidikan ‎‎(educational quality control) yang dilakukan secara berkesinambungan pada berbagai ‎tingkat, jenjang, dan satuan pendidikan, baik yang menyangkut proses maupun out put ‎pendidikan. Pengendalian ini diperlukan untuk memperoleh informasi yang berkaitan ‎dengan program pendidikan yang dilaksanakan di tingkat pusat, daerah, dan lembaga ‎pendidikan. Selanjutnya informasi tersebut digunakan sebagai sapu balik (backwash) ‎mengenai kinerja (performance) manajemen pendidikan, kemampuan siswa, kinerja ‎guru, dan efektifitas serta efisiensi proses pendidikan. ‎
Pertimbangan dalam proses penilaian itu adalah, menurut Hamam ‎adalah ‎;1.Siswa diharapkan mampu berkomunikasi, menampilkan kemahirannya, ‎menciptakan suatu karya, dan melakukan sesuatu dengan menggunakan bahasa asing ‎yang dipelajarinya. 2. Selama proses penilaian, hendaknya terjadi interaksi antara guru ‎dan siswa.3. Siswa mengetahui kriteria penilaian yang dibuat guru berkaitan dengan ‎pemenuhan kinerja atau kompetensi kebahasaannya .4. Terdapat sejumlah model dan ‎kesempatan yang dapat digunakan para siswa. 5. Siswa dilibatkan dalam mengevaluasi ‎dirinya sendiri menyangkut performansi kebahasaannya dalam rangka membantu ‎mereka dalam menangani kegiatan pembelajarannya. 6. ‎ Penilaian dilakukan untuk ‎mengetahui kemajuan siswa sepanjang waktu, karena pembelajaran bahasa merupakan ‎proses yang gradual dan memerlukan waktu yang relatif lama. 7. Kegiatan penilaian ‎hendaknya bersifat realistik dengan mengintegrasikan budaya ke dalam bahasa. ‎
Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa kompetensi berbahasa ‎merupakan kompetensi yang berjenjang dan dapat diamati dan dinilai dari performansi ‎berbahasa siswa, dari karyanya, dari penampilannya saat berinteraksi, dan dari ‎kemampuannya mengakses dan menggunakan informasi. Hal ini berimplikasi pada ‎karakteristik bentuk tes yang dapat mengungkapkan kompetensi di atas. Para ahli ‎merumuskan beberapa bentuk tes yang demikian, di antaranya portofolio, tes ‎berdasarkan hasil karya, dan tes melalui suatu proyek yang dikerjakan oleh sekelompok ‎siswa. Di samping itu, tentu saja direkomendasikan tes objektif dan tes uraian selama ‎hal itu selaras dengan kompetensi siswa yang ingin diketahui. ‎
Di samping pertimbangan di atas, penilaian pun dilakukan secara variatif ‎dan berjenjang. Bentuk-bentuk penilaian yang dapat dilakukan di antaranya, (1). ‎penilaian berbasis kelas; (2). penilaian kemampuan dasar; (3). ujian akhir sekolah; (4). ‎ujian akhir nasional; dan (5). pemantauan mutu pendidikan.‎
‎ Pembelajaran bahasa Arab sudah saatnya juga untuk merumuskan evaluasi ‎bertaraf internasional guna kepentingan studi lanjut di dalam maupun luar negeri. ‎Sebagaimana dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah TOEFL, IELT dan lain-lain. ‎Sebagaimana telah diawali UIN Jakarta dan UIN Jogjakarta dengan menyebutnya ‎TOAFL. Evaluasi dalam pembelajaran bahasa Arab yang menggunakan pendekatan ‎CCU dirancang dengan berorientasi pada penguasaan kompetensi berbahasa yang telah ‎distandarkan agar mampu merespon tuntutan global dan lokal yang dihadapi siswa ‎yang memiliki kebutuhan, kemampuan, dan potensi variatif. ‎
PENUTUP
Kesimpulan
‎1.‎ Dalam kurikulum pembelajaran bahasa Arab 2006 atau yang dikenal dengan KTSP ‎peserta didik didorong untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan membaca, menulis, ‎mengungkapkan pendapat, membandingkan dan mendiskusikan suatu teks. Juga ‎dimotivasi untuk mempelajari dan mendalami sejumlah literatur yang dapat ditemui ‎sehari-hari, baik berupa media cetak maupun elektronik. Dengan bekal sejumlah ‎pengetahuan tersebut, mereka dapat mempelajari budayanya sendiri dan juga budaya ‎lain. Mereka kemudian dapat menggunakan teks tersebut untuk mempelajari suatu ‎konsep dan berpikir secara kritis mengenai dunia mereka dan komunitas global, ‎meliputi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, psikologi ‎maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Arab, disamping sebagai sarana ‎komunikasi dalam bahasa asing tertentu dengan lingkungan sekitarnya. Demi tujuan ini ‎maka sangat dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang paling dapat menjawab tujuan ‎di atas, pendekatan itu adalah pemahaman silang budaya atau corss-cultural ‎understanding (CCU).‎
‎2.‎ Dengan pemahaman silang budaya melalui penanaman konteks budaya dengan ‎menyusun materi ajar yang kaya akan ungkapan-ungkapan dan idiom yang berlaku di ‎budaya bahasa sasaran dapat membantu siswa menghasilkan bentuk bahasa yang ‎komunikatif dan tidak terjebak dalam bahasa yang berstruktur dan terkadang terjebak ‎pada budaya bahasa Indonesia yang seringkali menimbulkan kesalahpahaman.‎
‎3.‎ Selanjutnya perlu dipersiapakan guru yang memenuhi standar ideal guru bahasa di ‎antaranya adalah penguasaan budaya guna melaksanakan pembelajaran menggunakan ‎metode yang sesuai dengan pendekatan corss-cultural understanding (CCU) juga ‎media, sarana prasarana, serta evaluasi yang dijiwai oleh semangat pendekatan corss-‎cultural understanding (CCU). ‎
Saran
‎1.‎ Dalam rekonstruksi perlu ada pemahaman tentang teori pembelajaran bahasa asing yang ‎paling mutakhir sesuai dengan beberapa analisa, sehingga kebijakan kurikulum yang ‎dirumuskan dapat menghantarkan pencapaian hasil yang maksimal.‎
‎2.‎ Penentu kebijakan sekolah hendaknya serta merta ikut menyambut gagasan di atas ‎dengan mewujudkan kelengkapan sarana prasarana, membantu peningkatan ‎profesionalitas guru dengan mendukung program-program diklat atau upgrading juga ‎bila perlu membantu program studi banding ke negara Timur Tengah.‎
PEMBELAJARAN BAHASA ARAB ‎
BERBASIS CROSS-CULTURAL UNDERSTANDING (CCU) ‎
PENDAHULUAN
Dalam sebuah diskusi mata kuliah review bahan ajar bahasa Arabseorang penyaji ‎mengatakan bahwa “‎التقويم‎” adalah salah bila diartikan kalender, menurutnya yang benar ‎adalah “evaluasi”. Spontan muncul tanggapan dari peserta diskusi dan dosen pembimbing ‎bahwa sesuai budayanya orang Arab biasa menggunakan ‎التقويم‎ untuk maksud kalender ‎selain ‎الرزنامة‎. Ini menunjukkan adanya kurangnya pemahaman seseorang terhadap kultur ‎budaya bahasa yang sedang dipelajari (bahasa Arab). Misalnya lagi seseorang mengatakan ‎عفوا‎ untuk meminta maaf, ini juga kurang sesuai budaya Arab yang orang Arab biasa ‎memakai kata “‎أسيف‎ “. Justru kata “‎أسيف‎ “digunakan untuk arti “kasihan”, padahal yang ‎betul adalah”‎مسكين ‏‎ “ dan banyak lagi contoh lain dari kekurangpemahaman budaya. ‎
Kurangnya pemahaman budaya ini salah satunya mengakibatkan seseorang atau ‎pembelajar terjebak pada struktur/ gramatika bahasa, terutama dalam komunikasi lisan. ‎Apalagi diperparah dengan metode pembelajarannya yang masih konvensional, yaitu ‎berfokus pada penguasaan tata bahasa (qowa’id)‎ ‎. Untuk menghindari kesalahan-‎kesalahan tersebut, diperlukan pemahaman silang budaya antara lain melalui penanaman ‎konteks sosial budaya. Penggunaan konteks sosial budaya ini sebagaimana pembelajar ‎menggunakan konteks budaya bahasa ibu di dalam berkomunikasi, yang meliputi ‎misalnya; siapa?, kepada siapa?, dimana?, kapan ia berbicara? dan lain sebagainya. ‎
Pembelajaran bahasa dengan pendekatan pemahaman silang budaya yang dikenal ‎dengan istilah cross cultural understanding (ccu) di antaranya tercermin pada kekayaan ‎penyajian materi yang sering muncul dalam tataran pragmatis. Materi itu adalah ungkapan-‎ungkapan berupa sapaan, simpati, permintaan, penawaran, permintaan maaf, kemarahan, ‎kesedihan, kesenangan dan lain-lain. Mengingat ungkapan-ungkapan itu sering digunakan ‎dalam berkomunikasi sehari-hari. Selanjutnya ungkapan-ungkapan tersebut diajarkan ‎tidak hanya sebatas pengucapannya saja tetapi disertai dengan pemahaman terhadap ‎fungsi, konteks waktu, tempat dan situasi dimana ungkapan itu dapat digunakan dengan ‎lebih tepat. ‎
Menurut pengalaman Muhbib ketika menjadi penerjemah di Timur Tengah, tidak ‎menemukan ungkapan selamat malam yang biasa diucapkan dengan ‎ليلتك السعيدة‎ atau ‎selamat siang dengan ‎نهارك السعيد‎ oleh pembelajar di Indonesia. Dalam budaya Arab hanya ‎mengenal dua macam waktu yang digunakan untuk menyapa yaitu‏ ‏‎ ‎صباح الخير‎ (selamat ‎pagi) dan ‎مسأالخير‎ (selamat sore), selamat siang masuk pada ‎صباح الخير‎ adapaun selamat ‎malam memakai ‎مسأالخير‎. Menurut hemat penulis pembelajar mengucapkan ‎نهارك السعيد‎ ‎karena kata ini sering disajikan dalam buku ajar bahasa Arab di madrasah. Sedangkan ‎sapaan ‎صباحَ اليسمين ‏‎ dan ‎صباحَ الفول‎ yang populer di Timur Tengah justru tidak ‎diperkenalkan pada pembelajar. ‎
Contoh lain kurangnya pemahaman budaya misalnya kata “‎اهلا وسهلا‎”. Para guru ‎bahasa Arab pada umumnya menerangkan bahwa kata tersebut diucapkan ketika awal ‎pertemuan atau perkenalan sehingga dimaknai “selamat datang”. Padahal kata tersebut ‎sering diucapkan orang Arab dimana saja tidak hanya untuk “selamat datang”, misalnya ‎untuk menjawab telpon dan sebagainya. Pembelajaran bahasa yang hanya terpaku pada ‎cara pengucapan dan arti kosa katanya saja secara berulang-ulang tanpa penjelasaan ‎pemakaian ungkapan yang kasual atau formal dan situasi yang tepat dapat menimbulkan ‎kesalahpahaman. ‎
Selain penyajian materi ungkapan di atas ciri pembelajaran bahasa yang berbasis ‎pemahaman silang budaya adalah diperkaya dengan idiom- idiom, karena idiom ini ‎mempunyai frekuensi muncul yang tinggi dalam teks-teks Arab dan percakapan sehari-‎hari. Kesalahpahaman yang fatal bisa timbul jika pembelajar tidak diajarkan mengenal ‎idiom sejak dini karena pembelajar bahasa akan mengartikannya secara harfiah saja. ‎Padahal makna idiom sendiri sangat jauh dengan makna harfiahnya yang dipengaruhi ‎kultur budaya. Biasanya pembelajar baru mengetahui mengenal idiom setelah duduk di ‎perguruan tinggi. ‎
Akibat dari kurangnya pemahaman silang budaya dari bahasa yang dipelajari di ‎antaranya adalah pembelajar tidak jarang memasukkan budaya bahasa ibu ketika sedang ‎berkomunikasi dengan bahasa asing tersebut, atau yang biasa diistilahkan dengan ‎peristiwa interferensi ‎ atau kesalahan berbahasa ‎. Misalnya adalah pembelajar ‎mengucapkan kata “‎‏ قديم جدًا‎ “untuk maksud “lama sekali”, padahal dalam budaya Arab ‎yang benar adalah “‎طويلا ً‎ “dan lain-lain. Kultur orang Arab yang tidak sama dengan ‎orang Indonesia yang selalu terbuka dan bicara keras juga sangat mempengaruhi gaya ‎bahasa tersendiri. Untuk itu perlu dilakukan telaah bahasa ‎ yang mampu menghantarkan ‎pencapaian tujuan pembelajaran bahasa untuk dapat digunakan sesuai fungsi bahasa ‎tersebut. ‎
Pada kurikulum yang terbaru ( KTSP 2006), pelajaran Bahasa Arab kini berdiri ‎secara otonom dengan pelajaran pendidikan agama Islam (PAI). Hal ini sesuai yang ‎dirumuskan bahwa pelajaran bahasa Arab adalah sebagaimana pelajaran bahasa asing ‎lainnya, yaitu mengembangkan keterampilan berkomunikasi lisan dan tulisan untuk ‎memahami dan mengungkapkan informasi, pikiran, perasaan serta mengembangkan ilmu ‎pengetahuan, teknologi, dan budaya ‎. Karena bahasa Arab sesuai fungsinya sebagai alat ‎untuk menyampaikan dan menyerap gagasan-gagasan, pikiran, pendapat dan perasaan ‎baik secara lisan maupun tertulis.‎
Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) sebagai kurikulum terbaru ‎menargetkan pada suatu kompetensi yang seharusnya dimiliki oleh pembelajar. ‎Kompetensi diartikan sebagai pengetahuan, sikap dan ketrampilan yang dapat ‎didemonstrasikan, ditunjukkan atau ditampilkan oleh pembelajar sebagai hasil belajar. Di ‎dalam KTSP pemerintah hanya memberikan rambu-rambu standar isi dan standar ‎kelulusan. Adapun dalam standar kelulusan ada dua kompetensi yang diharapkan yaitu ‎standar kompetensi dan kompetensi dasar. Standar ini dipergunakan sebagai acuan dalam ‎mengembangkan kurikulum Bahasa Arab sesuai dengan kebutuhan daerah/Madrasah ‎. ‎
Selanjutnya kurikulum Bahasa Arab di madrasah dipersiapkan untuk pencapaian ‎keterampilan dasar awal berbahasa Arab peserta didik, dengan didukung aspek-aspek ‎kebahasaan seperti: istima’/mendengarkan, kalam/berbicara, qira’ah/membaca dan ‎kitabah/menulis. Untuk pencapaian kompetensi di atas dirancang kegiatan pembelajaran ‎Bahasa Arab dengan tema-tema tentang kegiatan sehari-hari, aqidah dan ibadah ‎. ‎
Melalui KTSP ini peserta didik didorong untuk secara aktif terlibat dalam ‎kegiatan membaca, menulis, mengungkapkan pendapat, membandingkan dan ‎mendiskusikan suatu teks. Juga dimotivasi untuk mempelajari dan mendalami sejumlah ‎literatur yang dapat ditemui sehari-hari, baik berupa media cetak maupun elektronik. ‎Dengan bekal sejumlah pengetahuan tersebut, mereka dapat mempelajari budayanya ‎sendiri dan juga budaya lain. Mereka kemudian dapat menggunakan teks tersebut untuk ‎mempelajari suatu konsep dan berpikir secara kritis mengenai dunia mereka dan komunitas ‎global, meliputi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, ‎psikologi maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Arab, disamping sebagai ‎sarana komunikasi dalam bahasa asing tertentu dengan lingkungan sekitarnya ‎ .‎
Lalu seiring perkembangan teknologi, bahasa Arab diharapkan dapat digunakan ‎pembelajar untuk terampil dalam mengakses informasi dari berbagai sumber yang ‎berbahasa Arab sekaligus mempresentasikan informasi dan gagasan secara sistematis ‎dalam bentuk yang bervariasi, baik secara lisan maupun tulisan, tentang berbagai topik ‎berbahasa Arab ‎. Konsep pembelajaran bahasa Arab ini berimplikasi pada keterampilan ‎pembelajar untuk berkomunikasi ‎, tidak hanya unutk memahami teks-teks keagamaan saja ‎tetapi dapat digunakan sebagai alat untuk berinteraksi sosial dalam situasi yang beragam ‎dan latar belakang budaya yang berbeda.‎
Adapun rambu-rambu yang ditetapkan dalam rumusan KTSP mata pelajaran ‎bahasa Arab adalah (1) Menerapkan pendekatan kompetensi, dengan pola pembelajaran ‎yang dikembangkan menekankan keterpaduan antara tiga lingkungan pendidikan yaitu; ‎lingkungan keluarga, madrasah, dan masyarakat. (2) Penerapan konsep-konsep ‎pembelajaran Bahasa Arab di madrasah adalah belajar menggunakan bahasa untuk ‎berkomunikasi, baik lisan maupun tulisan, bukan untuk mendalami struktur kalimat itu ‎sendiri. (3) Memanfaatkan teknologi komunikasi ini dapat berupa media cetak dan ‎elektronika. Media cetak meliputi surat kabar, majalah, buku, brosur, dan lain-lain. ‎Sedangkan media elektronika meliputi computer, televise, radio, internet, VCD, CD, dan ‎lain-lain. (4) KTSP/silabus dan RPP yang sudah disusun hanya sebagai model yang masih ‎dapat dikembangkan atau disederhanakan sesuai dengan kondisi masing-masing ‎. ‎
Mencermati perubahan kurikulum di atas maka dilakukan telaah metodologi ‎pembelajaran bahasa Arab yang sesuai dengan tuntutannya yang dilakukan oleh pakar ‎yang berkompeten yang salah satunya adalah menyusun kembali beberapa buku ajar baik ‎secara total maupun sebagian. Reformulasi materi ajar bahasa Arab dilakukan mengingat ‎tema-tema yang ada selama ini yang hanya seputar kegiatan sehari-hari dan tema ‎keIslaman (aqidah dan ibadah) dirasa masih kurang memenuhi standar kurikulum dengan ‎memperhatikan kebutuhan pembelajar ‎. Dan lebih jauh lagi bahwa antara pelajaran bahasa ‎dan pelajaran agama mempunyai ruang garapan yang berbeda ‎. Proses reformulasi materi ‎ajar ini salah satunya menggunakan pendekatan pemahaman silang budaya/ cross cultural ‎understanding yang meliputi empat aspek yaitu; konvensi, konotasi, kondisioning dan ‎komprehensi. Reformulasi materi ajar ini sangat perlu karena menurut Siahaan materi ‎ajar termasuk vareable yang sangat penting, karena guru banyak melakukan pembelajaran ‎hanya mengikuti materi yang tersedia ‎. ‎
Kedudukan dan fungsi bahasa (termasuk bahasa Arab) di dalam struktur budaya ‎adalah sebagai produk sekaligus berperan sebagai akar yang mencarikan bahan-bahan yang ‎diperlukan untuk keperluan proses pertumbuhan dan perkembangan produk-produk ‎budaya tersebut ‎. Untuk itu Wardaugh mengutip pendapat Sapir bahwa seseorang tidak ‎dapat memahami bahasa tanpa mengetahui budayanya, sebaliknya orang tidak dapat ‎memahami budaya suatu masyarakat tanpa memahami bahasanya ‎. Dengan demikian ‎pemahaman terhadap budaya yang melingkupi bahasa yang dipelajari sangat penting agar ‎dapat melakukan komunikasi ‎ secara benar, efektif, bermanfaat untuk menghindari ‎kesalahpahaman. ‎
Dan kesalahan ini akan fatal ketika proses kajian teks-teks keagamaan yang ‎disebabkan karena kurangnya pemahaman budaya. Kasus pengeboman (teroris) menurut ‎asumsi penulis adalah factor dari kurang memahami budaya sebuah teks secara ‎komprehensif. Selain itu pembelajaran kultur dari bahasa target juga dapat menarik minat ‎sekaligus memudahkan pembelajar dalam belajar bahasa Arab yang selama ini pembelajar ‎merasa kesulitan sekaligus menganggap bahasa Arab tidak penting.‎
Dell Hymes (1971) mengkritik kelemahan pendapat Chomsky (1965) tentang ‎competence yang merujuk pada pengetahuan implisit tentang bahasa yang dimiliki penutur ‎jati/ native speaker yang ideal dengan mengutamakan kegramatikalan kalimat sedemikian ‎rupa walaupun tidak baik secara semantis. Menurut Hymes bahwa penggunaan bahasa ‎yang benar secara gramatik saja tidak cukup, tetapi harus memperhatikan norma-norma ‎sosial budaya yang berlaku. Selanjutnya pandangan yang mengatakan bahwa satuan ‎kalimat sebagai satuan tertinggi dalam pembelajaran bahasa sudah tidak relevan, ‎semestinya kalimat-kalimat harus dikuasai dalam kesatuan wacananya.‎
Seiring perjalanan waktu Dell Hymes (1979) merumuskan standar penguasaan ‎seseorang terhadap pembelajaran bahasa dengan apa yang disebut dengan istilah ‎kompetensi komunikatif. Menurutnya ada empat unsur kemampuan atau kompetensi yang ‎harus dimiliki seseorang yang telah dikatakan memiliki kompetensi komunikatif, yaitu ‎kemampuan linguistik, kemampuan sosiolinguistik, kemampuan wacana dan kemampuan ‎strategis ‎. Kemampuan linguistik terkait dengan penguasaan kaedah-kaedah bahasa yang ‎memungkinkan untuk membuat kalimat gramatikal. Kemampuan sosiolinguistik berkenaan ‎dengan mengetahui pemakaian bahasa dan perkembangannya di komunitas ‎masyarakatnya. Kemampuan wacana berhubungan dengan konteks komunikasi, dan ‎kemampuan strategis bersentuhan dengan kemampuan memilih dan menggunakan dalam ‎komunikasi.‎
Cara berbahasa yang baik menurut Savile-Troike, M. (1982) memiliki tiga ‎kompetensi, yaitu pengetahuan tentang bahasa, ketrampilan berinteraksi dengan bahasa ‎dan pengetahuan tentang budaya yang melatari bahasa tersebut ‎. Dengan demikian ‎disimpulkan bahwa komunikator yang baik mesti memiliki keterampilan berbahasa asing ‎dalam konteks budayanya. Dengan kata lain, pembelajar harus diajari keterampilan ‎berbahasa asing dengan pengetahuan dan pengalaman kulturnya. Pendapat ini diperkuat ‎oleh Canale M. bahwa seorang penutur ingin bernegoisasi dengan pilihan kode bahasa ‎secara tepat dalam peristiwa tutur maka ia tidak cukup berkompeten secara gramatikal ‎saja, melainkan juga berkompeten secara analisis wacana dan wacana ‎. ‎
Menurut Farhan untuk mengantisipasi komunikasi global, pembelajar perlu ‎menyertakan dimensi kelima dari bahasa yang secara tradisional, pembelajaran bahasa ‎diartikan sebagai penguasaan empat keterampilan, yaitu menyimak, berbicara, membaca, ‎dan menulis. Dimensi kelima dimaksud adalah pengetahuan budaya dari bahasa yang ‎dipelajari ‎.‎
Widdowson menambahkan bahwa pengajaran bahasa harus lebih menekankan ‎pada keterampilan menggunakan bahasa (language use), bukan pada aturan pemakaiannya ‎‎(language usage). Dengan metode ini diharapkan akan ada keseimbangan antara ‎pengajaran tata bahasa dengan fungsi bahasa ‎. Sehingga Al Wasilah menyimpulkan ‎bahwa ilmu linguistik sekarang telah berkembang kepada cara mempelajari (mengajar) ‎bahasa dan cara berbahasa (berkomunikasi) ‎ ‎. ‎
Pendekatan manapun yang digunakan, hendaknya kurikulum bahasa yang ‎dikembangkan mempertimbangkan minat, kebutuhan, dan kompetensi yang dituntut oleh ‎dunia global saat ini. Pertimbangan tersebut menurut Hamam ialah ‎, pertama ‎keterampilan berinteraksi sosial. Artinya pembelajar dapat berkomunikasi secara lisan dan ‎tertulis dalam situasi yang beragam dengan masyarakat dari latar belakang budaya dan ‎bahasa yang berbeda. Kedua, keterampilan mengakses informasi. Maksudnya, pembelajar ‎memiliki kemahiran dalam memperoleh informasi dari berbagai sumber yang berbeda dan ‎media yang bervariasi serta mampu menggunakannya. Ketiga ,keterampilan presentasi ‎yaitu pembelajar memiliki kemahiran dalam mempresentasikan informasi dan gagasan ‎secara sistematis dalam berbagai bentuk yang bervariasi, baik secara lisan maupun tertulis, ‎tentang berbagai topik. Keempat , kemampuan apresiasi sastra. Pembelajar mengapresiasi ‎sastra lisan dan tulis serta mengembangkan kepekaannya terhadap nilai-nilai budaya yang ‎terkandung dalam karya sastra. Kelima, kemampuan bahasa dan budaya, yaitu pembelajar ‎mengapresiasi karakteristik bahasa dan perbedaan antar bahasa yang dikenal dengan ‎ketrampilan cross-cultural understanding .‎
Sementara itu menurut National Standard in Foreign Language Education (2000) ‎mengemukakan tujuan pendidikan bahasa asing adalah ‎; (1) memiliki kemahiran ‎berkomunikasi dengan bangsa lain, (2) mengetahui dan memahami budaya yang ‎terkandung dalam bahasa asing, (3) mengaitkan pengetahuan bahasa dengan disiplin ilmu ‎lain yang relevan, (4) membandingkan dan mengkontraskan bahasa yang dipelajarinya ‎dengan bahasa lain, dan (5) merangkum keempat kemampuan tersebut, sehingga dia ‎merasa nyaman menjadi warga dunia.‎
Pemahaman silang budaya bermula dari perbandingan beberapa bahasa dalam ‎rangka melihat sisi-sisi kesamaan dan perbedaan dalam hal fonetik, morfologi, sintaksis ‎dan semantik ‎. Selanjutnya dirumuskan metode analisis kontrastif oleh Rober Lado ‎‎(1957) sebagai perbandingan bahasa dalam pembelajaran bahasa yang dituangkan dalam ‎bukunya berjudul “Linguistics A Cross Cultures; Applied Linguistics for Language ‎Teachers (1957)‎ ‎. Analisa ini menunjang dalam pembelajaran bahasa asing dalam aspek ‎budaya melalui pemahaman silang budaya. Dengan menganalisa persamaan dan perbedaan ‎budaya kedua bahasa ( Indonesia dan Arab ) akan mempercepat penguasaan bahasa Arab ‎sekaligus meningkatkan kualitas kemampuan komunikatif. ‎
Urgensi pendekatan cross cultural understanding ini misalnya tampak dalam ‎kasus orang Arab belajar bahasa Indonesia, misalnya mereka sudah memahami materi ‎tentang pasar di Indonesia, namun mereka akan terkejut ketika harus terlibat dalam ‎praktek proses tawar menawar yang terjadi di lapangan yang jauh berbeda dengan budaya ‎Arab. Seorang Inggris misalnya telah membaca keterangan tentang fungsi pertanyaan ‎seperti : “Mau kemana?” “Dari mana?” yang bisa berarti sama dengan sapaan “Hai” di ‎budaya Inggris, tetapi mereka akan merasa terkejut ketika disapa Mau kemana? Dari ‎mana?, sebagaimana mereka merasa sangat risih ketika ditanya “Apa agama anda?” atau ‎‎“Berapa gaji pembantu anda?”. Begitu juga orang Indonesia akan merasa frustrasi juga ‎karena mendapat respon yang kurang menyenangkan ketika menyampaikan suatu perintah ‎dengan menggunakan cara non-verbal atau bahasa isyarat karena cara yang digunakannya ‎adalah sangat tidak sopan. ‎
Mengapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Karena pada dasarnya budaya itu ‎menyangkut keseluruhan cara hidup sekelompok manusia termasuk di dalamnya nilai-‎nilai, cara berpikir, adat istiadat, kebiasaan, agama, dan masih banyak lagi, yang dianut ‎oleh mereka. Tetty mengutip pendapat Kerry (1994) bahwa pengalaman pembelajar dapat ‎membuatnya lebih mengerti dan bersikap lebih toleran dalam berhadapan dengan orang ‎yang latar belakang budayanya berbeda ‎. Hadson menambahkan pembelajar ‎hendaknyanya memahami istilah-istilah yang dipakai dengan menggunakan ilmu ‎antropologi kebudayaan ‎. ‎
Thomas mendefinisikan pemahaman silang budaya sebagai pemahaman tata cara ‎berkomunikasi antara dua orang yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya ‎berbeda ‎. Ada empat aspek yaitu; konvensi, konotasi, kondisioning dan komprehensi ‎yang perlu dipahami seseorang dalam mempelajari bahasa asing agar tidak gagap dalam ‎ranah budaya ‎ ‎. ‎
Materi ajar dalam pendidikan bahasa akan lebih baik bila mampu memacu ‎pembelajar demi tercapainya dimensi performansi, yaitu tema-tema dan perbendaharaan ‎kosa kata yang dapat merangsang kebiasaan para pembelajar dalam kebutuhan untuk ‎memperoleh informasi melalui bacaan, audio (radio), audio visual (televisi) dan lain-lain ‎yang berbahasa Arab. Untuk itu perlu di sediakan kondisi dan terciptanya kesempatan ‎dan kemudahan untuk memahami dan mengakses sumber-sumber informasi tersebut. ‎
Materi pembelajaran yang mendorong tercapainya performansi yang mencakup ‎empat keterampilan berbahasa hendaknya diseleksi dengan memperhatikan karakteristik ‎pembelajar dan lingkungan pembelajar berada. Pemilihan materi pembelajaran hendaknya ‎didasarkan atas prinsip-prinsip perbandingan antara dua budaya. Hamam mengutip Aziz ‎‎(1982) bahwa pemilihan materi disesuaikan dengan usia perkembangan dan tingkat ‎intelektual pembelajar dan dengan alokasi waktu yang tersedia, perlu ada perhentian dan ‎variasi ilustrasi dan contoh, sehingga tampak jelas keuniversalan dan kekokohan teori atau ‎prinsip yang diajarkan ‎.‎
Penelitian ini akan menganalisa secara kritis buku-buku ajar bahasa Arab tingkat ‎madrasah aliyah yang disusun oleh para pakar bahasa Arab sebagai respon dari ‎dirumuskannya kurikulum yang terbaru (KTSP 2006). Sejauh mana buku-buku ajar ‎tersebut dalam penyusunanya menggunakan pendekatan pemahaman silang budaya( cross ‎cultural understanding) yang meliputi empat aspek yaitu; konvensi, konotasi, kondisioning ‎dan komprehensi. ‎

Urgensi CCU dalam Pembelajaran Bahasa Arab
Telah dikatakan bahwa penguasaan kemampuan komunikasi yang baik tidak ‎hanya tertumpu pada penguasaan linguistik semata tetapi mencakup penguasaan seseorang ‎untuk memilih bentuk bahasa yang sesuai dengan konteks, sehingga diperlukan ‎pemahaman terhadap budaya penutur yang berlaku disamping penguasaan yang baik ‎terhadap budayanya sendiri. Usaha ini yang dinamai pemahaman silang budaya untuk ‎menghindari kekeliruan dan kesalah pahaman. ‎
Pemahaman silang budaya bermula dari perbandingan beberapa bahasa dalam ‎rangka melihat sisi-sisi kesamaan dan perbedaan dalam hal fonetik, morfologi, sintaksis ‎dan semantik ‎. Selanjutnya dirumuskan metode analisis kontrastif oleh Rober Lado ‎‎(1957) sebagai perbandingan bahasa dalam pengajaran bahasa yang dituangkan dalam ‎bukunya berjudul “Linguistics A Cross Cultures; Applied Linguistics for Language ‎Teachers (1957)‎ ‎. Analisa ini menunjang dalam pembelajaran bahasa asing dalam aspek ‎budaya melalui pemahaman silang budaya. Dengan menganalisa persamaan dan perbedaan ‎budaya kedua bahasa ( Indonesia dan Arab ) akan mempercepat penguasaan bahasa Arab ‎sekaligus meningkatkan kualitas kemampuan komunikatif. ‎
Urgensi pendekatan cross cultural understanding ini misalnya tampak dalam ‎kasus orang Arab belajar bahasa Indonesia, misalnya mereka sudah memahami materi ‎tentang pasar di Indonesia, namun mereka akan terkejut ketika harus terlibat dalam ‎praktek proses tawar menawar yang terjadi di lapangan yang jauh berbeda dengan budaya ‎Arab. Seorang Inggris misalnya telah membaca keterangan tentang fungsi pertanyaan ‎seperti : “Mau kemana?” “Dari mana?” yang bisa berarti sama dengan sapaan “Hai” di ‎budaya Inggris, tetapi mereka akan merasa terkejut ketika disapa Mau kemana? Dari ‎mana?, sebagaimana mereka merasa sangat risih ketika ditanya “Apa agama anda?” atau ‎‎“Berapa gaji pembantu anda?”. Begitu juga orang Indonesia akan merasa frustrasi juga ‎karena mendapat respon yang kurang menyenangkan ketika menyampaikan suatu perintah ‎dengan menggunakan cara non-verbal atau bahasa isyarat karena cara yang digunakannya ‎adalah sangat tidak sopan. ‎
Mengapa hal-hal tersebut bisa terjadi? Karena pada dasarnya budaya itu ‎menyangkut keseluruhan cara hidup sekelompok manusia termasuk di dalamnya nilai-‎nilai, cara berpikir, adat istiadat, kebiasaan, agama, dan masih banyak lagi, yang dianut ‎oleh mereka. Tetty mengutip pendapat Kerry (1994) bahwa pengalaman pembelajar dapat ‎membuatnya lebih mengerti dan bersikap lebih toleran dalam berhadapan dengan orang ‎yang latar belakang budayanya berbeda ‎. Hadson menambahkan pembelajar ‎hendaknyanya memahami istilah-istilah yang dipakai dengan menggunakan ilmu ‎antropologi kebudayaan ‎. ‎
Thomas mendefinisikan pemahaman silang budaya sebagai pemahaman tata cara ‎berkomunikasi antara dua orang yang memiliki latar belakang bahasa dan budaya ‎berbeda ‎. Ada empat aspek yaitu; konvensi, konotasi, kondisioning dan komprehensi ‎yang perlu dipahami seseorang dalam mempelajari bahasa asing agar tidak gagap dalam ‎ranah budaya ‎ ‎. ‎
Itulah beberapa alasan dari perlunya pembelajaran bahasa Arab berbasis ‎pemahaman silang budaya, diharapkan para siswa dapat mengunakannya untuk alat ‎komunikasi yang lebih baik, benar dan bermanfaat, mengingat menggunakan bahasa asing ‎berarti harus berani hidup dalam dua budaya, yang kadang sama, hampir sama dan ‎terkadang bertolak belakang. Hal ini penting lagi ketika dihadapkan dalam memahami ‎teks teks keagamaan yaitu untuk menghindari salah paham yang berakibat pada dunia dan ‎akherat. Seorang teroris karena salah memahami teks karena tidak memiliki pemahaman ‎silang budaya maka akibatnya mendapatkan hukuman mati dan di akherat belum tentu di ‎ampuni melihat banyaknya korban.‎

Pengorganisasian Pembelajaran dengan Pendekatan CCU
Pelaksanaan pendekatan CCU dalam pembelajaran bahasa Arab akan dijabarkan ‎sebagai berikut ini. ‎
‎1. Materi Pembelajaran‎
Telaah bahasa terfokus pada dua kajian, yaitu kompetensi dan performansi. ‎Konsep kompetensi mengacu pada pengkajian bahasa secara teoritis dan perumusan ‎kaidah yang bersifat deskriptif, sedangkan performansi mengacu kepada aplikasi ‎kaidah tersebut dalam kegiatan komunikasi dan bersifat preskriptif dan normatif. ‎Kajian ihwal performansi di antaranya dilakukan dalam linguistik terapan, yaitu ‎pendidikan bahasa.‎
Materi ajar dalam pendidikan bahasa akan lebih baik bila mampu memacu ‎siswa demi tercapainya dimensi performansi, yaitu tema-tema dan perbendaharaan kosa ‎kata yang dapat merangsang kebiasaan para siswa dalam kebutuhan untuk memperoleh ‎informasi melalui bacaan, audio (radio), audio visual (televisi) dan lain-lain yang ‎berbahasa Arab. Untuk itu perlu di sediakan kondisi dan terciptanya kesempatan dan ‎kemudahan untuk memahami dan mengakses sumber-sumber informasi tersebut. ‎
Materi ajar yang diharapkan dapat mendorong terciptanya keterampilan ‎berbahasa yang substansial yaitu berkomunikasi secara lisan dan tertulis dalam situasi ‎yang beragam dengan masyarakat dari latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda ‎sebagai kompetensi yang subtansial. Keterampilan mengakses informasi dari berbagai ‎sumber, keterampilan mempresentasikan informasi dan gagasan secara sistematis ‎dalam bentuk yang bervariasi baik secara lisan maupun tertulis tentang berbagai tema. ‎
Karya sastra perlu ditambahkan dalam materi ajar, hal ini bertujuan untuk ‎mengembangkan kepekaan siswa terhadap nilai-nilai budaya yang terkandung dalam ‎sebuah bahasa dan ini biasanya tertuang dalam karya sastra, baik cerpen, syair dan lain-‎lain. Selanjutnya apresiasi dapat mengenali lebih jauh karakteristik suatu bahasa dan ‎perbedaan antar bahasa Arab dalam hal ini antara bahasa Indonesia dan bahasa Arab.‎
‎2. Seleksi dan Pengorganisasian Materi ‎
Materi pembelajaran yang mendorong tercapainya performansi yang ‎mencakup empat keterampilan berbahasa hendaknya diseleksi dengan memperhatikan ‎karakteristik siswa dan lingkungan siswa berada. Pemilihan materi pembelajaran ‎hendaknya didasarkan atas prinsip-prinsip perbandingan antara dua budaya. Hamam ‎mengutip Aziz (1982) bahwa pemilihan materi disesuaikan dengan usia perkembangan ‎dan tingkat intelektual siswa dan dengan alokasi waktu yang tersedia, perlu ada ‎perhentian dan variasi ilustrasi dan contoh, sehingga tampak jelas keuniversalan dan ‎kekokohan teori atau prinsip yang diajarkan ‎.‎
Dalam pengorganisasian materi dibutuhkan sarana prasana yang mendukung ‎penyampaian materi pelajaran berbasisis pendekatan CCU. Karena pembelajaran bahasa ‎Arab berbasisis pendekatan CCU ini meliputi aspek menyimak maka dibutuhkan media ‎audiovisual yang dapat mendukung program tersebut. Juga kebutuhan bahan-bahan ‎bacaan yang bersumber dari negara Arab agar lebih dekat budaya Arab, maka di ‎perpusatakaan hendaknya diperkaya dengan buku-buku/ majalah/ koran Arab atau ‎buku-buku yang membahas budaya Arab yang tentunya sesuai dengan prinsip-prinsip ‎pemilihan materi di atas. Atau dengan mengadakan rihlah/ jalan-jalan ke tempat orang ‎Arab berada, misalnya di konsulat-konsulat, kantor organisasi atau lembaga yang disitu ‎terdapat orang Arab. Menurut penulis hal demikian sekarang sudah banyak dijumpai ‎minimal di ibukota propinsi masing-masing daerah.‎
Untuk suksesnya aplikasi model pembelajaran berbasis pemahaman silang ‎budaya diperlukan pula guru yang memiliki standar budaya sebagai salah satu ‎spesifikasi ideal seorang guru bahasa Arab. Ahmad Sayuthi mengutip Ali Ahmad ‎Madkur memberikan standar guru bahasa Arab yang ideal yaitu ‎: mampu berbahasa ‎Arab, lesan (fasih) dan tulisan dengan baik, memiliki spesialisasi pengajaran bahasa ‎Arab (juga untuk non Arab), mempunyai latar belakang pengetahuan tentang budaya ‎Arab dan Islam. ‎
Adapun standar budaya yang harus dimilki seorang guru menurut Ali Ahmad ‎Madzkur adalah yang penulis simpulkan sebagai berikut ‎; (1) Memahami budaya Arab ‎dan Islam, mengingat bahasa Arab tidak terpisah dari budaya Arab yang ‎melahirkannya, baik yang bersifat umum maupun spesifik. (2) Mampu berkreasi dan ‎membuat kegiatan yang berguna untuk peningkatan pengajaran bahasa Arab. (3) Dapat ‎memahami dan menilai budaya lokal dan membandingkan dengan budaya Arab. (4) ‎Lancar berbahasa lokal dan mampu mengadakan studi kontrastif dengan bahasa Arab ‎baik dalam sisi ungkapan maupun dalam sisi fonetis.‎

‎3. Metode Pembelajaran dengan Pendekatan CCU‎
Secara substansial, kegiatan pembelajaran bahasa sama dengan kegiatan ‎pembelajaran pada umumnya yaitu rangkaian proses mental yang aktif dalam mencari, ‎mengingat, dan menggunakan pengetahuan yang dibuktikan dengan adanya perubahan ‎dalam pengetahuan yang memungkinkan perubahan dalam perilaku. Proses yang ‎terjadi itu, baik yang terlihat mata maupun yang tidak terlihat, mempunyai saluran dan ‎tempatnya sendiri pada struktur otak manusia. ‎
Banyak teori atau pembelajaran bahasa yang dapat diadopsi dan ‎digunakan untuk pembelajaran bahasa asing di sekolah sebagaimana ditulis dalam ‎Council for Educational Development and Research, Namun, sebelum teori-teori itu ‎digunakan, terlebih dahulu harus dijabarkan menjadi strategi-strategi pembelajaran dan ‎teknik-teknik operasional yang dapat dilaksanakan dalam proses belajar-mengajar ‎bahasa. Beberapa teori pembelajaran bahasa dapat disebutkan di sini, misalnya inkuiri, ‎konstruktivisme, diskusi, pengelompokan yang heterogen, pembelajaran kooperatif, ‎pembelajaran bermakna, proyek efikasi, akitivitas kolaboratif, KWL (What I Know, ‎what I Want to Know dan what I Learned) dan engaged learning ‎.‎
Makalah ini tidak akan membahas seluruhnya teori pembelajaran bahasa di ‎atas, namun yang terpenting guru hendaknya menciptakan suasana yang membuat aktif ‎siswa di dalam proses pembelajaran. Satu hal yang terpenting menurut penulis bahwa ‎belajar bahasa asing tidak sama dengan belajar bahasa ibu. Menurut Ahmad Sayuti AN ‎bahwa karakteristik belajar bahasa asing berbeda dengan karakteristik belajar bahasa ‎ibu ‎. Perbedaan ini akan berimplikasi metode yang akan dipakai. Bila anak kecil dalam ‎belajar bahasa ibu cocok dengan metode langsung, ibu sebagai native speaker karena ‎sebelumnya anak belum mempunyai modal apa-apa tentang bahasa. Berbeda dengan ‎orang yang belajar bahasa asing yang sudah tertanam bahasa ibu, maka metode yang ‎paling cocok adalah metode analisis konstrastif.‎
Metode analisis kontrastif ini juga menunjang dalam dalam pembelajaran ‎bahasa dalam aspek budaya. Dengan menganalisa persamaan dan perbedaan budaya ‎kedua bahasa ( Indonesia dan Arab ) akan memercepat penguasaan bahasa Arab dan ‎dapat meningkatkan kemampuan komunikatif dalam aspek kebudayaan yang sangat ‎dibutuhkan dalam dunia komunikasi sebagaimana telah diuraikan di atas. ‎
Metode lain yang dapat membantu dalam pemerolehan kompetensi ‎komunikatif adalah metode analisis wacana. Khususnya dalam pemilihan kata atau ‎penggunaan tindak tutur yang tepat yang juga memerlukan perhatian konteks yang ‎biasa melingkupi terjadinya tindak tutur/ proses komunikasi ‎. Misalnya ketika ‎pembelajar menemukan kesulitan dalam memahami bacaan yang disampaikan secara ‎eksplisit. Selama ini siswa disuruh mencari kata atau frasa, kalimat atau apa saja yang ‎bisa membantu atau yang dalam bahasa Inggris read between the lines ‎. Namun ‎dengan pemahaman silang budaya terutama dengan analisa wacana, siswa akan sangat ‎mudah memahami beberapa teks walaupun penyampaiannya tidak jelas. ‎
Suatu konvensi sosial yang banyak diperhitungkan dalam ‎menginterpretasikan suatu wacana sering tidak banyak diperhatikan dalam pengajaran ‎bahasa. Interpretasi banyak digunakan dalam ketrampilan membaca dan menyimak ‎yang kebetulan dalam bacaaan terdapat pernyataan atau ide atau apa saja yang ditulis ‎atau disampaikan secara eksplisit seperti di atas. Di sinilah peranan pembelajaran silang ‎budaya melalui analisis wacana sangat diperlukan. ‎
Contoh lain yang menjadi alasan pentingnya pembelajaran bahasa Arab ‎melalui analisis wacana adalah; ‎
اشتر جوًال نوكيا 1.11من نقط بيع 2 بالاضافة لضمان لمدى الحياة فى 17 دولة واحصل على سماعة اذن مجانا
‎ Untuk memahami iklan tersebut siswa hendaknya memahami budaya Arab melalui ‎analisis wacana. Untuk itu siswa bisa memakai analisa wacana pada iklan tersebut yang ‎dilakukan orang Arab yaitu dengan memunculkan kembali ingatan tentang HP dan ‎segala sesuatu yang berhubungan dengan HP. Sebagaimana dalam memahami iklan ‎penjualan tanah ini misalnya ; J. Tnh Shm ces/ krd hrg mrh Juanda H:60jt dp2jt 500rb/ ‎bln 8X10jt dp 1,25jt Jl. Kav5mpln H:Syukur 50 t7765453. Iklan tersebut bagi orang ‎Indonesia khususnya Jawa Timur sangat mudah untuk memahaminya, namun akan ‎menjadi persoalan besar bila iklan tersebut disuguhkan kepada orang asing(Arab).‎
Metode lain dalam pembelajaran bahasa Arab yang dapat diaplikasikan ‎dalam pendekatan pemahaman silang budaya adalah metode behaviorisme, metode ‎langsung dan metode audiovisual dengan menyajikan tayangan-tayangan pemakaian ‎bahasa Arab yang riil digunakan di Negara Arab oleh warga Arab dengan latar ‎belakang budaya Arab yang murni. ‎

‎4. Evaluasi‎
Kegiatan penilaian merupakan proses pengendalian mutu pendidikan ‎‎(educational quality control) yang dilakukan secara berkesinambungan pada berbagai ‎tingkat, jenjang, dan satuan pendidikan, baik yang menyangkut proses maupun out put ‎pendidikan. Pengendalian ini diperlukan untuk memperoleh informasi yang berkaitan ‎dengan program pendidikan yang dilaksanakan di tingkat pusat, daerah, dan lembaga ‎pendidikan. Selanjutnya informasi tersebut digunakan sebagai sapu balik (backwash) ‎mengenai kinerja (performance) manajemen pendidikan, kemampuan siswa, kinerja ‎guru, dan efektifitas serta efisiensi proses pendidikan. ‎
Pertimbangan dalam proses penilaian itu adalah, menurut Hamam ‎adalah ‎;1.Siswa diharapkan mampu berkomunikasi, menampilkan kemahirannya, ‎menciptakan suatu karya, dan melakukan sesuatu dengan menggunakan bahasa asing ‎yang dipelajarinya. 2. Selama proses penilaian, hendaknya terjadi interaksi antara guru ‎dan siswa.3. Siswa mengetahui kriteria penilaian yang dibuat guru berkaitan dengan ‎pemenuhan kinerja atau kompetensi kebahasaannya .4. Terdapat sejumlah model dan ‎kesempatan yang dapat digunakan para siswa. 5. Siswa dilibatkan dalam mengevaluasi ‎dirinya sendiri menyangkut performansi kebahasaannya dalam rangka membantu ‎mereka dalam menangani kegiatan pembelajarannya. 6. ‎ Penilaian dilakukan untuk ‎mengetahui kemajuan siswa sepanjang waktu, karena pembelajaran bahasa merupakan ‎proses yang gradual dan memerlukan waktu yang relatif lama. 7. Kegiatan penilaian ‎hendaknya bersifat realistik dengan mengintegrasikan budaya ke dalam bahasa. ‎
Yang perlu ditekankan di sini adalah bahwa kompetensi berbahasa ‎merupakan kompetensi yang berjenjang dan dapat diamati dan dinilai dari performansi ‎berbahasa siswa, dari karyanya, dari penampilannya saat berinteraksi, dan dari ‎kemampuannya mengakses dan menggunakan informasi. Hal ini berimplikasi pada ‎karakteristik bentuk tes yang dapat mengungkapkan kompetensi di atas. Para ahli ‎merumuskan beberapa bentuk tes yang demikian, di antaranya portofolio, tes ‎berdasarkan hasil karya, dan tes melalui suatu proyek yang dikerjakan oleh sekelompok ‎siswa. Di samping itu, tentu saja direkomendasikan tes objektif dan tes uraian selama ‎hal itu selaras dengan kompetensi siswa yang ingin diketahui. ‎
Di samping pertimbangan di atas, penilaian pun dilakukan secara variatif ‎dan berjenjang. Bentuk-bentuk penilaian yang dapat dilakukan di antaranya, (1). ‎penilaian berbasis kelas; (2). penilaian kemampuan dasar; (3). ujian akhir sekolah; (4). ‎ujian akhir nasional; dan (5). pemantauan mutu pendidikan.‎
‎ Pembelajaran bahasa Arab sudah saatnya juga untuk merumuskan evaluasi ‎bertaraf internasional guna kepentingan studi lanjut di dalam maupun luar negeri. ‎Sebagaimana dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah TOEFL, IELT dan lain-lain. ‎Sebagaimana telah diawali UIN Jakarta dan UIN Jogjakarta dengan menyebutnya ‎TOAFL. Evaluasi dalam pembelajaran bahasa Arab yang menggunakan pendekatan ‎CCU dirancang dengan berorientasi pada penguasaan kompetensi berbahasa yang telah ‎distandarkan agar mampu merespon tuntutan global dan lokal yang dihadapi siswa ‎yang memiliki kebutuhan, kemampuan, dan potensi variatif. ‎
PENUTUP
Kesimpulan
‎4.‎ Dalam kurikulum pembelajaran bahasa Arab 2006 atau yang dikenal dengan KTSP ‎peserta didik didorong untuk secara aktif terlibat dalam kegiatan membaca, menulis, ‎mengungkapkan pendapat, membandingkan dan mendiskusikan suatu teks. Juga ‎dimotivasi untuk mempelajari dan mendalami sejumlah literatur yang dapat ditemui ‎sehari-hari, baik berupa media cetak maupun elektronik. Dengan bekal sejumlah ‎pengetahuan tersebut, mereka dapat mempelajari budayanya sendiri dan juga budaya ‎lain. Mereka kemudian dapat menggunakan teks tersebut untuk mempelajari suatu ‎konsep dan berpikir secara kritis mengenai dunia mereka dan komunitas global, ‎meliputi ilmu pengetahuan baik di bidang teknik, ilmu-ilmu murni, ekonomi, psikologi ‎maupun seni bersumber dari buku-buku berbahasa Arab, disamping sebagai sarana ‎komunikasi dalam bahasa asing tertentu dengan lingkungan sekitarnya. Demi tujuan ini ‎maka sangat dibutuhkan pendekatan pembelajaran yang paling dapat menjawab tujuan ‎di atas, pendekatan itu adalah pemahaman silang budaya atau corss-cultural ‎understanding (CCU).‎
‎5.‎ Dengan pemahaman silang budaya melalui penanaman konteks budaya dengan ‎menyusun materi ajar yang kaya akan ungkapan-ungkapan dan idiom yang berlaku di ‎budaya bahasa sasaran dapat membantu siswa menghasilkan bentuk bahasa yang ‎komunikatif dan tidak terjebak dalam bahasa yang berstruktur dan terkadang terjebak ‎pada budaya bahasa Indonesia yang seringkali menimbulkan kesalahpahaman.‎
‎6.‎ Selanjutnya perlu dipersiapakan guru yang memenuhi standar ideal guru bahasa di ‎antaranya adalah penguasaan budaya guna melaksanakan pembelajaran menggunakan ‎metode yang sesuai dengan pendekatan corss-cultural understanding (CCU) juga ‎media, sarana prasarana, serta evaluasi yang dijiwai oleh semangat pendekatan corss-‎cultural understanding (CCU). ‎
Saran
‎3.‎ Dalam rekonstruksi perlu ada pemahaman tentang teori pembelajaran bahasa asing yang ‎paling mutakhir sesuai dengan beberapa analisa, sehingga kebijakan kurikulum yang ‎dirumuskan dapat menghantarkan pencapaian hasil yang maksimal.‎
‎4.‎ Penentu kebijakan sekolah hendaknya serta merta ikut menyambut gagasan di atas ‎dengan mewujudkan kelengkapan sarana prasarana, membantu peningkatan ‎profesionalitas guru dengan mendukung program-program diklat atau upgrading juga ‎bila perlu membantu program studi banding ke negara Timur Tengah.‎

DAFTAR PUSTAKA
Al Wasilah, Chaedar, Filsafat Bahasa dan Pendidikan, (Bandung: Rosda Karya, 2008)‎
Depag RI, Standar Nasional Pendidikan, Standar Isis dan Standar Kompetensi Lulusan ‎Tingkat MTs, Mata Pelajaran Bahasa Arab, ( Jakarta: Depag RI, 2006) ‎
Effendi, Ahmad Fuad, Metodologi Pengajaran Bahasa Arab, (Malang: Misykat, 2005) ‎cet.3,‎
Ellis, Rod, The Study of Second Language Acquisition, (Oxford : Oxford University ‎Press, 1994)‎
Farhan, Muhammad, Hubungan antara Penguasaam Silang Budaya dan Kemampuan ‎Komunikatif, ( Jakarta: Jurnal Al Turas, vol. 13, No.1 Januari 2007)‎
Hadley, Alice Ommagio, Teaching Language in Context, (Boston:Heile and Heile ‎Publisher, 1993)‎
Hadson, Ilmu al Lughah al Ijtima’i, (Bagdad :Silsilah al Mi’ah, 1987)‎
Hamam, Model Kurikulum Bahasa Asing Masa Depan, diakses dari internet pada tanggal ‎‎20 Oktober 2008 (http://www.Hamam Malang.mht)‎
Huda, Nuril , Language Learning and Teaching, (Malang:IKIP Malang Publisher, 1999)‎
Hutchinshon, Tom dan Waters, Alan, English for SpecificPurposes, (Cambridge: ‎Cambridge University Press, 1987)‎
Hymes, D.H. “On Communicative Competence,”Approach to Language Teaching, ed. ‎C.J. Brumfit dan K.Johnson. (Oxford: Oxford University Press, 1979)‎
J. Richards, dan Rodgers, T., Approaches and Methodes in Language Teaching, ‎‎(Cambridge: Cambridge University, 1986)‎
Keraf, Gorys, Linguistik Bandingan Tipologis, (Jakarta: Gramedia, 1990)‎
Nababan dan Subyakto, Sri Utari, Metodologi Pembelajaran Bahasa, (Jakarta: Gramedia, ‎‎1993)‎
National Standard in Foreign Language Education, 2000:2)‎
Nasution, Ahmad Sayuti Anshari, Pengajaran Bahasa Asing Antara Guru Dalam Negeri ‎dan Guru Asing, (Jakarta: Jurnal Afaq ‘Arabiyyah, vol.1, no.1, 2006)‎
Wardaugh, Ronald, An Introduction to Sosiolingustics, ( Oxford: Basil Blackwell, 1986)‎
Royani, Ahmad, Analisis Wacana dalam Pengajaran Bahasa Arab, (Jakarta: Majalah Afaq ‎‎‘Arabiyyah, vol.1, no.1, 2006)‎
Sanga, Felysianus, Analisis Konstastif Mengatasi Kesulitan Guru Bahasa di propinsi ‎Nusa Tenggara Timur, ( Nusa Tenggara : LINGUISTIKA Vol. 15, No. 28, ‎Maret 2008 )‎
Simanjuntak, Tetty, Kemasan Muatan Budaya dalam Materi Pelajaran Bahasa Indonesia ‎di IALF Jakarta, http://www. ialf.edu/bipa/march2002 /kemasan.html
Shinni, Mahmud Isma’il , Al-Taqabul al-Lughawi wa Tahlil al-Akhtha, bag I ( Riyadh: ‎Jami’ah al Riyadh, 1979) ‎
Sunarya, Adi, Bahasa di Dalam Strategi Kebudayaan” (Jakarta: Majalah Kebudayaan ‎Depdikbud, No.5 tahun III 1993/1994)‎
Tarigan, Henry Guntur dan Tarigan, Djago, Pengajaran Analisis Kesalahan Berbahasa, ‎‎(Bandung: Angkasa, 1988) ‎
Tim Peniliti UNNES, Pengembangan Materi Ajar dan Model Pembelajaran Bahasa Jawa ‎Berbasis Sosio Kultural, (Semarang: UNNES belum diterbitkan, 2007)‎
Thomas, Jenny, “Cross-Cultural Pragmatic Failure” Applied Linguistic, vol. 3( 1983)‎

1 Comment

  1. miftahulanwarma said,

    Bisa diperkaya dengan referensi berbahasa Arab, maaf masih proses

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: